Cerita WNI di Malaysia: Tak Pakai Masker Didenda Rp3 Juta

Abdul Rochim, Koran SI · Rabu 09 September 2020 18:01 WIB
https: img.okezone.com content 2020 09 09 337 2275068 cerita-wni-di-malaysia-tak-pakai-masker-didenda-rp3-juta-c9rM0HxhWt.jpg Foto: Illustrasi Okezone.com

JAKARTA - Sejumlah negara memberlakukan aturan ketat terkait masuknya warga negara asing dari Indonesia. Salah satunya yang menerapkan aturan tersebut adalah negara tetangga Malaysia. Alasannya jelas, Indonesia dianggap sebagai negara dengan tingkat penularan cukup tinggi.

Data terbaru per Selasa (8/9/2020) yang dirilis Satuan Tugas Penanganan Covid-19, selama enam bulan lebih kasus corona terjadi di Indonesia, total kasus sudah mencapai 200.035 orang dengan kasus harian per Selasa pukul 12.00 WIB, tercatat ada penambahan 3.046 kasus baru.

Lantas bagaimana nasib warga negara Indonesia (WNI) yang tinggal di Malaysia? SINDOnews berhasil mewawancarai Fathur, salah seorang pekerja migran Indonesia (PMI) asal Desa Payaman, Kecamatan Solokuro, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur yang bekerja sebagai pekerja bangunan di kawasan Sungai Besi, Kuala Lumpur.

 Baca juga: Update 9 September : Satu Provinsi Laporkan Nihil Kasus Positif Covid-19

Dikatakan Fathur, sejak 7 September lalu, Pemerintah Kerajaan Malaysia memang memberlakukan aturan ketat berkait larangan keluar masuk Negeri Jiran.

"Warga yang tinggal di Malaysia tidak boleh keluar pulang ke Indonesia. Sebaliknya, teman-teman yang sudah pulang ke Indonesia juga tidak boleh kembali ke Malaysia," ujarnya melalui sambungan telepon, Rabu (9/9/2020).

 Baca juga: 9 Provinsi Tercatat Penambahan Kasus Covid-19, Jakarta Masih Juara 

Diakui Fathur, aturan ketat tersebut membuat sebagian PMI yang berniat pulang ke Indonesia merasa bersedih.

"Ya namanya orang tinggal jauh dari keluarga, kadang pingin pulang ke Indonesia untuk melepas kangen, tapi tidak bisa," katanya.

Namun, bagi dirinya sendiri, Fathur mengaku beruntung karena istrinya juga sama-sama bekerja di Malaysia, meski di wilayah yang berbeda. Sehingga jika ingin bertemu dengan sang istri tercinta untuk sekadar melepas rasa rindu, tidak mengalami kendala.

Kondisi saat ini, diakui Fathur, jauh lebih baik dibandingkan sekitar empat bulan lalu. Saat itu, sekitar empat bulan lamanya, dirinya dan juga para PMI lainnya merasa gelisah karena Pemerintah Kerajaan Malaysia memberlakukan lockdown total sehingga para PMI tidak bisa bekerja sama sekali. Padahal, sistem kerja di sana bukan berdasarkan gaji bulanan, melainkan upah atau gaji dihitung berdasarkan pekerjaan. Jika tidak bekerja maka tidak ada pemasukan sama sekali.

"Selama empat bulan total kami disini saat itu hanya bisa duduk manis saja. Tidak ada pemasukan sama sekali," katanya.

Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari saat itu, dirinya terpaksa menggadaikan harta benda hasil jerih payahnya, termasuk perhiasan sang istri.

"Pokoknya apa yang ada di rumah yang bisa digadaikan ya digadaikan untuk hidup. Alhamdulillah, saat ini beberapa sudah bisa ditebus lagi," ungkapnya.

Fathur mengaku bersyukur dia dan teman-temannya sesama TKI kini bisa kembali bekerja secara normal. "Rata-rata sudah kerja semua," ungkap Fathur yang mengaku mendapatkan gaji sekitar 2.500 Ringgit Malaysia atau sekitar Rp8.865.000 per bulan dengan kurs Rp3.546/1 Ringgit.

Secara umum, kata Fathur, kondisi di Malaysia sudah mulai normal. Pasar-pasar juga sudah mulai ramai. Begitu pula tempat-tempat umum lainnya. Pemberlakuan jam malam yang saat lockdown beberapa bulan lalu sangat ketat, sekarang juga sudah mulai longgar.

Kendati begitu, Pemerintah Malaysia memberlakukan aturan yang sangat ketat mengenai penggunaan masker. Bagi mereka yang keluar rumah dan ketahuan tidak mengenakan masker, dendanya tidak tanggung-tanggung mencapai 1.000 Ringgit Malaysia atau sekitar Rp3.546.000. Tidak hanya itu, setiap orang yang masuk ke kedai atau restoran, harus mengisi data nama dan nomor telepon.

"Kalau nggak meninggalkan nomor telepon dan daftar identitas, bisa didenda 300 Ringgit. Kalau sehari masuk kedai lima kali, ya harus menulis daftar identitas dan nomor telepon lima kali juga," ungkap pria yang sudah sekitar 10 tahun bekerja di Malaysia ini.

Saat ini, di kawasan Sungai Besi, Fathur bersama dengan beberapa pekerja asal indonesia lainnya sedang mengerjakan bangunan sebanyak 10 unit yang rencananya bakal digunakan sebagai kedai makanan.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini