Siasat Licik Belanda Picu Amarah Arek Suroboyo

Fahmi Firdaus , Okezone · Sabtu 19 September 2020 08:47 WIB
https: img.okezone.com content 2020 09 19 337 2280336 siasat-licik-belanda-picu-amarah-arek-suroboyo-WaY1a91MhP.jpg source: @anggawhandhika

JAKARTA – Bagi masyarakat Kota Surabaya, peristiwa perobekan Bendera Belanda (merah-putih-biru) yang berkibar di atap Hotel Yamato, Surabaya pada 19 September 1945 pastinya tidak akan terlupakan.

(Baca juga: Peristiwa 19 September: Perobekan Bendera Belanda Jadi Merah Putih di Hotel Yamato Surabaya)

Okezone pun kembali mengulas aksi heroik arek-arek Suroboyo tepat 75 tahun yang lalu. Awal mula kejadian perobekan bendera ini diawali ketika pemerintah Indonesia mengharuskan mengibarkan bendera merah putih di seluruh Indonesia sebagai kedaulatan bangsa ini telah merdeka dari Belanda. Pengibaran serentak itu diberlakukan tanggal 1 September 1945.

Selang 18 hari pengibaran bendera, Belanda yang picik mengerahkan W.V.Ch Ploegman bersama kelompoknya untuk mengibarkan benderanya, tanpa persetujuan pemerintah RI di Surabaya kala itu. Bahkan, pengibaran bendera dilakukan pada malam hari saat masyarakat tertidur.

Esok harinya tanggal 19 September, warga yang melihat bendera Belanda berkibar di atas atap Hotel Yamato, langsung meluapkan emosinya. Massa memenuhi jalanan agar bendera itu turun. Sebagai perwakilan Republik Indonesia saat itu, Sudirman bersama rekannya pun menemui Ploegman menurunkan bendera tersebut.

Namun Ploegman bersikeras menurunkan bendera negaranya. Bahkan dia sempat mengarahkan pistol ke arah Sudirman. Dengan cepap, Sidik yang menjadi anggota BKR dan menemani Sudirman saat itu, menghadang pistol Ploegman. Tetapi, situasi semakin memanas dan menimbulkan perkelahian, Ploegman saat itu pun meronta-ronta hingga akhirnya tewas tercekik tangan Sidik.

Pistol yang digenggam Ploegman pun berbunyi dan membuat tentara Belanda siaga. Sidik pun kemudian tewas tertembak tentara Belanda, sementara Sudirman dan Hariyono berlari menyelamatkan diri ke jalan raya.

Insiden tersebut membangkitkan semangat para pemuda untuk memanjat gedung Hotel Yamato. Melihat aksi massa tersebut, Sudirman dan Hariyono bergegas kembali ke hotel dan memanjat tempat bendera Belanda tersebut dikibarkan.

Dibantu pejuang lainnya, Kusno Wibowo ketiganya menurunkan benderan Belanda kemudian merobek warna biru di bendera di depan masyarakat. Sorai haru dan gembira pun terlihat dari masyarakat.

“Seperti yang ditulis di memoar-memoar pejuang dan buku Puspen TNI, salah satu perobek bendera itu namanya Kusno Wibowo,” ujar Ady Setiawan, penggiat sejarah Komunitas Roode Brug Soerabaia kepada Okezone beberapa waktu lalu.

“Namanya juga terpahat di plakat samping monumen. Tapi Kusno Wibowo selalu menolak dikatakan sebagai perobek bendera dengan alasan, perobeknya arek-arek Suroboyo,” sambung penulis buku ‘Benteng-Benteng Surabaya’ tersebut.

(fmi)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini