Gempa dan Tsunami 20 Meter di Selatan Jawa, BMKG: 20 Menit Sampai Daratan!

Harits Tryan Akhmad, Okezone · Jum'at 25 September 2020 13:52 WIB
https: img.okezone.com content 2020 09 25 337 2283607 gempa-dan-tsunami-20-meter-di-selatan-jawa-bmkg-20-menit-sampai-daratan-aeer22uds5.jpg ilustrasi: shutterstock

JAKARTA - Peneliti dari Institut Tekonologi Bandung (ITB), Profesor Sri Widiyantoro menyebutkan kemungkinan adanya potensi ancaman aktivitas gempa disertai gelombang tsunami 20 meter selatan Pulau Jawa.

(Baca juga: Riset ITB: Gempa Besar dan Tsunami 20 Meter Berpotensi Terjadi di Selatan Pulau Jawa)

Kepala Pusat Pusat Gempa Bumi dan Tsunami, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Rahmat Triyono mengatakan bahwa ancaman gempa bumi dan disertai tsunami memang nyata.

“Intinya itu bisa terjadi atau tidak yang penting kita harus siap bahwa peneliti sudah mengigatkan kepada kita bahwa disana ada ancaman,” kata Rahmat kepada Okezone di Jakarta, Jumat (25/9/2020).

Rahmat melanjutkan jika gempa besar dengan kekuatan magnitudo 9,1 menggunang di zona Megathrust yang berada di Selatan Pulau Jawa, maka diperkirakan gelombang tsunami hanya membutuhkan waktu sekitar 20 menit untuk sampai ke pinggir pantai atau daratan.

“Kalau dari modeling kami begitu dari sumber gempa di area subduksi megathrust, Selatan Jawa, kurang lebih jaraknya sekitar 200 KM dari garis pantai Selatan Jawa. Kalo posisi disana bisa 20 menit (sampai darat),”urainya.

Akan tetapi Rahmat menegaskan kecepatan gelombang Tsunami sampai ke pantai juga tergantung dari lokasi titik gempa. Bula sumber titik gempanya semakin dekat dengan Pulau Jawa diprediksi gelombang itupun akan sampai lebih cepat lagi ke pantai.

“Jadi kalau sumber gempa semakin dekat katakanlah hanya 50-100 km dari garis pantai mungkin hanya 10 menit bisa sampai. Jadi tergantung sumber gempa dimodelkan,”imbuhnya.

Sementara untuk gelombang Tsunami mencapai ke darat, kata Rahmat, tergantung dari kondisi yang ada di daratan tersebut.

“Itu kan sudah menghantam terhambat oleh material di darat bisa jadi bagunan dan pihon jadi mengurangi kecepatan gelombang tsunami itu sendiri dan tentunya semakin menkjorok ke darat semakin rendah dan kecepatannya sudah berkurang,” tandasnya.

Sebelumnya peneliti dari Institut Teknologi Bandung (ITB) mengelola data berdasarkan hasil pengolahan data gempa yang tercatat oleh stasiun pengamat Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dan data Global Positioning System (GPS) diperoleh indikasi adanya zona dengan aktivitas kegempaan yang relatif rendah terhadap sekitarnya, yang disebut sebagai seismic gap, di selatan Pulau Jawa.

''Seismic gap ini berpotensi sebagai sumber gempa besar (megathrust) pada masa mendatang. Untuk menilai bahaya inundasi, pemodelan tsunami dilakukan berdasarkan beberapa skenario gempa besar di sepanjang segmen megathrust di selatan Pulau Jawa,'' tutur Profesor Sri Widiyantoro.

Sri Widiyantoro memaparkan Skenario terburuk, yaitu jika segmen-segmen megathrust di sepanjang Jawa pecah secara bersamaan, menunjukkan bahwa tinggi tsunami dapat mencapai ~20 meter di pantai selatan Jawa Barat dan ~12 meter di selatan Jawa Timur, dengan tinggi maksimum rata-rata 4,5 meter di sepanjang pantai selatan Jawa.

''Skenario terburuk, yaitu jika segmen-segmen megathrust di sepanjang Jawa pecah secara bersamaan, menunjukkan bahwa tinggi tsunami dapat mencapai 20 meter di pantai selatan Jawa Barat dan 12 m di selatan Jawa Timur,'' tegas Sri Widiyantoro.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini