Polri Periksa 14 Saksi terkait Kasus Maria Lumowa

Arie Dwi Satrio, Okezone · Jum'at 17 Juli 2020 19:01 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 17 337 2248066 polri-periksa-14-saksi-terkait-kasus-maria-lumowa-6VzL1JjxwW.jpg Foto: Istimewa

JAKARTA - Karo Penmas Divisi Humas Polri, Brigjen Awi Setiyono tidak khawatir terhadap masa kadaluwarsa kasus dugaan pembobolan Bank BNI dengan tersangka Maria Pauline Lumowa yang bakal habis pada Oktober 2021. Sebab, kata Awi, pihaknya telah melakukan pemeriksaan terhadap 14 saksi.

Sebanyak 14 saksi tersebut meliputi rekan-rekan Maria Lumowa yang telah divonis oleh pengadilan serta dari pihak Bank BNI46. Para saksi tersebut telah dikantongi keterangannya oleh penyidik terkait dugaan pembobolan Bank sebesar Rp1,7 triliun lewat Letter of Credit (L/C).

"Kaduluarsa habis Oktober kapan? Tahun depan. Ya ndak papa. Kita akan proses ini, sudah 14 saksi kita lakukan pemeriksaan. Termasuk teman-temannya dulu si tersangka kan sudah di vonis semua. Kita sudah lakukan pemeriksaan termasuk dari BNI46," kata Awi saat menggelar konpers di kantornya, Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan, Jumat (17/7/2020).

 Baca juga: Pembobol Bank BNI Rp1,7 Triliun Maria Lumowa Menolak Diperiksa Polisi

Awi juga menjelaskan, pihaknya mendapat informasi bahwa tadi malam, sudah ada keputusan dari Kedutaan Besar (Kedubes) Belanda bahwa tidak ada pemberian bantuan pendampingan hukum terhadap Maria Lumowa. Kedubes Belanda, kata Awi, hanya menyodorkan daftar nama pengacara yang biasa digunakan oleh Kedubes Belanda.

"Kemudian terakhir sampai tadi malam sudah ada kepastikan bahwa Kedubes Belanda tidak akan memberikan bantuan hukum, cuma memberikan list selama ini pengacara-pengacara yang dipakai Kedubes Belanda," terangnya.

 Baca juga: Bareskrim Sita Aset Pembobol Bank Maria Pauline Lumowa Rp132 Miliar

Daftar list pengacara dari Kedubes Belanda itu telah diserahkan ke Maria Lumowa. Kata Awi, saat ini Maria Lumowa masih mempertimbangkan nama-nama pengacara tersebut.

"Tadi malam minta waktu pikir-pikir koordinasi dengan keluaganya, mana yang akan dipilih. Sejauh ini itu, tentunya nanti kalau sudah cepat kita akan segera dilakukan BAP. Kalaupun nanti tidak ada pilihan lain, tentunya opsi terakhir ya kita penyidik punya kewajiban untuk menyediakan pengacara," pungkasnya.

Sebelumnya, Maria Pauline Lumowa sempat menolak diperiksa oleh jajaran kepolisian. Maria Lumowa menolak diperiksa karena dirinya belum menemukan penasihat hukum atau pengacara yang tepat. Pihak kepolisian menghentikan sementara penyidikan terhadap Maria Lumowa hingga terpenuhinya hak untuk mendapatkan penasihat hukum.

Maria Pauline Lumowa merupakan Bos PT Gramarindo Mega Indonesia yang lahir di Paleloan, Sulawesi Utara, 27 Juli 1958. Ia ditetapkan sebagai salah satu tersangka kasus pembobolan kas bank BNI cabang Kebayoran Baru lewat Letter of Credit (L/C) fiktif. Namun, ia melarikan diri ke luar Indonesia pada 17 tahun yang lalu.

Maria Pauline Lumowa masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) atau buronan aparat penegak hukum Indonesia. Maria Lumowa dikabarkan terbang ke Singapura pada September 2003 atau sebulan sebelum ditetapkan sebagai tersangka oleh tim khusus yang dibentuk Mabes Polri.

Perkara Maria bermula pada periode Oktober 2002 hingga Juli 2003, dimana Bank BNI mengucurkan pinjaman senilai 136 juta dolar AS dan 56 juta Euro atau setara Rp 1,7 Triliun dengan kurs saat itu, kepada PT Gramarindo Group yang dimiliki Maria Pauline Lumowa dan Adrian Waworuntu.

Aksi PT Gramarindo Group diduga mendapat bantuan dari 'orang dalam' karena BNI tetap menyetujui jaminan L/C dari Dubai Bank Kenya Ltd., Rosbank Switzerland, Middle East Bank Kenya Ltd., dan The Wall Street Banking Corp yang bukan merupakan bank korespondensi Bank BNI.

Pada Juni 2003, pihak BNI yang curiga dengan transaksi keuangan PT Gramarindo Group mulai melakukan penyelidikan dan mendapati perusahaan tersebut tak pernah melakukan ekspor. Dugaan L/C fiktif ini kemudian dilaporkan ke Mabes Polri.

Namun Maria Pauline Lumowa ternyata sudah lebih dahulu terbang ke Singapura pada September 2003 atau sebulan sebelum ditetapkan sebagai tersangka oleh tim khusus yang dibentuk Mabes Polri. Perempuan kelahiran Paleloan, Sulawesi Utara, pada 27 Juli 1958 tersebut belakangan diketahui keberadaannya di Belanda pada 2009 dan sering bolak-balik ke Singapura.

Hingga akhirnya, pemerintah melalui Kemenkumham berhasil membawa pulang Maria Lumowa dari Serbia melalui ekstradisi. Maria langsung dilakukan penahanan di Rutan Bareskrim Polri.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini