Peristiwa Madiun: Saat Jasad Musso Dibakar, Abunya Berserakan di Alun-Alun

Fahmi Firdaus , Okezone · Jum'at 18 September 2020 09:30 WIB
https: img.okezone.com content 2020 09 18 337 2279731 peristiwa-madiun-saat-jasad-musso-dibakar-abunya-berserakan-di-alun-alun-wY8U9VwFcT.jpg ilustrasi: shutterstock

JAKARTA –Pemberontakan PKI pada 1948 atau dikenal sebagai peristiwa Madiun pada 18 Agustus 1948 merupakan pemberontakan kelompok komunis yang tergabung dalam Front Demokrasi Rakyat (FDR). Ada empat kelompok yang tergabung dalam FDR yakni PKI, Partai Sosialis Indonesia (PSI), Partai Buruh Indonesia (PBI), dan Pemuda Rakyat dan Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia (Sobsi).

(Baca juga: Peristiwa 18 September: Pemberontakan Madiun hingga Meninggalnya Musisi Jimi Hendrix)

Pemberontakan ini diawali dengan jatuhnya Amir Sjarifuddin sebagai kabinet setelah Perjanjian Renvile. Kemudian lahirlah kabinet baru dengan di komandoi oleh Mohammad Hatta sebagai perdana menteri namun tidak disetujui Amir.

Okezone pun mengulas kembali pemberontakan Madiun yang hanya seumur jagung. Dalam peristiwa ini PKI juga memproklamasikan Republik Soviet Indonesia dan mengangkat Musso sebagai presiden serta Amir Sjarifuddin sebagai perdana menteri.

Pemberontakan Madiun berhasil ditumpas oleh pasukan gabungan TNI dari Divisi III Siliwangi, Divisi II pimpinan Kolonel Gatot Soebroto, Divisi I yang dikomandoi Kolonel Soengkono serta Mobil Brigade (Brigade Mobil kini Brimob).

Selama 12 hari setelah Kota Madiun dikuasai PKI/FDR, pasukan gabungan berhasil mengamankan wilayah tersebut. Sementara Amir Sjarifoeddin sendiri berhasil tertangkap dan dieksekusi. Nasib serupa juga dialami oleh Musso.

Seperti dikutip dari buku karya Soe Hok Gie, ‘Orang-Orang di Persipangan Kiri Jalan’, Musso terlihat pada 31 Oktober 1948 di Desa Balong. Dia menyamar seperti rakyat biasa.

Namun saat itu, petugas sempat curiga dan memberhentikan Musso untuk dimintai surat-surat keterangan. Ketika barang bawaannya diperiksa, Musso merampas pistol seorang penjaga untuk menembak si pemeriksa, kemudian kabur dengan dokar yang dirampasnya dari seorang rakyat sekitar.

Pasukan TNI yang melihat, langsung mengejar Musso yang di tengah jalan, berhasil menodong sebuah mobil dari pasukan Batalyon Sunandar. Nahas, mobilnya sempat sulit dinyalakan dan prajurit yang sebelumnya ditodong, balik menodong Musso.

“Engkau tahu siapa saya? Saya Musso. Engkau baru kemarin jadi prajurit dan berani minta saya menyerah? Lebih baik saya mati dari pada menyerah. Walau pun bagaimana, saya tetap merah putih,” tegas Musso.

Musso lalu kembali berhasil lari ke sebuah desa bernama Semanding, Kecamatan Sumoroto, Ponorogo, Jawa Timur. Dia sempat lari ke sebuah kamar mandi milik seorang warga sekitar.

Pasukan TNI yang sudah mengetahui tempat persembunyiannya Musso, langsung memberondong kamar mandi itu. Musso pun tumbang, namun belum tewas. Tubuh Musso dibawa dengan menggunakan drag bar atau tangga bamboo.

“Di tengah drag bar itu patah dan akhirnya Musso digeret saja. Kemungkinan besar dia baru meninggal pas di perjalanan untuk dibawa dari Desa Semanding ke alun-alun Kabupaten Ponorogo,” ujar penggiat sejarah Wahyu Bowo Laksono kepada Okezone beberapa waktu lalu.

“Di sana (alun-alun) dilakukan observasi dan pemotretan untuk meyakinkan kembali kalau (jenazah) itu benar-benar Musso. Sekaligus dipertontonkan ke khalayak ramai,” sambungnya.

Setelah dipamerkan ke rakyat sekitar, jasad Musso diputuskan untuk tidak dikuburkan, melainkan dibakar dan abunya dibiarkan berserakan di alun-alun.

“Karena kalau dimakamkan, kalau makamnya diketahui, maka bisa jadi simbol untuk dipuja-puja pendukungnya kelak. Kenapa dibakar? Karena pada saat itu diyakini banyak gembong PKI (yang masih hidup) punya ilmu kanuragan dan salah satu cara memusnahkannya ya dibakar,” tutup Wahyu.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini