Saat Kritis Bersimbah Darah, Ade Irma Suryani: Kenapa Ayah Ditembak?

Arie Dwi Satrio, Okezone · Jum'at 25 September 2020 14:32 WIB
https: img.okezone.com content 2020 09 25 337 2283634 saat-kritis-bersimbah-darah-ade-irma-suryani-kenapa-ayah-ditembak-7PpCiHNlHz.jpg Foto: wikipedia

JAKARTA - "Kenapa ayah ditembak?," ucap Hendrianti Saharah Nasution menirukan apa yang dikatakan Ade Irma Suryani saat dalam kondisi kritis.

(Baca juga: Kesaksian Putri Jenderal Nasution saat Malam Jahanam di Teuku Umar 40)

Suaranya terdengar lirih, sesekali terbata-bata saat akan melanjutkan cerita. Ternyata, luka itu masih sangat membekas di hatinya. Terasa begitu berat bagi Hendrianti ditinggal sang adik tercinta, Ade Irma Suryani Nasution. Terlebih, ditinggal selamanya dengan kondisi yang tergolong sangat tidak adil.

Meskipun sudah 55 tahun berlalu, peristiwa 30 September, malam, hingga 1 Oktober 1965, dini hari, masih tersusun rapi di memori Yanti, sapaan akrab Hendrianti. Yanti begitu hafal ketika menceritakan detik-detik gerombolan yang diduga pasukan Tjakrabirawa menyerang rumahnya.

(Baca juga: 3 Menteri Resmikan Bantuan Kuota Data Internet)

"Setengah 4 pagi, masuk kan orang-orang itu. Itu mereka masuk kan tiba-tiba nyerang aja, masuk rumah gitu, padahal rumah kan sebetulnya tertutup ya, tapi, bisa masuk. Padahal kita dijaga kurang lebih 30 orang yang jaga rumah sebetulnya. Tapi kan kolonel Latief waktu itu komandan Garnisun kan," ujar Yanti kepada Okezone.

Pagi pukul 03.30 WIB, saat itu begitu mencekam. Yanti hanya bisa bersembunyi. Pasukan tersebut masih terus mencari Jenderal Besar TNI (Purn) Dr Abdul Haris Nasution, ayah dari Yanti dan Ade Irma. Seluruh sisi rumah diawasi oleh mereka.

Hingga akhirnya, Mardiah, tante dari Yanti, salah membuka pintu. Pintu yang dibuka Mardiah ternyata sudah ramai pasukan Tjakrabirawa. Sontak mereka menembak Mardiah. Nahasnya, Ade Irma yang saat itu berusia lima tahun, berada di dalam dekapan Mardiah.

"Nah disitu adik saya ditembak dari jarak yang dekat sekali," imbuhnya.

Ibunda Yanti dan Ade Irma, Johanna Sunarti, langsung menarik Mardiah. Pintu yang sebelumnya dibuka Mardiah, kembali dikunci oleh Sunarti. Saat itu, tubuh Ade Irma berlumur darah. Pun demikian dengan Mardiah.

Setelah berhasil mengamankan Mardiah dan Ade Irma, Sunarti memohon kepada suaminya, Abdul Haris Nasution untuk pergi bersembunyi. Sebab, orang yang dicari saat itu, satu-satunya hanya Nasution.

"Nas (Nasution), kamu selamatkan diri, karena kamu yang dicari, kalau kita-kita kan enggak dicari,' jadi selamatkan diri," kata Yanti menirukan apa yang dibicarakan ibunya kala itu.

Jenderal Nasution akhirnya bersembunyi di Kedutaan Besar Irak yang berada persis di samping rumahnya. Jenderal Nasution melompati pagar samping rumahnya untuk dapat bersembunyi. Setelah dirasa aman, Sunarti kembali.

Sunarti terbilang sangat berani. Sebab, ia nekat menghadapi para pasukan Tjakrabirawa di depan rumahnya sambil menggendong Ade Irma yang sudah berlumuran darah. Saat itu, terdengar para pasukan mencari ayahanda Ade Irma dan Yanti.

"Terus ibu saya bilang 'kalian disini cuma bunuh anak saya'. Terus mereka bilang, 'Nasution mana?', dibalas, ''Pak Nasution'. Mereka enak bilang Nasution. Ibu saya bilang 'Pak Nasution sudah dua hari tidak dirumah', kata ibu saya begitu," ungkap Yanti.

Para pasukan itu menjauh ke depan pagar. Namun tak lama, salah satu ajudan Jenderal Nasution, Pierre Tendean keluar dari ruangannya yang ada di belakang. Pierre Tendean terlihat menyambangi pasukan Tjakrabirawa. Sesekali terdengar mereka berteriak 'Nasution, Nasution'.

"Ada bilang 'Nasution, Nasution', saya dengar suara-suara itu ya. Terus mereka pergi, Om Piere sudah dibawa ya," jelasnya.

Satu-persatu pasukan itu pergi meninggalkan Jalan Teuku Umar dengan membawa Pierre Tendean. Namun, suasana masih saja mencekam. Memperhatikan kondisi sekitar mulai nampak aman, Sunarti keluar rumah untuk menyelamatkan Ade Irma Suryani.

Sunarti dengan dibantu adiknya yang kebetulan juga berada di rumah tersebut keluar membawa Ade Irma Suryani. Mereka hendak menuju ke RSPAD Gatot Subroto. Sementara Yanti, ditinggal di rumah bersama nenek dan tantenya.

"Mamah harus cari bantuan, kamu tinggal dirumah saja sama nenek kamu, sama tante kamu," ujar Yanti sambil menangis menirukan ucapan ibunya.

Matahari mulai menampakkan sinarnya. Gelap berubah lambat laun menjadi terang. Tepat pukul 07.30 WIB, akhirnya datang bantuan. Yanti beserta yang ada di rumah tersebut dibawa ke RSPAD, Gatot Subroto.

"Baru setengah 8 saya dijemput, dibawa ke RSPAD. Terus saya melihat adik saya disitu, terus dia masih sempat bilang sama saya 'Kaka jangan menangis,' dia bilang," ucap Yanti sambil menahan haru.

"Setelah itu dia bilang sama ibu saya 'Kenapa ayah ditembak?' Jadi, ya itulah yang berat buat saya sampai sekarang. Saya lihat peristiwa itu semua, maaf ya saya enggak menahan emosi karena terharu, karena itu satu peristiwa yang enggak gampang," imbuhnya.

Ade Irma Suryani meninggal enam hari setelah mendapatkan perawatan di RSPAD, Gatot Subroto. Ia meninggal pada 6 Oktober 1965 di usia lima tahun. Ade Irma bak perisai yang menyelamatkan ayahnya, Jenderal Nasution.

Tiga peluru sempat bersarang di tubuhnya. Dokter berhasil melakukan operasi dan mengambil proyektil yang sempat melukai empedu dan tulang rusuknya. Namun, takdir berkata lain. Ade Irma menghembuskan nafas terakhirnya setelah sempat berjuang melawan rasa sakit tertembus peluru besi.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini