Share

Ratusan Ribu Meninggal karena TBC di Indonesia, Presiden: Kita Harus Waspada!

Fahreza Rizky, Okezone · Selasa 21 Juli 2020 12:12 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 21 337 2249653 ratusan-ribu-meninggal-karena-tbc-di-indonesia-presiden-kita-harus-waspada-w3fAUT0Swe.jpg Foto: Biro Pers Sekretariat Presiden

JAKARTA -- Presiden Joko Widodo menyebut tuberkulosis (TBC) menjadi penyakit menular yang mematikan. Bahkan, Indonesia menempati peringkat ketiga kasus penderita TBC di dunia, setelah India dan China.

(Baca juga: Presiden Jokowi Buka Peluang Satgas Covid-19 Tangani TBC)

Presiden Jokowi juga menyoroti penularan TBC di lingkungan padat penduduk alias kumuh, khususnya di tempat tinggal yang lembab lantaran tak masuk cahaya matahari.

Oleh sebab itu, penanganan TBC harus dilakukan lintas sektor, tidak hanya dari sisi kesehatan saja, melainkan juga infrastruktur.

"Kemudian yang ketiga upaya pencegahan upaya preventif dan promotif untuk mengatasi TBC ini betul-betul harus lintas sektor, termasuk mungkin dari sisi infrastruktur," ucapnya saat rapat terbatas di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (21/7/2020).

"Semuanya harus dikerjakan terutama untuk tempat tinggal atau rumah yang lembab, kurang cahaya matahari tanpa ventilasi. Terutama ini tempat yang padat, ini perlu kepadatan lingkungan ini betul-betul sangat berpengaruh terhadap penularan antar individu," tambah Jokowi.

Menurut Mantan Gubernur DKI itu, TBC menjadi penyakit yang menyebabkan kematian terbanyak di samping HIV/AIDS. Setidaknya selama kurun waktu 2017 hingga 2018, ada ratusan ribu warga Indonesia meninggal akibat ini.

"Data yang saya miliki di negara kita di Indonesia di tahun 2017 116 ribu meninggal karena TBC dan 2018 98 ribu meninggal karena TBC. Dan juga perlu kita ketahui 75 persen pasien TBC adalah kelompok produktif artinya di usia produktif 15-55. Ini yang juga harus kita waspadai," jelasnya.

Saat ini, lanjut Jokowi, juga sudah ada 845 ribu warga penderita TBC. Dari jumlah itu hanya 562 ribu yang baru ternotifikasi. "Sehingga yang belum terlaporkan masih kurang lebih 33 persen. Ini hati-hati," pungkasnya.

Follow Berita Okezone di Google News

(fmi)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini