Kuasa Tuhan Selamatkan Jenderal Nasution dari Hujaman Peluru Tjakrabirawa

Arie Dwi Satrio, Okezone · Senin 28 September 2020 12:39 WIB
https: img.okezone.com content 2020 09 28 337 2284827 kuasa-tuhan-selamatkan-jenderal-nasution-dari-hujaman-peluru-tjakrabirawa-7XY3Ly6sV7.jpg Foto: wikipedia

JAKARTA - Abdul Haris Nasution, satu dari delapan Jenderal yang namanya masuk dalam target korban Gerakan 30 September 1965 (G30S). Gerakan pembunuhan para jenderal itu disebut-sebut didalangi oleh Partai Komunis Indonesia (PKI).

(Baca juga: Kisah Gubernur Jatim dan Dua Perwira Polisi yang Dibantai PKI di Hutan Belantara)

Selain Nasution, tujuh Jenderal lain yang diincar untuk dibunuh yakni, Letnan Jenderal Ahmad Yani; Mayjen Soewando Parman; Mayjen R Soeprapto; Mayjen Mas Tirtodarmo Harjono; Brigjen Donald Izacus Pandjaitan; Brigjen Soetojo Siswomihardjo; serta Brigjen Ahmad Soekendro.

Nasution merupakan salah satu Jenderal yang berhasil lolos dari rencana pembunuhan tersebut. Pagi itu, 1 Oktober 1965, sekira pukul 03.30 WIB, rumah Nasution di Jalan Teuku Umar 40, Menteng, Jakarta Pusat, didatangi oleh pasukan yang disebut-sebut berasal dari resimen Tjakrabirawa (pasukan pengaman presiden).

Pasukan itu dilengkapi dengan senjata tajam saat menyambangi rumah Pak Nas -sapaan akrab Nasution-. Istri Nasution, Johanna Sunarti, sudah mengetahui kedatangan pasukan Tjakrabirawa itu untuk mencari suaminya.

"Itu yang mau bunuh kamu datang," ujar Sunarti kepada suaminya, Nasution, ditirukan putri sulung mereka, Hendrianti Saharah Nasution atau Bu Yanti saat berbincang dengan Okezone.

(Baca juga: Peristiwa Madiun: Saat Jasad Musso Dibakar, Abunya Berserakan di Alun-Alun)

Beberapa kali Sunarti meminta Nasution pergi untuk bersembunyi. Namun, berkali-kali juga Pak Nas menolak lantaran tak tega meninggalkan anak dan istrinya. Apalagi, kondisi saat itu sedang kacau. Dimana, anak bungsu mereka, Ade Irma Suryani, tertembus peluru besi Tjakrabirawa.

Sunarti terus meyakinkan Nasution. Meminta agar Nasution meninggalkan rumah untuk bersembunyi. "Nas, kamu selamatkan diri, karena kamu yang dicari, kalau kita-kita kan enggak dicari, jadi selamatkan diri," bujuk Sunarti ke Nasution ditirukan Yanti.

Sunarti berhasil membujuk Nasution untuk bersembunyi. Sunarti pula yang menemani Nasution mencari tempat aman. Kedutaan Besar (Kedubes) Irak yang berada tepat disamping rumah Nasution menjadi pilihan satu-satunya untuk Sang Jenderal bersembunyi.

Nasution menaiki pot dan juga tangga di samping rumahnya untuk dapat melewati pagar pembatas. Gerak-gerik Nasution bersembunyi sempat terdengar pasukan Tjakrabirawa.

'Dor, dor, dor,' suara tembakan meletus. Beruntung, peluru tersebut tidak mengenai Nasution. Tidak diketahui ke arah mana para pasukan Tjakrabirawa menembak hanya karena mendengar ada sesuatu yang bergerak.

Nasution pun berhasil tiba di pekarangan Kedubes Irak setelah melewati pagar pembatas. Ia bersembunyi di belakang tong kosong yang ada di pekarangan Kedubes Irak.

Posisi persembunyian Nasution sebenarnya tidak cukup strategis. Sebab, posisi Nasution dapat terlihat jelas dari Jalan Teuku Umar. Beruntung saat itu kondisinya masih gelap.

"Sebetulnya itu, gimana ya, tempat persembunyian ayah dari jalan itu keliatan, hanya kebesaran Tuhan aja sih yang menyelamatkan ayah," ungkap Yanti.

Para pasukan Tjakrabirawa perlahan mundur ketika Sunarti menemui mereka dan mengatakan bahwa suaminya tidak di rumah. "Kalian disini cuma bunuh anak saya," tegas Sunarti kepada para pasukan Tjakrabirawa ditirukan Yanti."Pak Nasution sudah dua hari tidak di rumah," imbuh Sunarti.

Nahasnya, salah seorang ajudan Nasution, Kapten Pierre Tendean, yang baru mengetahui adanya pasukan Tjakrabirawa keluar dari ruangannya di belakang. Kapten Pierre Tendean dengan ketidaktahuannya langsung melangkah kedepan dan menemui pasukan Tjakrabirawa.

Pasukan Tjakrabirawa menganggap Pierre Tendean adalah Nasution. "Saya dengar ada yang bilang 'Nasution, Nasution', saya dengar suara-suara itu ya. Terus mereka pergi, Om Piere kan sudah dibawa ya," beber Yanti.

Setelah mendapati target yang ternyata salah sasaran itu, para Tjakrabirawa berangsur-angsur pergi. Mereka pergi membawa Pierre Tendean.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini