Mobilitas Penduduk saat PSBB Transisi Jakarta Pengaruhi Kasus Covid-19 di Pulau Jawa

Binti Mufarida, Sindonews · Jum'at 11 September 2020 14:13 WIB
https: img.okezone.com content 2020 09 11 337 2276177 mobilitas-penduduk-saat-psbb-transisi-jakarta-pengaruhi-kasus-covid-19-di-pulau-jawa-3OX4DTA6bD.jpg Perbandingan pergerakan penduduk di Pulau Jawa saat PSBB dan PSBB Transisi di Jakarta. (Foto : tangkapan layar Youtube/BNPB)

JAKARTA – Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito mengatakan, mobilitas penduduk berkontribusi terhadap penambahan kasus virus corona (Covid-19) di Tanah Air.

Wiku pun membandingkan data mobilitas penduduk saat Pembatasan Sosial Berskala Besar dan Transisi yang diberlakukan di DKI Jakarta.

“Jadi kalau kita lihat antara PSBB dan PSBB transisi terlihat sekali pada PSBB garis-garisnya (pergerakan mobilitas penduduk) tidak terlalu padat. Cukup padat tapi tidak terlalu padat dan kelihatan relatif merata di Pulau Jawa,” katanya dalam diskusi di Media Center Satuan Tugas Penanganan Covid-19, Graha BNPB, Jakarta, Jumat (11/9/2020).

Sementara terlihat mobilitas penduduk saat diberlakukan PSBB transisi di DKI Jakarta. Terjadi mobilitas penduduk dari Jakarta ke berbagai wilayah di Pulau Jawa.

“Tetapi saat PSBB transisi yang melakukan PSBB transisi, yang melakukan PSBB transisi kan sebenarnya adalah DKI Jakarta. Tapi kalau kita lihat gambarnya itu padat sekali ke seluruh Pulau Jawa.”

Efek mobilitas penduduk dari diberlakukannya PSBB transisi di Jakarta yakni terjadi penambahan kasus di Pulau Jawa dan Bali. Ini berkontribusi terhadap penambahan kasus secara nasional.

“Jadi rupanya efek dari mobilitas penduduk karena adanya PSBB transisi di Jakarta ternyata punya efek ke berbagai wilayah di Pulau Jawa. Jadi kalau kita lihat dari kasus-kasusnya juga demikian pula jadi kasus di Pulau Jawa dan Bali itu per 10 September itu kontribusi terhadap kasus nasionalnya adalah 64,18%,” tutur Wiku.

Hal ini juga mempengaruhi terhadap perubahan zonasi risiko Covid-19 di Indonesia.

“Kalau kita lihat dari zonasi yang ada sekarang pada saat sekarang nih ada dari 65 kabupaten kota menjadi 70 kabupaten kota menjadi zona merah. Jadi pertambahan zona merah nya ada 5 kabupaten/kota. Kemudian zona oranye yaitu risiko sedang dari 230 menjadi 267 kabupaten/kota. Jadi meningkat sebenarnya. Sedangkan zona kuning risiko rendah ini menurun dari 151 menjadi 114 kabupaten/kota. Bisa saja menurun karena berpindah menjadi zona oranye,” kata Wiku.

Baca Juga : Jokowi: Negara Maju dan Berkembang Tak Siap Hadapi Corona!

Dari data tersebut, ia mengungkapkan, terlihat aktivitas mobilitas penduduk berkontribusi terhadap penambahan kasus Covid-19. “Jadi terlihat aktivitas penduduk, mobilitas penduduk, berkontribusi pada peningkatan jumlah kasus. Inilah yang gunanya kita mengamati mobilitas penduduk adalah kita tahu bahwa ternyata mobilitas penduduk berkontribusi pada peningkatan kasus,” tuturnya.

Baca Juga : Pasien Sembuh di RSD Wisma Atlet Capai 12.328 Orang

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini