Pantang Jual Diri, LC Karaoke Cantik Ini Bertahan Hidup Jadi Pemandu di Wisma Atlet

Sindonews, Sindonews · Rabu 22 Juli 2020 14:05 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 22 337 2250322 pantang-jual-diri-lc-karaoke-cantik-ini-bertahan-hidup-jadi-pemandu-di-wisma-atlet-Q4qwP0Aaro.jpg Foto: Sindonews

JAKARTA – Dampak ekonomi akibat pandemi virus Corona (Covid-19) memukul hampir semua lini bisnis di Tanah Air, termasuk tempat hiburan malam. Untuk menyambung hidup, berbagai usaha dilakukan para pekerja hiburan malam.

Salah satu pekerja tempat hiburan, Diana (26), bahkan rela bekerja serabutan untuk menghidupi keluarganya di kampung.

Karena sebagai pemandu lagu atau ladies companion (LC), tempat ia bekerja terpaksa ditutup. Apalagi Pemprov DKI Jakarta kembali memperpanjang pembatasan sosial berskala besar (PSBB) transisi fase I selama dua pekan mendatang.

“Saya lebih baik cari cara dapat duit yang lain dibanding harus begitu (menjajakan diri),” kata Diana dikutip Sindonews, Rabu (22/7/2020).

Wanita cantik yang telah malang melintang sebagai pemandu lagu sejak 2016 di berbagai tempat karaoke eksekutif di Jakarta ini, mengaku belum pernah berkencan dengan tamunya.

“Saya profesional saja. Sebagai pemandu saya menjual suara saya, bukan badan saya. Yah paling minum alkohol aja,” ujarnya.

Kendati demikian, hatinya sempat goyang saat wabah Corona melanda Jakarta pada awal Maret 2020 lalu. Dia sempat terpikir untuk menjajakan diri, namun suaminya secara tegas melarang dan meminta untuk bekerja dengan cara lain yang halal.

Diana pun mendapat ide, karena banyak temannya sesama pemandu lagu yang membutuhkan makanan. Ia pun menjadikan itu peluang usaha dengan menjajakan makanan yang dia masak sendiri di kontrakannya. Dari situ ia mulai menabung dari jual beli masakan. “Lumayan mas, Rp100-200 ribu per hari mah saya dapat,” imbuhnya.

Namun jika dibandingkan dengan pendapatannya sebagai pemandu lagu di tempat karaoke, sangat jauh yang dia terima, yakni minimal Rp500 per hari. Kendati demikian, dia tetap bersyukur masih bisa bertahan hidup dari usahanya tersebut.

Untuk menambah penghasilannya, sesekali dia juga bekerja freelance sebagai pemandu travel di Wisma Atlet Kemayoran. Dia memanfaatkan banyak Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang datang dari berbagai negara untuk mengisolasi diri, Diana kemudian menawarkan diri menjadi pemandu wisata.

“Bahasa kasarnya sih kernet mas,” ujarnya sambil tersipu malu.

Sebagai pemandu travel, dia pun merasakan berpergian ke beberapa kota besar, seperti Bandung, Semarang, hingga Surabaya. Sesekali ia bersama suami juga melayani perjalanan pribadi dengan bekas pasien ke kota besar lainnya. Dari dua pekerjaan itu, Diana mengaku mendapatkan penghasil Rp1-2 juta setiap pekan. “Walapun kadang kita harus tidur di POM bensin,” katanya.

Namun, pendapatannya pun kembali berubah menjelang bulan Mei, saat Kemenhub kembali membuka penerbangan. Dari situ ia mulai kehilang pendapatan itu. Sebab keberadaan bus bandara membuat sejumlah travel gelap tidak terpakai. Masyarakat lebih memilih menggunakan bus bandara karena harganya lebih murah dan jauh lebih aman.

Diana mengakui merasa nyaman bekerja sebagai pemandu lagu di karaoke eksekutif. Ia pun bisa menjaga diri selama bekerja di sana. Namun bekerja di sana tidak bisa mendapatkan kepastian soal pendapatan dan nilainya lebih kecil.

Karena itu, selama pandemi ia mulai menurunkan gaya hidup, mulai dari berpindah kontrakan ke kawasan yang murah, hingga tak lagi jajan atau pergi ke mal. “Untungnya selama PSBB mal-mal tutup,” ujarnya mengakhiri perbincangan.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini