Sulitnya Anak Belajar Online di Tengah Pandemi Covid-19

Muhamad Rizky, Okezone · Kamis 23 Juli 2020 16:28 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 23 337 2251010 sulitnya-anak-belajar-online-di-tengah-pandemi-covid-19-0UPqN1eLky.jpg ilustrasi: okezone

JAKARTA - Pandemi virus Corona (Covid-19) membuat sejumlah lembaga kesulitan menjalankan aktivitas. Tak terkecuali lembaga pendidikan yang 'gagap' lantaran harus melakukan kegiatan belajar mengajar (KBM) dari rumah.

Semua ruang-ruang kelas yang biasa dipakai KBM kini harus digantikan dengan sistem daring. Para pelajar siswa/siswi maupun guru dipaksa untuk siap belajar dari rumahnya demi menghindari virus corona.

(Baca juga: Presiden Jokowi: 70 Juta Anak Indonesia Terdampak Pandemi Corona)

Namun belajar online tak semudah yang kita bayangkan. Banyak para siswa dan guru menemui hambatan lantaran 'gagap' dengan pembelajaran secara daring ini. Salah satunya Taman Pendidikan Alquran (TPQ) Al-Furqan di kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

Para guru yang tidak bisa mengajar secara langsung menemui hambatan meski kegiatan dilakukan dengan cara video call. Banyak materi mengaji yang diberikan kepada murid sulit dipahami lantaran banyak gangguan ketika melangsungkan kegiatan.

"Kendalanya umumnya itu karena kalau pengajian ngaji itu kalau pelajaran yang harus di contohkan itu baiknya tatap muka, kalau ini terkendala karena enggak direct (langsung) begitu seperti anak salah dan terganggu signal, materi juga tidak bisa tersampaikan dengan baik," kata Kepala TPQ Al-Furqan, Hamidah Rosichah kepada Okezone, (23/7/2020).

Ia mengatakan, saat ini ada 60 orang anak setingkat SD yang belajar di TPQ Al-Furqan. Puluhan anak itu dibagi kedalam beberapa kelompok untuk bisa melakukan KBM secara online.

Setiap hari mereka belajar selama 1 setengah jam dari pukul 16.00 WIB hingga 17.30 WIB. Namun tidak semua anak bisa mengikuti kegiatan belajar lantaran terkendala alat komunikasi dan orang tua yang sibuk bekerja. Akhirnya diantara mereka pun terpaksa harus izin tidak bisa mengikuti kegiatan belajar.

"Karena kadang orangtuanya enggak bisa dihubungi, kemudian orang tuanya kerja hape cuma satu, ada juga orang tuanya yang sedang repot kerja. Peran orang tua memang sangat butuh," ungkapnya.

Tak hanya itu anak-anak yang belajar dari rumah juga tidak mendapatkan fokus untuk belajar karena lingkungan rumah yang memang ramai sehingga terganggu. Akibatnya pembelajaran pum tidak bisa dilaksanakan secara efektif.

"Ketika anak-anak didampingi orang tua itu ter-distract banyak gangguan lah kalau di kelas kan lebih fokus, mereka juga kurang mandiri," bebernya.

Adapun terkait dengan kuota internet kata dia, pihak sekolah tidak terlalu membebankan orang tua sebab pada pelaksanaannya kegiatan belajar online tidak dilakukan selama 1 jam setengah full melainkan hanya beberapa menit.

Di sekolah mengaji TPQ Al-Furqan ini mereka juga tidak dipatok biaya SPP melainkan hanya biaya infaq yang diberikan setiap hari namun itu sesuai kemampuan keluarga.

"Mungkin kan banyak sekolah yang SPP mahal tapi kami disini tidak bebankan SPP kami cuma pakai infaq setiap hari seikhlasnya," tutup Hamidah.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini