KSAD Jenderal Andika Bahas Pengembangan Obat Covid-19 dengan IDI

Riezky Maulana, iNews · Jum'at 04 September 2020 14:09 WIB
https: img.okezone.com content 2020 09 04 337 2272585 ksad-jenderal-andika-bahas-pengembangan-obat-covid-19-dengan-idi-w1dLEPZwI5.jpg foto: Okezone

JAKARTA – Indonesia terus mengembangkan obat Covid-19. Ikatan Dokter Indonesia (IDI) saat ini akan melakukan riset penelitian pemberian obat pengencer darah kepada pasien Covid-19. Berdasarkan riset IDI, disebutkan bahwa mayoritas pasien Covid-19 yang meninggal dunia dikarenakan penyumbatan pada organ vital, terutama di paru-paru.⁣

(Baca juga: Berita Baik! BPOM Beberkan Tahapan Pengembangan Obat Covid-19 dan Izin Edar)

Mendapat laporan tersebut, Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Andika Perkasa menerima pemaparan dari IDI dan Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) terkait pengajuan kerja sama penanganan Covid-19 di Indonesia. Pada pertemuan tersebut juga dihadiri oleh pihak Badan Intelejen Negara (BIN), Polri dan Universitas Airlangga.⁣

“Pasien yang meninggal karena Covid-19 kalau dilakukan autopsi ternyata di paru-paru tersumbat bekuan darah, dan mengapa paling banyak di paru-paru? Karena reseptor masuknya Covid-19 itu lebih banyak di paru-paru,” ujar tim peneliti IDI Prasetyo dalam video yang diunggah oleh TNI AD, Jumat (4/9/2020).

Dalam penelitian tersebut, bilamana ada pasien positif Covid-19 yang mengalami gangguan pembekuan darah, maka akan diberikan obat Heparin. Serta, dilakukan pemantauan setiap dua hari sekali selama 14 hari.

"Populasi penelitian adalah populasi pasien-pasien yang dirawat di RS milik TNI AD periode bulan September hingga Oktober. Bisa pasien yang sudah terkonfirmasi Covid-19 atau yang menunggu hasil Swab PCR,” sambungnya.

Andika yang juga merupakan mantan Pangkostrad ini juga menerima penjelasan dari IAI tentang pengajuan kerja sama di bidang pendidikan yang dilakukan untuk pengembangan profesi apoteker spesialis radio farmasi. Tujuannya, untuk mendukung pengembangan instalasi kedokteran nuklir RSPAD.

Selain itu, pihak IAI dan TNI AD juga hendak melakukan kerja sama pengembangan konsentrasi farmasi militer yang dikhususkan dari Fakultas Farmasi Universitas Jenderal Achmad Yani (Unjani).

Wakil Ketua Pengurus Pusat Ikatan Apoteker Indonesia Keri Lestari juga menjelaskan terkait riset uji klinis. Setidaknya uji klinis akan ada dua tahap, pertama uji klinis terhadap kina yang sudah ada pada proses akhir yaitu ethical clearance di Litbangkes Kemenkes dan juga sudah mendapatkan izin dari PPUK dari BPOM.

Sedangkan untuk uji klinis Herbal Imunomodulator masih dalam proses melengkapi kembali beberapa dokumen.

"Jika pengembangan mobile laboratorium PCR dipicu kejadian di Secapa kerena banyak sekali sejawat TNI dan Polri yang berhadapan dengan masyarakat tanpa APD,"ujarnya.

Sehingga konsep pengendalian pandemi untuk para anggota melalui biosurveillance yang kuat maka yang kita kembangkan adalah sistem mobile lab untuk test, trace and treatment,” sambung Keri.

KSAD menyambut baik paparan daripada IDI dan niatan kerja sama IAI. Menurutnya, hal itu harus segera mendapat tindak lanjut, karena itu merupakan solusi alternatif yang bisa dilakukan dalam penanganan pandemi Covid-19.⁣

"Terima kasih Prof Keri dan dr. Prasetyo, ini pasti kita akan segera tindaklanjuti supaya memang solusi-solusi alternatif semakin banyak. Ini segera," tutup Andika.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini