Ungkap Rencana Penculikan Jenderal saat G30SPKI, Nasib Perwira Ini Malah Mengenaskan

Harits Tryan Akhmad, Okezone · Sabtu 19 September 2020 16:52 WIB
https: img.okezone.com content 2020 09 19 337 2280510 ungkap-rencana-penculikan-jenderal-saat-g30spki-nasib-perwira-ini-malah-mengenaskan-YCSVXDkTW1.jpg ilustrasi: okezone

JAKARTA - Perwira TNI bernama Kolonel Abdul Latief disebut sebagai seorang tentara yang merupakan saksi peristiwa Gerakan 30 September tahun 1965 atau G30SPKI.

Pria kelahiran Surabaya 27 Juli 1926 itu dikenal sebagai anak buah Soeharto. Bahkan dia disebut sudah mengetahui rencana adanya penculikan para jenderal.

Rencana pemberontakan G30SPKI telah dilaporkannya kepada Soeharto pada 28 September 1965, dua hari sebelum penculikan para jenderal terjadi.

(Baca juga: Peristiwa Madiun: Saat Jasad Musso Dibakar, Abunya Berserakan di Alun-Alun)

Latief memberitahu kepada Soeharto bahwa akan ada suatu gerakan yang akan membunuh para Jenderal TNI AD. Namun laporannya tak digubris.

"Tapi mengapa Soeharto selaku Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad) tidak menggagalkan peristiwa yang berbuntut pada penggulingan Soekarno selaku presiden "setelah mendapat laporan dari saya," ujar Latief dalam buku "Pledoi Kol A Latief: Soeharto Terlibat G30S.

Lalu Latief mempertanyakan siapa sebenarnya yang melakukan coup d'etat pada 1 Oktober 1965: G30S ataukah Jenderal Soeharto. Inilah yang selalu menjadi permasalahan sekarang karena siapa sebenarnya yang mulai berkuasa setelah Presiden Soekarno ditawan hingga meninggal dunia.

Hingga akhirnya Gerakan 30 September atau yang lebih dikenal dengan sebutan G30S/PKI pun pecah. Peristiwa itu di Jakarta dan Yogyakarta.

Di mana saat itu terjadi pemberontakan PKI, dengan menculik enam perwira tinggi dan satu perwira TNI Angkatan Darat diculik, lalu dibunuh, dan bertujuan untuk menggulingkan pemerintahan Presiden Seokarno.

Gerakan tersebut dipimpin langsung oleh DN Aidit yang saat itu merupakan ketua dari Partai Komunis Indonesia (PKI). Pembantaian itu dilakukan secara kejam.

Di mana perwira TNI dibuang di sebuah tempat. Monumen Lubang Buaya, namanya. Perwira TNI yang gugur tersebut mendapatkan gelar sebagai Pahlawan Revolusi atau Pahlawan Nasional.

Karena dituduh makar dan terlibat dalam peristiwa Gerakan 30 September, Latief ditangkap di rumah saudara sepupu istrinya di kawasan Bendungan Hilir, Jakarta Pusat pada 2 Oktober 1965.

Ia menjadi tahanan politik sehingga dijebloskan ke dalam penjara sejak 11 Oktober 1965 dan dibebaskan dari tahanan tanggal 6 Desember 1998 oleh pemerintah dibawah Presiden BJ Habibie.

Pada tanggal 6 April 2005 mantan tahanan politik G30S/PKI ini pun mengembuskan nafas terakhirnya. Latief meninggal setelah selama 2 bulan terakhir menderita paru-paru.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini