Kemenkes: 88 dari 100 Ribu Orang Indonesia Meninggal karena Rokok

Riezky Maulana, iNews · Senin 28 September 2020 13:29 WIB
https: img.okezone.com content 2020 09 28 337 2284834 kemenkes-88-dari-100-ribu-orang-indonesia-meninggal-karena-rokok-kv2Xyug2no.jpg Ilustrasi (Foto: Dokumentasi Okezone)

JAKARTA - Hasil kajian dari Institute for Health Metrics and Evaluation University of Washington, Amerika Serikat menyebut rata-rata 88 dari 100 ribu orang Indonesia meninggal dikarenakan mengkonsumsi rokok. Dimana Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta menjadi daerah tertinggi.

Data tersebut disampaikan oleh Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (PKementerian Kesehatan (Kemenkes) Cut Putri Ariane dalam webinar bertajuk Faktor Resiko Pengurangan Hasil Risiko Pengolahan Tembakau Lainnya untuk Penerapan di Indonesia yang dilaksanakan secara virtual, Senin (28/9/2020).

"Ini data di tahun 2020, ada 88 dari 100 ribu orang yang meninggal karena rokok. Ini di beberapa provinsi cukup tinggi angka kematiannya akibat rokok. Kalau dikaitkan lagi ada riwayat merokok di dalamnya. Kita sangat prihatin karena hampir seluruh orang indonesia saat ini ternyata memiliki perilaku merokok," ujarnya.

Dalam paparan slide yang ditampilkan, selain Yogyakarta yang berada di posisi teratas, ada Provinsi Sulawesi Utara di posisi kedua dengan angka kematian 119 orang per 100 ribu orang. Di posisi ketiga ada Jawa Timur yang memiliki angka 114 per 100 ribu orang.

Tidak sampai disitu, dia menyampaikan, data yang dipaparkan oleh Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), prevelensi merokok target dan realitanya tidak sesuai karena di setiap tahunnya selalu meningkat. Menurutnya, dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJN) Bappenas selama lima tahun, prevalensi tersebut ditargetkan menurun sebanyak 5,4 persen.

"Tidak ada yang menurun, dan kalau tidak diinteevensi, estimasi Bappenas itu akan naik terus pada tahun 2030 mencapai 16 persen. Sedangkan perokok pada anak juga semakin meningkat ini," tuturnya

Lebih lanjut dikatakannya, di tahun 2016, perokok dengan usia 13-15 tahun mencapai 18,3 persen. Berselang tiga tahun, angkanya naik sebanyak 0,9 persen menjadi 19,2 persen.

"Ini ancaman bagi generasi kita yang akan menghadapi bonus demografi, dimana diharapkan usia produktif akan membesarkan bangsa ini. Tapi negara kita disebut dengan julukan negara baby smoker, dimana ada anak-anak yang di bawah usia lima tahun menjadi perokok," ujarnya.

(kha)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini