Tahukah Anda, Lahan Masjid Sabilillah Merupakan Markas Penjuang saat Agresi Militer II

Avirista Midaada, Okezone · Selasa 18 Agustus 2020 12:25 WIB
https: img.okezone.com content 2020 08 18 337 2263777 tahukah-anda-lahan-masjid-sabilillah-merupakan-markas-penjuang-saat-agresi-militer-ii-s6DGD1Wo1G.jpg Masjid Sabilillah Malang. Foto: Avirista Midaada

MALANG - Masjid Sabilillah terletak di Jalan Ahmmad Yani Nomor 15, Blimbing, Kecamatan Blimbing, Kota Malang, Jawa Timur. Lalu tahukah Anda bahwa lahan masjid ini dulunya markas penjuang?

Ya, Masjid Sabilillah menjadi saksi bisu laskar Islam yang didominasi santri, berjuang menghadapi penjajah saat Agresi Militer II pada November 1948.

Sekretaris Takmir Masjid Sabilillah Akhmad Farkhan mengatakan, tentara rakyat laskar Islam atau Laskar Hizbullah di bawah pimpinan KH. Masykur, sempat menjadikan tanah kosong yang kini menjadi tempat berdirinya Masjid Sabilillah, sebagai markas.

"Dulu memang sini dijadikan markas untuk menggalang dukungan untuk bertempur ke Surabaya. Kalau yang Laskar Hizbullah markasnya di Singosari," ujarnya di masjid tersebut beberapa waktu lalu.

Sementara Sejarawan Najib Jauhari juga mengatakan lahan Masjid Sabilillah pernah dijadikan sebagai markas pejuang, yaitu , pasca adanya resolusi jihad dari Nahdatul Ulama (NU) pada 22 Oktober 1945.

Baca Juga: Kisah Perjuangan Kompi Gagak Lodra Bertempur Lawan Belanda di Coban Jahe

"Markasnya Laskar Sabilillah ini di Malang dan Panglimanya adalah KH. Masjkur yang berasal dari Singosari, Malang. Kalau yang Laskar Hizbullah markasnya di Singosari. Pasukan ini sama-sama berangkat ke Surabaya dipimpin oleh KH. Nawawi Thohir dan Abbas Sato dengan jumlah 168 laskar," ucapnya.

Lebih lanjut Farkhan menjelaskan pada masa perjuangan itu, laskar Islam beribadah di Masjid Jami Blimbing yang terletak di utara Masjid Sabilillah saat ini.

Kemudian dari hari ke hari jamaah masjid Jami Blimbing semakin bertambah sehingga rumah ibadah itu over kapasitas. Sehingga diputuskan pada 1960-an membangun Masjid Sabilillah di tanah bekas markas Laskar Islam atau laskar Hizbullah.

"Maka pada 1968 dibentuklah panitia pembangunan Masjid Blimbing yang baru oleh KH. Nakhrawi Thohir," ujarnya.

Baca Juga: Veteran di Tangsel Kenang Perintah Jenderal Sudirman, Kita Harus Merdeka!

Farkhan menambahkan pembangunan Masjid Sabilillah sempat terhenti beberapa tahun karena terkendali berbagai hal. Namun akhirnya selesai juga, dan jika dihitung sejak pencetusan pembangunan, butuh 6 tahun agar Rumah Allah tersebut berdiri.

Masjid Sabilillah kini berdidi di atas tanah 8.100 meter persegi, meliputi tiga bangunan, yaitu bangunan induk masjid, bangunan menara, dan bangunan pelengkap seperti ruang kantor, tempat wudhu, dan ruangan sekolah.

Uniknya Masjid Sabilillah ini memiliki konstruksi bangunan melambangkan pergerakan perjuangan Indonesia. Jumlah pilar di luar masjid sebanyak 17 melambangkan tanggal proklamasi kemerdekaan Indonesia.

Sementara ketinggian masjid dari lantai bawah hingga atap yakni 8 meter melambangkan Agustus, bulan Indonesia merdeka dari penjajah.

Sementara tahun kemerdekaan Indonesia 1945 dilambangkan pada lebar masjid dan tinggi menara yakni 45 meter dari permukaan tanah.

Jarak antar pilar satu dan lainnya juga memiliki filosofis. Jarak 5 meter antar pilar melambangkan Pancasila dan rukun islam yang jumlahnya juga lima. Di bagian menara masjid berbentuk segi 6 melambangkan rukun iman pada agama islam.

Di dalam masjid, juga terdapat 9 pilar menyokong masjid yang melambangkan jumlah Wali Songo yang menjadi penyebar agama Islam di Pulau Jawa.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini