Kesaksian Putri Jenderal Nasution saat Malam Jahanam di Teuku Umar 40

Arie Dwi Satrio, Okezone · Jum'at 25 September 2020 11:04 WIB
https: img.okezone.com content 2020 09 25 337 2283498 kesaksian-putri-jenderal-nasution-saat-malam-jahanam-di-teuku-umar-40-NN6p4a9J5F.jpg foto: Okezone

JAKARTA - Pagi itu, 1 Oktober 1965, sekira pukul 03.30 WIB, segerombolan orang yang disebut-sebut merupakan pasukan Tjakrabirawa datang ke kediaman Kepala Staf ABRI, Jenderal Abdul Haris Nasution di Jalan Teuku Umar No 40, Menteng, Jakarta Pusat. Pagi itu terasa sangat gaduh bagi putri pertama Jenderal Nasution, Hendrianti Saharah Nasution.

(Baca juga: Peristiwa Madiun: Saat Jasad Musso Dibakar, Abunya Berserakan di Alun-Alun)

Yanti, sapaan karib Hendrianti, hafal betul orang-orang tersebut masuk, kemudian secara tiba-tiba menyerang kediamannya. Padahal, rumah Jenderal Nasution selalu dijaga oleh pasukan TNI. Pada malam 30 September 1965 pun, masih tampak sekira 30 petugas berjaga di depan rumah Yanti.

"Tapi kan Kolonel Latief waktu itu komandan Garnisun kan. Jadi tentunya yang jaga itu melihat, yang datang mereka kenal kan. Langsung dikunci mereka di pos jaga yang depan, pos jaga yang besar. Jadi mereka dengan seenaknya mendobrak pintu masuk ke dalam rumah," ujar Yanti kepada Okezone.

Mendegar suara gaduh di luar, istri Jenderal Nasution, Johanna Sunarti membuka pintu kamar tak terlalu lebar. Ia mengintip di sela-sela pintu yang tak terbuka lebar tersebut. Dilihatnya pasukan Tjakrabirawa sedang mencari Jenderal Nasution.

"Terus ibu saya bilang ke ayah saya, 'itu yang mau bunuh kamu datang,' ujar Yanti menirukan ucapan ibunya kala itu.

Jenderal Nasution merasa tertantang. Ia bersiap keluar. Namun, langkahnya dihalangi Sunarti. "Jangan Nas," ucap Sunarti kepada Nasution ditirukan oleh Yanti.

Pasukan tersebut mulai menggedor-gedor pintu menggunakan senjatanya. Jenderal Nasution tak kuasa menahan hasrat untuk membuka pintu kamar. Sesaat setelah membuka pintu kamar, peluru dari salah seorang pasukan Tjakrabirawa melesat dan hampir melukai Sunarti.

Suara tembakan masih terus terdengar. Sunarti meminta suaminya untuk bersembunyi. "Sudah Nas kamu selamatkan diri, kamu yang dicari," ucap Sunarti ditirukan Yanti.

Suara tembakan para Tjakrabirawa tersebut juga membangunkan nenek serta tantenya Yanti. Nenek panik dan menangis histeris. Hal itu diketahui oleh para pasukan Tjakrabirawa.

Sunarti bergerak cepat menitipkan anaknya yang berusia lima tahun, Ade Irma Suryani ke tante Mardiah -adik dari Jenderal Nasution-. Sunarti berupaya membantu suaminya untuk bersembunyi menyelamatkan diri.

Namun karena panik, Mardiah membuka salah satu pintu. Ternyata, pintu yang dibuka tersebut sudah ditunggu oleh pasukan Tjakrabirawa. Beberapa kali letusan terdengar, 'dor, dor, dor,'. Peluru panas yang berasal dari senjata api Tjakrabirawa mengenai Mardiah dan Ade Irma Suryani.

Suasana bertambah kacau. Sunarti kembali menutup dan mengunci pintu yang dibuka Mardiah. Darah sudah berlumuran di badan Ade Irma Suryani. Sunarti pun memohon kepada suaminya, Jenderal Nasution, untuk pergi bersembunyi.

"Nas, kamu selamatkan diri, karena kamu yang dicari, kalau kita-kita kan enggak dicari,' jadi selamatkan diri," kata Sunarti ditirukan Yanti.

Jenderal Nasution mengamini permintaan istrinya. Pak Nas akhirnya melompati pagar samping rumahnya. Ia bersembunyi di belakang drum besar yang ada di pekarangan Kedutaan Besar (Kedubes) Irak.

Setelah membantu menyelamatkan Jenderal Nasution, Sunarti kembali berkumpul dengan nenek, tante Mardiah, Ade Irma, dan Yanti. Tak lama, Sunarti bergerak keluar sambil menggendong Ade Irma yang sudah berlumuran darah. Sunarti menemui pasukan Tjakrabirawa. "Kalian disini cuma bunuh anak saya," ucap Sunarti ditirukan Yanti.

"Pak Nasution sudah dua hari tidak di rumah," sambungnya.

Kemudian, satu-persatu pasukan Tjakrabirawa menjauh dari pekarangan rumah Jenderal Nasution. Namun, kejadian tak terduga terjadi. Ajudan Jenderal Nasution, Kapten Pierre Tendean yang berada di ruang belakang, melangkah kedepan.

Kapten Pierre Tendean terlihat mendatangi para Tjakrabirawa. Tiba-tiba terdengar suara teriakan 'Nasution, Nasution'. "Saya dengar suara-suara itu ya. Terus mereka pergi, Om Pierre kan sudah dibawa ya," ucap Yanti.

Setelah membawa Kapten Pierre Tendean, pasukan Tjakrabirawa pergi. Memperhatikan kondisi sekitar mulai nampak aman, Sunarti pun keluar rumah untuk menyelamatkan Ade Irma Suryani yang terluka terkena tembakan.

Sunarti dengan dibantu adiknya yang kebetulan juga berada di rumah tersebut keluar membawa Ade Irma Suryani. Mereka hendak menuju ke RSPAD Gatot Subroto. Sementara Yanti, ditinggal di rumah bersama nenek dan tantenya.

"Mamah harus cari bantuan, kamu tinggal dirumah saja sama nenek kamu, sama tante kamu," ujar Yanti yang tak kuasa menahan saat menirukan ucapan ibunya.

Matahari mulai menampakkan sinarnya. Gelap berubah lambat laun menjadi terang. Tepat pukul 07.30 WIB, akhirnya datang bantuan. Yanti beserta yang ada di rumah tersebut dibawa ke RSPAD, Gatot Subroto.

"Baru setengah 8 saya dijemput, dibawa ke RSPAD. Terus saya melihat adik saya disitu, terus dia masih sempat bilang sama saya 'Kaka jangan menangis,' dia bilang," ucap Yanti kembali menahan haru.

"Setelah itu dia bilang sama ibu saya 'Kenapa ayah ditembak?' Jadi, ya itulah yang berat buat saya sampai sekarang. Saya lihat peristiwa itu semua, maaf ya saya enggak menahan emosi karena terharu, karena itu satu peristiwa yang enggak gampang," ujarnya mengakhiri pembicaraan.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini