Ini Angka Kekerasan Anak Sebelum & Sesudah Pandemi Covid-19

Fakhrizal Fakhri , Okezone · Kamis 23 Juli 2020 09:01 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 23 337 2250692 ini-angka-kekerasan-anak-sebelum-sesudah-pandemi-covid-19-Anue8rA9j1.jpg Foto: Illustrasi Shutterstock

JAKARTA - Deputi Bidang Perlindungan Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA), Nahar mengatakan bahwa terjadi penurunan laporan angka kekerasan terhadap anak selama pandemi Covid-19.

"Penurunan kasus yang terlaporkan dalam aplikasi SIMFONI PPA ini, belum tentu berarti adanya penurunan kasus kekerasan selama masa pandemi Covid-19, namun bisa disebabkan oleh beberapa hal," kata Anhar kepada Okezone, Kamis (22/7/2020).

Berdasarkan data Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (SIMFONI PPA) menurut tahun pelaporan menunjukkan bahwa sebelum masa pandemi (1 Januari-28 Februari 2020) tercatat ada 2.141 kasus kekerasan terhadap anak dengan 2.370 anak korban.

 kekerasan

Sementara itu, saat pandemi Covid-19 (29 Februari-17 Juli 2020) tercatat terdapat 1.787 kasus kekerasan terhadap anak dengan 2.038 anak menjadi korban.

"Sehingga secara umum dapat kita simpulkan bahwa berdasarkan pencatatan kasus-kasus pada aplikasi Simfoni PPA terjadi penurunan kasus selama masa pandemi Covid-19," sambungnya.

Namun, lanjut dia, dari total jumlah korban, khususnya anak korban kekerasan seksual, terjadi peningkatan jumlah korban, yang semula di periode sebelum pandemi berjumlah 1.524 anak menjadi 2.367 anak korban pada masa pandemi Covid-19.

 

Menurut dia, penurunan laporan kekerasan kepada anak bisa terjadi lantaran adanya sejumlah daerah yang menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Selain itu, Anhar menilai penurunan laporan kasus bisa diakibatkan akses pelaporan kekerasan yang terbatas karena keberadaan pelaku di dekat korban.

"Adanya ketergantungan korban terhadap pelaku sehingga tidak ada alternatif lain selain tidak melaporkan kasus yang dialaminya. Dan kurangnya peran lingkungan untuk memberikan pertolongan kepada korban kekerasan," tuturnya.

Anhar menerangkan, jumlah anak korban kekerasan cenderung lebih tinggi saat pandemi Covid-19. Sehingga, hal ini perlu menjadi perhatian khusus karena kondisi saat ini sangat mempengaruhi kerentanan kesehatan fisik dan mental, serta perekonomian keluarga yang berdampak pada meningkatnya kasus kekerasan baik fisik, psikis maupun seksual oleh orang-orang terdekat.

 

Data KPAI

Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Susanto mengatakan, pihaknya mencatat angka kekerasan anak selama sebelum dan sesudah pandemi masih berlangsung fluktuatif.

Ia pun memberikan data kekerasan anak. Dari data itu, KPAI mendapatkan laporan 2086 kasus. Namun, data yang masuk ini hanya sampai pada 31 Mei 2020 pukul 18.00 WIB.

Sedangkan sepanjang 2019 KPAI mencatat ada laporan 4.369 kasus, 2018 ada 4.885 kasus kekerasan anak, dan 4.579 kasus pada 2017. Angka itu sedikit lebih dari 2016, dimana KPAI mencatat ada 4.622 kasus pada tahun itu.

Sebanyak 4.309 kasus pada 2015, 5.066 kasus pada 2014, 4.311 pada 2013, kemudian 3.512 kasus pada 2012, hingga 2.178 kasus pada 2011.

Pada tahun ini, KPAI mencatat 1.060 pengadulan kasus kekerasan terhadap anak melalui media sosial.

Susanto berharap, momentum Hari Anak Nasional (HAN) yang berlangsung tahun ini menjadikan komitmen pemerintah daerah semakin kuat dalam melindungi anak sebagai generasi bangsa di masa mendatang.

"Harapan kami komitmen pemerintah daerah semakin optimal agar kualitas anak-anak Indonesia ke depan semakin cemerlang," tandasnya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini