1.053 Pedagang di 190 Pasar Tradisional Terpapar Virus Corona

Fakhrizal Fakhri , Okezone · Selasa 14 Juli 2020 07:01 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 14 337 2245916 1-053-pedagang-di-190-pasar-tradisional-terpapar-virus-corona-HEzbNU1NJV.jpg Foto: Illustrasi Shutterstock

JAKARTA - Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI), mencatat sebanyak 1.053 pedagang di 190 pasar tradisional terpapar Covid-19. Pedagang yang terjangkit corona itu berasal di 80 kabupaten/kota dan 26 provinsi.

"Kami mendapatkan penambahan kasus yang cukup tinggi dalam 1 minggu terakhir.

Kami lihat penambahan itu di wilayah-wilayah yang pemerintah daerahnya masif dalam melakukan rapid test dan swab di pasar tradisional," kata Ketua Bidang Infokom DPP IKAPPI Reynaldi Sarijowan saat dikonfirmasi Okezone, Selasa (14/7/2020).

 pasar

Ia mengatakan, Papua menjadi provinsi baru yang tercatat penambahan kasus cukup tinggi. Namun, lanjut dia, DKI Jakarta masih menduduki kasus Covid-19 yang memapar pedagang disusul Jawa Timur.

"Dari data tersebut IKAPPI meminta kepada semua pihak khususnya pemda dan pengelola untuk lebih aktif melakukan edukasi tentang bahaya Covid-19. Dan melakukan penguatan koordinasi dalam rangka menjalankan protokol kesehatan di pasar tradisional," tutur Reynaldi.

Reynaldi menerangkan, bahwa pada kurun waktu Juni 2020 ritme peningkatan teridentifikasi lebih tinggi di banding bulan sebelumnya, padahal protokol kesehatan terus digalakkan di pasar.

"Maka kami minta agar ada penguatan edukasi dan bahaya Covid-19 dan memperkuat keterlibatan serta peran pedagang dalam proses protokol kesehatan," ujar dia.

Menurut dia, ketidakpercayaan publik terhadap bahaya pandemi Covid-19 menjadi faktor utama peningkatan kasus di pasar.

IKAPPI, lanjutnya, mendorong agar penguatan terhadap protokol kesehatan di pasar dan edukasi terus digalakkan secara bersama-sama kepada pedagang dan pengunjung.

"Catatan lainnya ialah kami mendorong seluruh pasar tradisional di Indonesia, menggunakan skat plastik untuk menghindari komunikasi langsung antar pedagang dan pembeli. Ini yang paling efektif di banding kebijakan ganjil genap atau kebijakan pembatasan jam operasional," tukasnya.

(wal)

Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini