Pemprov DKI Diminta Pastikan Sirkulasi Udara di Gedung Perkantoran Aman

Fakhrizal Fakhri , Okezone · Selasa 14 Juli 2020 09:02 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 14 337 2245931 pemprov-dki-diminta-pastikan-sirkulasi-udara-di-gedung-perkantoran-aman-p4jk5kNIvE.jpg Foto: Illustrasi Shutterstock

JAKARTA - Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), Hermawan Syaputra meminta Pemprov DKI Jakarta mengevaluasi kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) transisi fase I.

Seharusnya, kata dia, DKI tidak melenturkan pembatasan di semua segmen ekonomi dalam PSBB transisi fase I.

"Di sektor pariwisata baik terbuka maupun tertutup, tidak boleh gegabah dibuka terutama pariwisata tertutup yang memang sudah dibuka DKI seperti bioskop, dan resto-resto karena ini sektor yang sangat sensitif dan berupa manajemen kesehatan lingkungan," kata Hermawan kepada Okezone, Selasa (14/7/2020).

Hermawan mengatakan, bahwa WHO telah mengingatkan Covid-19 bisa menular lewat udara melalui mikro droplet. Sehingga, ia mendorong agar DKI memastikan bahwa sektor-sektor yang dibuka tersebut tidak menjadi klaster penularan baru Covid-19.

 Pekerja

Herman mendorong, DKI untuk mengevaluasi bagaimana sistem sirkulasi udara di gedung-gedung, hingga perkantoran guna mencegah terjadinya penularan lewat udara.

"Perlu ada evaluasi betul-betul bagaimana sirkukasi udara, manajemen suhu udara, tata alur udara di kantoran maupun fasilitas hiburan tertutup itu. Karena ini menjadi penting di samping kita berharap virus ini sudah terkendali di komunitas," ujar Hermawan.

Menurut dia, manajemen pencegahan penyebaran Covid-19 berbeda antara perkantoran bisa dan tempat hiburan seperti mal, cafe, hingga bioskop. Pasalnya, manajemen pencegahan penularan Covid-19 di perkantoran akan lebih mudah dilakukan karena pengelola gedung lebih mudah untuk mengindentifikasi aktivitas di perkantoran tersebut.

 

"Kalau diperkantoran orangnya itu-itu aja, mudah diidentifikasi dan bisa ditelaah alurnya. Kita bisa manajemen kesehatan lingkungannya. Akan tetapi kalau di mal dan lain-lain standarisasi ini harus betul-betul dievaluasi, karena orang yang hadir di situ bukan orang yang sama dan dengan karakteristik berbeda-beda," sambungnya.

"Orang yang di mal dan lain-lain itu datang dan ramai dengan berbagai motif. Oleh karena itu potensial airborne transmissionnya bisa menambah. Ini beresiko jadi patut untuk berhati-hati," pungkasnya.

(wal)

Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini