Belajar dari Flu Spanyol, Doni Monardo Tak Ingin Covid-19 Dianggap Konspirasi

Binti Mufarida, Sindonews · Senin 10 Agustus 2020 05:52 WIB
https: img.okezone.com content 2020 08 10 337 2259551 belajar-dari-flu-spanyol-doni-monardo-tak-ingin-covid-19-dianggap-konspirasi-y5hHQZek6D.jpg Ketua Satgas Covid-19 Doni Monardo (Foto: BNPB)

JAKARTA - Ketua Satuan Tugas Penanganan Covid-19, Letjen Doni Monardo meminta semua pihak untuk ikut serta berpartisipasi menangani Covid-19. Doni pun mengungkapkan ia tidak ingin mendengar masyarakat menganggap bahwa Covid-19 adalah rekayasa ataupun konspirasi.

“Upaya kita adalah 5 bulan ini atau kurang dari 5 bulan untuk betul-betul melakukan berbagai macam langkah. Kita tidak ingin lagi mendengarkan masih ada masyarakat yang tidak patuh, masih ada masyarakat yang menganggap Covid rekayasa, Covid konspirasi, yang masih mengambil paksa jenazah padahal sudah diputuskan oleh laboratorium sebagai korban Covid, positif Covid,” tegas Doni secara virtual, Minggu (9/8/2020).

Doni meminta seluruh tokoh masyarakat melakukan pendekatan kepada masyarakat untuk melakukan edukasi sebagai upaya mencegah terpapar Covid-19. “Tentunya perlu pendekatan-pendekatan yang tepat melalui tokoh-tokoh agama di daerah. Demikian juga langkah-langkah pelibatan budayawan, antropolog, sosiolog kita harapkan juga bisa optimal di seluruh daerah,” ujarnya.

Baca Juga:  Ibu hingga Anak-Anak Bisa Digerakkan Kampanye Protokol Kesehatan

Masyarakat Indonesia harus belajar pada sejarah bahwa pandemi akibat virus yang dikenal flu Spanyol pernah terjadi pada tahun 1918 lalu. “Kita semua harus belajar juga dari sejarah ternyata kasus ini dengan nama lain dulu adalah flu Spanyol telah pernah terjadi di wilayah nusantara yang saat itu masih dikuasai oleh pemerintah kolonial Hindia-Belanda,” katanya.

“Korban jiwanya mencapai hampir 4 juta orang paling banyak itu di Pulau Jawa karena penduduknya sangat banyak 4 juta jiwa. Korban jiwa terjadi karena kasus flu Spanyol pada periode bulan Maret 1918 sampai dengan periode September 1919,” kata Doni.

Menurut Doni, upaya yang dilakukan oleh pemerintah Hindia-Belanda waktu itu sebagai upaya untuk sosialisasi adalah dengan wayang. “Salah satu cara yang dilakukan Belanda yaitu dengan menggunakan kearifan lokal memanfaatkan wayang untuk program sosialisasi,” tuturnya.

Saat ini, sosialisasi mengenai Covid-19 kata Doni haru menyesuaikan zaman salah satunya melalui media sosial. “Nah, hari ini tentu kita harus menyesuaikan program sosialisasi yang paling banyak diminati masyarakat lewat apa bisa lewat televisi, radio dan media sosial, lewat Instagram, lewat YouTube, lewat Facebook, apa saja harus kita lakukan,” ujarnya.

“Dari udara, dari darat, dari fisik dan kita harus juga menggalakkan program setiap hari setiap orang harus mampu mengajak orang-orang di sekitarnya untuk patuh kepada protokol kesehatan,” jelas Doni.

Baca Juga:  Ketua Satgas Covid-19: Kesadaran Masyarakat Pakai Masker Kurang dari 50%

Doni mengatakan sosialisasi juga bisa dilakukan sebagaimana dulu ada empat sehat lima sempurna. “Mari kita transformasikan empat sehat lima sempurna jaman dulu ke dalam kehidupan kita hari ini selama masih terjadi wabah Covid,” katanya.

“Pertama pakai masker, yang kedua jaga jarak, yang ketiga mencuci tangan. Yang keempat olahraga teratur, istirahat yang cukup tidak boleh panik, karena panik bisa menimbulkan imunitas tubuh berkurang atau menurun sehingga terpapar Covid. Dan yang terakhir yang kelima adalah memakan-makanan yang bergizi dan sehat,” ajak Doni.

(Ari)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini