BMKG Beberkan Penyebab Kasus DBD di Tanah Air Meningkat

Binti Mufarida, Sindonews · Selasa 15 September 2020 13:05 WIB
https: img.okezone.com content 2020 09 15 337 2277995 bmkg-beberkan-penyebab-kasus-dbd-di-tanah-air-meningkat-dC5bTliGIU.jpg Foto: Sindo

JAKARTA - Kepala Bidang informasi Iklim terapan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Marzuki mengatakan, bahwa kelembaban udara menjadi pemicu peningkatan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Tanah Air.

Awalnya, Marzuki menceritakan pihaknya memperkirakan bahwa kejadian puncak hujan di suatu daerah yang BMKG misalnya antara Januari-Februari maka setelahnya diikuti oleh puncak DBD.

“Itu waktu kesimpulan awalnya itu kira-kira,” katanya dalam webinar ‘Antisipasi Penyebaran Penyakit DBD di tengah Pandemi Covid-19 dengan Pemanfaatan Informasi Iklim untuk Kesehatan’ Selasa (15/9/2020).

 Baca juga: Kasus DBD di Jawa Barat 14.636 Orang, Tertinggi di Indonesia

Kemudian, Marzuki mengatakan, pihaknya dibantu dengan para pakar dari Institut Teknologi Bandung mengeksplorasi apakah kejadian puncak DBD berkorelasi dengan puncak musim penghujan.

“Kami dibantu oleh tim Litbang kemudian juga dari pakar pakar ITB mengeksplorasi data-data yang dimiliki disandingkan dengan kejadian DBD. Apakah dari data iklim itu misalnya hari hujannya misalnya yang sangat berpengaruh, atau suhunya, atau curah hujannya, atau kelembabannya dan lain sebagainya,” sambungnya.

 Baca juga: Jabar Tercatat Provinsi dengan Kasus DBD Tertinggi Capai 14 Ribu Orang 

“Jadi semua elemen iklim yang mungkin bisa menjabarkan kita coba analisis, kita hubungkan agar memiliki reason atau alasan-alasan ilmiah sehingga bisa dikaitkan dengan kejadian DBD pada suatu waktu,” jelas Marzuki.

 

Ternyata, kata Marzuki semua unsur iklim itu hampir memiliki hubungan dengan kejadian DBD.

“Namun yang paling konsisten tampaknya dari seluruh itu adalah kelembaban. Memang terjadi korelasi kuat dengan kelembaban udara dan ini sangat konsisten. Artinya outbreak ditemukan berkorelasi dengan ambang batas kelembaban. Kemudian yang perlu digaris bawahi adalah bahwa kasus DBD itu meningkat di atas level baseline saat kelembabannya itu di atas 75 persen,” katanya.

Marzuki mengatakan, berdasarkan fakta-fakta ilmiah tersebut maka BMKG telah menyiapkan ya beberapa langkah ataupun rencana dalam hal mitigasi.

“Tentunya juga dengan adaptasi dalam jangka panjang gitu. Bagaimana kalau misalnya kita menyusun sebuah sistem prediksi yang bisa menduga penyakit DBD berdasarkan dari kondisi iklim,” pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini