KPAI Terima Laporan Siswa DKI Dilarikan ke RS Selama Belajar Jarak Jauh

Fakhrizal Fakhri , Okezone · Kamis 23 Juli 2020 07:30 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 23 337 2250671 kpai-terima-laporan-siswa-dki-dilarikan-ke-rs-selama-belajar-jarak-jauh-tqbScnk2cn.jpg Foto: Illustrasi Okezone.com

JAKARTA - Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Retno Listyarti menyebut, pihaknya mendapatkan laporan seorang siswa SMAN di DKI Jakarta yang terpaksa dilarikan ke rumah sakit lantaran tugas yang menumpuk selama Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).

"Siswa SMAN di salah satu sekolah di DKI Jakarta mengalami kelelahan dan stress saat mengerjakan tugas-tugas sekolah, dan yang paling memberatkan menurut pengakuannya adalah tugas-tugas mata pelajaran Kimia. Si anak yang mencoba menyelesaikan tugas berat yang waktunya pendek itu membuat dirinya jatuh sakit dan harus dilarikan ke IGD salah satu rumah sakit," kata Retno dalam keterangannya, Kamis (23/7/2020).

Selain itu, KPAI juga menerima laporan adanya siswa SMA Negeri di Nganjuk, Jawa Timur berinisial RVR dilaporkan tidak naik kelas lantaran tak bisa mengikuti ujian Penilaian Akhir Tahun (PAT) secara daring.

 Sekolah

Menurut Retno, siswa malang itu tak bisa ikut ujian karena komputer jinjing milik siswa kelas X tersebut rusak. Alhasil, nilai akhir siswa tersebut di dalam rapor tidak mencapai Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM).

"Adapun lima mata pelajaran tersebut ialah Pendidikan Agama, Pendidikan Jasmani, Seni Budaya, Sejarah Indonesia, dan Informatika," ujar Retno.

Retno menambahkan, KPAI juga menerima laporan SMKN di Jawa Timur yang tidak menaikkan siswanya karena siswa tersebut tidak menyerahkan tugas-tugas saat PJJ secara online. Namun, orang tua siswa itu bersikeras bahwa anaknya sudah menyerahkan tugas meskipun waktunya mendekati deadline.

"Selama pandemi tidak ada interaksi guru-siswa hanya mengerjakan tugas-tugas.

Orangtuanya kemudian dipanggil sekolah dan anaknya akan diberikan kelonggaran jika bersedia dimasukan sebagai Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) karena ananda ber-IQ 89 dan kesulitan dalam menulis," lanjut Retno.

"Padahal mayoritas penugasan selama PJJ adalah menulis, namun si anak memiliki kemampuan verbal dan psikomotor yang baik. Anak menjadi tertekan secara psikologis dengan situasi ini dan ananda mengetahui kalau sekolah menganggapnya sebagai ABK. Orangtua lebih memilih anaknya mengundurkan diri dari sekolah tersebut," tuturnya.

Menurut Retno, permasalahan tersebut terjadi karena guru dan sekolah tetap mengejar ketercapaian kurikulum sehingga membebani anak-anak selama belajar dari rumah. Padahal, Kemendikbud telah memperbolehkan guru untuk tidak mengejar tercapainya kurikulum selama pandemi Covid-19.

"Yang paling parah adalah anak-anak berkebutuhan khusus nyaris tidak terlayani pendidikan," ujarnya.

Retno menjelaskan, faktor kerusakan perangkat, keterbatasan kuota, masalah sinyal, dan hambatan teknis lainnya seharusnya membuat pihak sekolau untuk bersikap bijak dalam menyelesaikan persoalan tersebut.

"Mengingat PJJ secara daring masih dilaksanakan di semester ini. Sehingga kasus anak-anak tidak naik kelas dikarenakan kesulitan PJJ daring masih sangat mungkin terjadi," tandasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini