Dipelukan Alpiah Makasebape Ade Irma Suryani Menghembuskan Napas Terakhirnya

Subhan Sabu, Okezone · Rabu 30 September 2020 14:45 WIB
https: img.okezone.com content 2020 09 30 337 2286183 dipelukan-alpiah-makasebape-ade-irma-suryani-menghembuskan-napas-terakhirnya-eGInpJ9UFR.jpg Foto: Okezone

TAHUNA – Hari ini tepat 55 tahun silam menjadi hari bersejarah yang tidak akan pernah dilupakan oleh Alpiah Makasebape (83). Oma Tintang, begitu orang biasa memanggilnya.

Di usianya yang sepuh, Oma Tintang masih mengingat dengan jelas peristiwa G30SPKI dan detik-detik meninggalnya Ade Irma Suryani Nasution dalam dekapannya setelah dirawat akibat tertembak pasukan Tjakrabirawa saat mendatangi rumah Jenderal Abdul Haris Nasution di Jalan Teuku Umar 40, Menteng, Jakarta Pusat.

ist

dok: pribadi

(Baca juga: Saksi Kekejaman PKI, Alpiah Makasebape Perawat Ade Irma Suryani saat Ditembak Tjakrabirawa)

Saksi hidup sejarah kelam keganasan Gerakan 30 September atau yang lebih dikenal dengan sebutan G30S/PKI itu menjadi cerita lama yang hingga sekarang membuat wanita tua asal Kabupaten Kepulauan Sangihe, Provinsi Sulawesi Utara itu mengalami trauma yang mendalam.

Meski sudah uzur, wanita tua yang saat ini menetap di Kelurahan Dumuhung Kecamatan Tahuna Timur itu masih mengingat dengan jelas kejadian naas tersebut. Oma Tintang juga turut dipanggil oleh tim forensik untuk mengenali mayat Kapten Pierre Tendean usai dikeluarkan dari Lubang Buaya.

Perjalanan Oma Tintang sehingga menjadi pengasuh Ade Irma Suryani Nasution cukup panjang. Lahir di Tamako, 25 Desember 1936, di usia muda dia meninggalkan pekerjaannya sebagai perawat di Rumah Sakit Umum Liun Kendage, Tahuna dan memilih merantau meninggalkan kampung halaman.

Sebelum merantau ke Jakarta, Oma Tintang sempat menetap di Tahuna, Manado dan Makassar. Di Jakarta dia bergabung dengan Yayasan Tilaar yang menampung serta menyalurkan tenaga-tenaga perawat handal.

(Baca juga: Kisah Mistis di Kamar Jenderal Ahmad Yani, Ada Oknum Menebar Melati dan Sesajen)

Setelah Ade Irma lahir 19 Februari 1960, selang dua minggu kemudian istri Nasution, Johana Sunarti Nasution datang ke Yayasan Tilaar untuk mencari calon pengasuh buat Ade Irma. Terpilihlah Oma Tintang yang saat itu masih sangat muda.

"Saya sendiri tidak percaya karena dari sekian banyaknya perawat rumahan, saya yang tidak terlalu lancar berbahasa Indonesia yang akhirnya dipercayai menjadi pengasuh Ade Irma," ujar Oma Tintang, Rabu (30/9/2020).

Namun keraguan itu perlahan sirna melihat kebaikan hati Johana, serta jiwa mengayomi dari Jenderal Nasution saat dia mulai bertugas, membuat kepercayaan dirinya muncul. Dia pun menjadi sangat akrab dengan Keluarga Nasution, termasuk puteri pertama mereka, Hendrianti Sahara dan Lettu Czi Pierre Andries Tendean, ajudan Nasution.

“Saya merasa bangga karena bisa menjaga anak perempuan yang sudah saya dianggap sebagai putri sendiri,” kata dia

Oma Tintang mengakui bahwa sebenarnya nama Ade tidak ada, nama Ade merupakan panggilan kesayangan pemberiannya kepada Irma Suryani Nasution

Dia juga mengakui sebelum Ade Irma meninggal, ia sudah mendapati ada firasat buruk kepada putri bungsu sang jenderal. Kadang suka menangis tanpa sebab dan juga tidak suka makan.

Usai kejadian penculikan, dia sempat membawa Ade Irma ke rumah sakit. Namun dalam perjalanan ia mengaku turun dari mobil untuk melaporkan kejadian naas itu. Dia kemudian pergi ke markas Marinir untuk melaporkan kejadian yang terjadi di rumah Jenderal Nasution.

Tahun 1969 dia memilih pulang ke kampung halamannya. Komunikasi dengan keluarga Nasution masih tetap terjaga. Kenang-kenangannya berupa foto bersama keluarga Nasution masih tersimpan rapi. Begitu juga dengan kalung milik almarhumah Ade Irma yang diberikan kepadanya masih tersimpan dengan baik sampai sekarang.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini