Istri ke Jenderal Nasution: Kamu Sewaktu-Waktu Pasti Mau Dibunuh, Hati-Hati

Arie Dwi Satrio, Okezone · Rabu 30 September 2020 10:52 WIB
https: img.okezone.com content 2020 09 30 337 2286011 istri-ke-jenderal-nasution-kamu-sewaktu-waktu-pasti-mau-dibunuh-hati-hati-Y7U3OJfo8A.jpg foto: wikipedia

JAKARTA - Ada petuah mengatakan bahwa firasat istri sangat tajam terhadap suami. Mungkin, itu salah satu petuah yang tepat ketika menggambarkan suasana malam 30 September 1965 di Teuku Umar Nomor 40, Menteng, Jakarta Pusat. Teuku Umar 40 sendiri merupakan kediaman Menko Hankam/Kepala Staf Angkatan Bersenjata (Kasab) Jenderal Abdul Haris Nasution.

(Baca juga: Tayangan Film G30S/PKI, Putri Jenderal Nasution: Kejadian Asli Sangat Menakutkan!)

Sebelum malam berdarah 30 September terjadi, istri Nasution, Johanna Sunarti sempat punya firasat bahwa suaminya sedang diincar untuk dibunuh. Firasat itu pun sudah dibicarakan Sunarti ke Nasution sebelum terjadinya Gerakan 30 September atau G30S/PKI.

"Kamu sewaktu-waktu pasti mau dibunuh, jadi hati-hati," ucap Sunarti ke Nasution ditirukan putri sulungnya, Hendrianti Saharah Nasution, saat berbincang dengan Okezone. "Ibu saya tuh jadi kayanya udah punya perasaan kaya gitu," imbuh Yanti, sapaan akrab Hendrianti kepada Okezone belum lama ini.

Firasat Sunarti benar saja adanya. Pada 1 Oktober 1965, sekira pukul 03.30 WIB pagi, segerombolan orang yang disebut-sebut pasukan Tjakrabirawa datang ke kediaman Nasution. Mereka datang mencari Nasution untuk kemudian dibunuh.

"Itu yang mau bunuh kamu dateng," ujar Sunarti kepada Nasution, sambil mengamati gerak-gerik pasukan Tjakrabirawa lewat sela-sela pintu kamarnya.

(Baca juga: Kisah Mistis di Kamar Jenderal Ahmad Yani, Ada Oknum Menebar Melati dan Sesajen)

Mendengar apa yang dikatakan istrinya, Jenderal Nasution merasa tertantang. Ia bersiap keluar kamar untuk menemui orang-orang yang akan membunuhnya. Sunarti melarang. Ia ingin agar Pak Nas -sapaan Nasution- tetap di kamar.

Pasukan tersebut mulai menggedor-gedor pintu rumah menggunakan senjatanya. Sunarti meminta agar Nasution menyelamatkan diri. Sebab, Sunarti yakin bahwa yang dicari pasukan tersebut hanya Nasution. "Sudah Nas kamu selamatkan diri, kamu yang dicari," ucap Sunarti ditirukan Yanti.

Sunarti cukup lama meyakinkan Nasution. Sebab, Nasution tak ingin sembunyi sendiri. Pak Nas khawatir dengan istri dan anak-anaknya. Apalagi, dia kepala keluarga yang seharusnya paling bertanggung jawab menjaga keluarganya.

Namun, ucapan Sunarti dapat meyakinkan Nasution. Sunarti memastikan kepada suaminya bahwa ia dan anak-anaknya akan baik-baik saja. "Sudah kamu jangan pikirkan (anak-anak), ini saya yang jaga, kamu selamatkan diri," tutur Sunarti meyakinkan Nasution saat ragu-ragu ketika ingin bersembunyi.

Firasat Sunarti jadi salah satu penyelamat Nasution dari maut. Nasution berhasil lolos dari upaya pembunuhan para pasukan Tjakrabirawa. Pak Nas lolos dari maut dengan bersembunyi di belakang tong kosong yang ada di pekarangan Kedubes Irak, samping rumahnya.

Namun sayang, kejadian malam itu justru merenggut nyawa anak Nasution, Ade Irma Suryani, dan salah satu ajudannya Kapten Pierre Tendean. Adr Irma Suryani meninggal karena tertembus tiga peluru tajam Tjakrabirawa. Ia meninggal setelah dirawat selama enam hari di RSPAD Gatot Subroto.

Sedangkan Kapten Pierre Tendean meninggal dunia diduga ditembak oleh pasukan G30S. Mayat Kapten Tendean kemudian dibuang ke sumur tua di daerah Lubang Buaya, bersama enam jenderal korban kekejaman G30S lainnya. Pierre Tendean merupakan korban salah sasaran karena dianggap gerombolan pasukan G30S adalah Jenderal AH Nasution.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini