Pakai Nama PAN Reformasi, Efek Elektoral Parpol Baru Amien Rais Dianggap Kecil

Kiswondari, Sindonews · Jum'at 11 September 2020 14:33 WIB
https: img.okezone.com content 2020 09 11 337 2276189 pakai-nama-pan-reformasi-efek-elektoral-parpol-baru-amien-rais-dianggap-kecil-SaBUBbChMM.jpg Amien Rais (Foto: Okezone)

JAKARTA – Juru Bicara (Jubir) Partai Amanat Nasional (PAN) Viva Yoga Mauladi menghargai jika memang Amien Rais hendak meninggalkan PAN dan mendirikan partai politik (parpol) baru dengan nama PAN Reformasi. Namun, karena masih membawa nama PAN, dia menilai bahwa partai baru tersebut ingin meraup keuntungan elektoral dalam pemilu.

“Jika Pak Amien Rais akan mendirikan partai politik baru itu benar, maka itu adalah hak politik Pak Amien yang dijamin konstitusi. Bahwa setiap warga negara bebas merdeka untuk berserikat, berkumpul, mengeluarkan pendapat secara lisan dan tulisan, sebagaimana termaktub di Pasal 28 UUD 1945,” kata Viva kepada wartawan di Jakarta, Jumat (11/9/2020).

Baca Juga:  Jubir PAN Pastikan Hanya Sedikit Kader yang Masuk Partai Amien Rais

Menurut Wakil Ketua Umum (Waketum) DPP PAN ini, jika Amien Rais mendirikan partai politik baru, maka masyarakat akan menilai PAN tidak akan identik lagi dengan Amien Rais. Publik pun akan menilai Amien Rais telah meninggalkan dan keluar dari PAN.

“Padahal, Pak Amien Rais adalah salah satu pendiri PAN, di samping ada Albert Hasibuan, AM Fatwa, AM Lutfi, Syamsurizal Panggabean, Ismid Hadad, Zoemrotin, Gunawan Muhammad, dan Abdillah Toha,” ujarnya.

Kemudian, Viva melanjutkan, dalam berbagai pemberitaan di media, Amien Rais kemungkinan menamakan partai barunya dengan PAN Reformasi. Menurutnya, penggunaan nama PAN di partai baru tersebut adalah sesuatu yang wajar karena tentu masih berharap akan mendapatkan efek elektoral dari PAN yang sejak Pemilu 1999 sampai 2019 lolos di DPR RI.

“Menurut saya, kalaupun ada efek elektoral, getarannya sangat kecil alias non signifikan,” tutur Viva.

Baca Juga:  Partai Baru Amien Rais Berasaskan Islam Rahmatan Lil 'Alamin

Karena, Viva menjelaskan, masyarakat akan menilai bahwa PAN Reformasi adalah parpol baru, bukan PAN yang asli. Tetapi, parpol baru yang ingin mendapatkan efek elektoral dari nama PAN. Dan kondisi ini berbeda dengan kasus berdirinya Partai Gerindra, Partai Nasdem, dan Partai Hanura.

“Meski para tokoh pimpinan partai politik baru itu adalah mantan kader Golkar, tetapi mereka tidak ingin atau tidak berharap akan mengeruk efek elektoral dari Golkar. Mereka percaya diri atas partai politik baru yang didirikan itu,” sindirnya.

(Ari)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini