Wamenag: Madrasah dan Pesantren Harus Adaptasi Terhadap Covid-19

Fakhrizal Fakhri , Okezone · Kamis 13 Agustus 2020 06:16 WIB
https: img.okezone.com content 2020 08 13 337 2261380 wamenag-madrasah-dan-pesantren-harus-adaptasi-tehadap-covid-19-WqXevZ4c9t.jpg Foto: Illustrasi Okezone.com

JAKARTA - Wakil Menteri Agama (Wamenag), Zainut Tauhid Sa'adi menegaskan bahwa semua lembaga pendidikan keagamaan harus beradaptasi dan berdamai dengan Pandemi Covid-19. Langkah ini menjadi keputusan terbaik, karena masih pandemi Covid-19 belum diketahui kapan akan berakhir.

"Di tengah adaptasi kebiasaan baru ini, pendidikan madrasah dan pesantren pun dituntut untuk mampu berkreasi, dan produktif agar tidak tertinggal oleh dinamika keadaan yang berjalan serba cepat," kata Zianut Tauhid dalam keterangannya, Kamis (13/8/2020).

Zainut meminta agar madrasah dan pesantren memiliki optimisme tinggi dan produktif dalam menjalani proses pengajaran. Menurut dia, optimisme dan semangat berproduktif bisa dijadikan kiat untuk mencari keberkahan dari musibah Covid-19.

 Virus Corona

"Kita harus mampu mengambil manfaat dari musibah Covid-19 dengan menciptakan inovasi dan kreativitas baru. Salah satu bentuk manfaat yang dapat kita petik dari Covid-19 adalah percepatan migrasi pembelajaran dari sistem konvensional ke digital sebagai jawaban yang tepat," ujarnya.

Dia menerangkan, pembelajaran secara virtual dan alternatif tatap muka saat ini dinilai sebagai proses inovasi, agar pembelajaran tidak berhenti.

"Semua juga tidak ada yang dapat meramal hingga kapan Pandemi Covid-19 akan berakhir," tutur Waketum MUI itu.

Zainut mendorong agar madrasah dan pesantren terus melakukan inovasi-inovasi dalam proses keberlangsungan pendidikan di tengah pandemi corona.

Inovasi virtual, lanjutnya, juga mewabah di tengah masyarakat. Bahkan, pengajian emak-emak pun telah memakai zoom. Tukang sayur juga menawarkan dagangan dengan online. Para ustadz marak mengisi pengajian dengan virtual.

Pesantren pun kini mulai membuka kembali proses pembelajarannya, sehingga para santri berduyun kembali ke pondok. Di era Pandemi ini, ada pesantren yang ketat menerapkan protokoler kesehatan misalnya satu kamar diisi 2-4 santri, namun banyak pula satu kamar diisi hingga 20 santri karena keterbatasan fasilitas kamar.

"Namun secara umum santri kembali menyantri dinilai lebih aman dari serangan Covid-19 daripada mereka di luar pesantren. Maka banyak orang tua yang gembira ketika pesantren kembali dibuka untuk belajar para santri," kata Wamenag.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini