Share

Kisah 90 Tentara Jepang Dieksekusi Sampai Kali Bekasi Memerah

Wisnu Yusep, Okezone · Senin 17 Agustus 2020 14:47 WIB
https: img.okezone.com content 2020 08 17 337 2263432 kisah-90-tentara-jepang-dieksekusi-sampai-kali-bekasi-memerah-MIvISD5GWu.jpg Monumen Kali Bekasi (Foto: Okezone)

BEKASI — Tepat pada 19 Oktober 1945, Stasiun Kota Bekasi hingga Kali Bekasi merupakan saksi bisu pembantaian besar-besaran yang dilakukan pejuang Bekasi terhadap tentara Jepang.

Saat ini terpampang monumen yang disebut oleh Sejarawan Ali Anwar sebagai monumen pembunuhan tentara Jepang. Pasalnya, ketika itu komandan pejuang Bekasi Letnan Dua Zakaria Burhanuddin menerima informasi dari Komandan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Jatinegara Sambas Atamadinata.

(Baca juga: Kisah Misteri Pemindahan Jasad Pahlawan Kompi Gagak Lodra dari Coban Jahe)

Zakaria ketika itu mendapatkan informasi bahwa akan ada kereta pengangkut 90 tentara Jepang, yang akan pulang melalui di Stasiun Bekasi menuju Kalijati, Subang, Jawa Barat.

"Monumen ini, juga disebut sebagai monumen persahabatan, tapi saya lebih cenderung menyebutnya monumen pembunuhan tentara Jepang," kata Ali ketika berbincang dengan Okezone, Sabtu (15/8/2020).

Terjadinya pembantaian terhadap tentara Jepang ini, kata Ali, setelah kekalahan perang melawan sekutu diperintahkan untuk kembali ke negara asalnya, mereka lalu berangkat dari Jakarta menuju Lapangan Udara Kalijati menggunakan kereta api.

Para pejuang yang dikomandoi oleh Zakaria ini ketika itu meminta kepala stasiun untuk membuat skenario dengan mengarahkan kereta ke rel kedua atau rel buntu, yang saat ini berdiri kokoh monumen.

Saat itu, tentara Jepang tidak mengetahui bila kereta yang seharusnya ke Kalijati malah berbelok ke jalur buntu. Ketika tiba di rel buntu, salah satu komandan tentara Jepang di salah satu pintu gerbong mengeluarkan senjata.

Massa pejuang di bawah komando Zakaria melihat itu lantas geram. Namun, Zakaria terlebih dulu menembak komandan tentara Jepang itu, yang selanjutnya pasukan di bawah komando Zakaria menyerbu 90 tentara Jepang.

"Zakaria sempat bicara dengan bahasa Jepang, tapi komanda tentara Jepang justru mengeluarkan pistol, tapi keburu ditembak duluan, anak buahnya (tentara Jepang) lalu keluar mau ambil persenjataan di (gerbong) belakang, tetapi keburu diserbu duluan sama pejuang Bekasi," beber Ali.

Terjadilah pembantaian hebat di lokasi tersebut. Karena, ketika ditangkap para tentara Jepang itu tidak dipersenjatai. Mungkin, lain cerita bila tentara Jepang ketika itu dipersenjatai lengkap.

Baca Juga: KKP Pastikan Proses Hukum Pelaku Perdagangan Sirip Hiu Ilegal di Sulawesi Tenggara

"Meski pun penjuang Bekasi banyak, saya kira ketika itu bisa saja kalah, karena tentara Jepang tidak dipersenjatai, apalagi mereka punya keahlian khusus, namun karena senjata mereka di simpan di gerbong belakang, jadi keburu dihadang," kata Ali.

Sebanyak 90 tentara Jepang yang tewas di tangan pejuang Bekasi itu pun selanjutnya dibuang ke Kali Bekasi, peristiwa ini kata Ali, sempat membuat air kali berubah warna menjadi merah.

"90 tentara Jepang itu seluruh mayatnya dibuang ke Kali Bekasi, jadi saksi mata yang dulu melihat peristiwa itu menyebutnya Kali Bekasi menjadi merah," ujar Ali.

Peristiwa berdarah itu kemudian diabadikan ke dalam Monumen Kali Bekasi yang terletak di Jalan Ir. H Juanda, Bekasi Selatan, dekat jembatan rel Kali Bekasi. Pada prasasti di monumen tersebut, tertuang sepenggal sejarah aksi para pejuang Bekasi melawan tentara kolonial.

"Monumen Kali Bekasi juga disebut Monumen Front Perjuangan Rakyat Bekasi, sebuah epos yang memiliki arti sangat dalam bagi Rakyat Bekasi, menggambarkan keberanian Rakyat Bekasi, juga lambang kepahlawanan dan kejuangan masyarakat Bekasi," kata dia.

"Nilai-nilai kepatriotan tergambar dalam reflika monumen ini," lanjut dia.

Terlebih, kata Ali, pada massa itu Kali Bekasi merupakan garis demokrasi antara tentara Sekutu (Inggris dan NICA) yang menduduki Jakarta dengan lasakar-laskar di sebarang kali bagian timur.

"Monumen ini dibangun berkat kerja sama Pemerintah Kota Bekasi dengan Pemerintah Jepang sebagai monumen sejarah, tugu ini juga memberikan nilai edukatif yaitu, pesan perdamaian dan cinta kasih," tulis pesan dalam prasasti monumen tersebut.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini