DPR Soroti Rencana Prabowo Beli Pesawat Tempur Bekas dari Austria

Fakhrizal Fakhri , Okezone · Jum'at 24 Juli 2020 06:01 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 24 337 2251259 dpr-soroti-rencana-prabowo-beli-pesawat-tempur-bekas-dari-austria-PmgI8wlG6j.jpg Menhan, Prabowo (foto: Okezone.com)

JAKARTA - Anggota Komisi I DPR RI, Willy Aditya menyoroti rencana Menteri Pertahanan (Menhan) Prabowo Subianto yang ingin berencana membeli 15 unit pesawat tempur bekas dari Austria berjenis Eurofighter Typhoon.

Ia mengatakan, rencana penambahan alutsista harus menyesuaikan sistem pertahanan komprehensif yang menjadi kebijakan umum pertahanan negara. Pembelian alutsista yang dilakukan tanpa dasar kebijakan pertahanan justru akan terlihat sebagai belanja serampangan.

"Beli pesawat, tank, senjata serbu itu semua harus ada dasarnya. Apalagi ini beli pesawat tempur udara jenis superfighter. Salah-salah kita bisa dilihat sedang mengubah strategi defensive aktif menjadi ovensif. Ini bisa jadi soal pertahanan dan politik luar negeri yang terlihat oleh negara lain," kata Willy dalam keterangannya, Jumat (23/7/2020).

 Prabowo

Politisi Partai NasDem menilai rencana pembelian alutsista itu terkesan tergesa-gesa untuk pembelanjaan APBN Kemenhan. Menurut dia, belanja alutsista jenis apapun akan sah saja bila didahului dengan kajian komprehensif sistem pertahanan yang akan dibangun.

"Belanja alutsista semacam pesawat tempur ini bukan seperti belanja rutin lainnya. Ini adalah belanja strategis karenanya harus sangat hati-hati, disesuaikan dengan doktrin pertahanan dan politik luar negeri Indonesia. Tidak bisa cuma dengan alasan peremajaan atau alasan pembinaan trimatra," ujarnya.

Ia menerangkan bahwa pesawat Typhoon yang hampir sejenis dengan Sukhoi-35 akan menjadi tidak efisien dan berpotensi akan membengkakkan anggaran.

"Dari jenis Tyhpoon yang mau dibeli ini kan sebenarnya kita sudah punya Sukhoi 35. Sistem perawatan, peralatan, suku cadang dan kebutuhan Sukhoipun sudah disiapkan, kenapa justru beli yang berbeda lagi. Kalau beli yang berbeda, maka belanja lainnya untuk perbaikan, perawatan, suku cadang dan lainnyapun akan beda. Dampaknya akan juga berkenaan dengan APBN nantinya. Pak Prabowo harus pikirkan juga hal ini. Lebih baik beli dari model yang sama saja," tuturnya.

Willy menegaskan sebagai mantan komandan Kopassus, Prabowo tentu sangat memahami ancaman pertahanan negara, khususnya di matra darat. Namun demikian, kebijakan ini harus diperkuat dengan kajian-kajian stretegis pertahanan negara yang lebih komprehensif.

"Kalau Amerika punya Network Centric Warfare (NCF) sebagai doktri perangnya agar dapat menyesuaikan dengan kondisi dan perkembangan teknologi informasi. Lantas bagaimana dengan kita menghadapi perang asimetris. Ini yang harus dipikirkan lebih matang selain belanja 'rutin' alutsista. Pak Prabowo bisa memulai hal strategis ini. Jangan sampai dia dikerjai oleh anak buahnya dengan paksaan belanja alutsista," pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini