75 Tahun Indonesia Merdeka, Megawati Nilai Kiprah Perempuan di Politik Masih Kurang

Dita Angga R, Sindonews · Senin 17 Agustus 2020 12:59 WIB
https: img.okezone.com content 2020 08 17 337 2263370 75-tahun-indonesia-merdeka-megawati-nilai-kiprah-perempuan-di-politik-masih-kurang-E7xt9rWaeL.jpg Presiden ke-5 RI, Megawati Soekarnoputri.

JAKARTA - Presiden Ke-5 RI, Megawati Soekarnoputri menyampaikan beberapa pesan untuk memperingati HUT Ke-75 RI dalam video yang diunggah Biro Pers Sekretariat Presiden. Salah satu hal yang menjadi sorotannya adalah keterlibatan perempuan di kancah politik Indonesia.

Sebagai satu-satunya presiden perempuan di Indonesia, Megawati menilai keterlibatan kaum Hawa di perpolitikan Tanah Air masih sangat kurang.

“Sebenarnya kalau saya melihat, para wanita Indonesia ini masih sangat kurang di dalam kiprahnya di dalam bidang politik. Saya menekankan hal itu,” katanya dikutip dari video Biro Pers Setpres, Senin (17/8/2020).

BACA JUGA: Sederet Pesan Para Mantan Presiden dan Wapres di HUT ke-75 RI

Dia menyebut saat ini memang sudah banyak organisasi bagi perempuan Indonesia, Namun hal tersebut belum cukup mampu mendorong para perempuan terjun ke ranah politik.

“Tetapi masih sangat kurang wanita-wanita yang berani terjun di bidang politik. Tentunya yang harus kita lihat kendalanya itu apa,” ungkapnya.

BACA JUGA: Kisah Nasionalis Warga Berdarah Tionghoa, Kadang Dianggap Gila

Padahal sebenarnya hukum formal Indonesia memberikan peluang yang besar bagi perempuan Indonesia untuk berkiprah di bidang politik. Megawati menyebut adanya hukum formal tersebut membuat kaum perempuan berkiprah sama dengan kaum laki-laki. Hal ini sebagaimana disebutkan di dalam Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 bahwa setiap warga negara mempunyai hak yang sama.

“Artinya tidak disebut laki atau perempuan di mata hukum. Jadi kita harusnya kaum perempuan kita menyadari hal itu,” tuturnya.

Megawati menuturkan bahwa dalam istilah Bahasa Jawa, perempuan itu sering disebut sebagai konco wingkin (teman di belakang). Bahkan ada pula istilah bahwa jika masuk surga perempuan itu katut (terbawa), masuk neraka itu nunut (menumpang). Namun, dia menolak istilah-istilah tersebut.

“Sudah bukan jamannya lagi kaum perempuan berbunyi itu seperti apa yang tadi saya katakan peribahasa Jawa itu. Karena kenyataan di lapangan banyak sekali bapak dan ibu bekerja untuk membesarkan anak-anaknya supaya anak Indonesia menjadi bergoizi dengan makanan. Lalu pintar otaknya. Sehingga mereka dapat meneruskan sekolah tidak hanya sampai di tingkat SD atau SMP atau SMA tapi seluruhnya dapat melakukan hal itu sampai di tingkat Universitas,” paparnya.

Lebih lanjut Megawati menilai bahwa kiprah perempuan dapat semakin luas. Namun tentunya harus dibuka ruang oleh pemerintah maupun di internal keluarga masing-masing.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini