Kemenristek Sebut Terima 903 Proposal Penelitian Obat Covid-19

Binti Mufarida, Sindonews · Kamis 06 Agustus 2020 14:21 WIB
https: img.okezone.com content 2020 08 06 337 2257944 kemenristek-sebut-terima-903-proposal-penelitian-obat-covid-19-I1xWzC0Ty8.jpg Ilustrasi. (Shutterstock)

JAKARTA – Ketua Konsorsium Riset dan Inovasi Covid-19 Kementerian Riset dan Teknologi/BRIN, Ali Ghufron Mukti, menyebutkan pihaknya sedang melakukan uji coba terhadap 903 proposal penelitian untuk menemukan obat virus corona (Covid-19).

Ali mengatakan Kemenristek akan terus memfasilitasi penelitian untuk menemukan obat Covid-19.

“Jadi Kementerian Riset dan BRIN, ini memberikan kesempatan bahkan kita memberikan fasilitasi. Termasuk untuk dananya tentang Covid ini sudah dua kali ya. Paling tidak terakhir itu ada 903 proposal,” katanya dalam diskusi di Media Center Satuan Tugas Penanganan Covid-19, Graha BNPB, Jakarta, Kamis (6/8/2020).

Bahkan, saat ini proposal yang masuk telah dalam proses uji coba di beberapa universitas, di antaranya di Universitas Gadjah Mada dan Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS).

“Kalau orang bilang, ‘Pak, kami punya ini bagus ini’ ya kemudian silakan, kami fasilitasi untuk diuji, bikin proposal. Tapi, ini seperti apa harus jelas. Nah itu sekarang bisa diujicobakan di UGM, UNS demikian juga di Manado ya, sedang diujicobakan dan kita fasilitasi,” ujarnya.

Ali mengatakan, tidak menutup kemungkinan akan terus mengembangkan tumbuhan yang akan menjadi obat herbal guna menemukan obat Covid-19.

“Kalau herbal yang kita itu memiliki tumbuhan lebih kurang lebih dari 17 ribu tumbuhan yang memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai herbal,” ucapnya.

Namun, kata Ali, dalam proses tumbuhan menjadi obat herbal diklasifikasikan menjadi tiga. “Tetapi paling tidak itu diklasifikasikan menjadi 3. Satu sebagai jamu, nah itu tidak perlu uji klinis gitu. Yang dua sebagaiobat herbal terstandar. Yang ketiga sebagai fitofarmaka,” katanya.

Baca Juga : Kemenristek Ingatkan Masyarakat Waspada Klaim Obat Covid-19 di Pasaran

Setelah itu, dalam proses peredarannya harus ada izin dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). “Kalau dia jamu tentu nanti ada proses untuk izin edarnya, daftar di BPOM. Nanti kalau dia mengaku bahwa dia katakan ini sebagai obat herbal terstandar maka harus ada uji paling tidak in vitro dan uji lab, benar tidak kayak gitu,” tutur Ali.

Baca Juga : Covid-19, Jumlah Pasien Sembuh di Malang di Bawah Rata-Rata Jatim

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini