Pembobol Bank BNI Rp1,7 Triliun Maria Lumowa Menolak Diperiksa Polisi

Arie Dwi Satrio, Okezone · Senin 13 Juli 2020 18:00 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 13 337 2245745 pembobol-bank-bni-rp1-7-triliun-maria-lumowa-menolak-diperiksa-polisi-ANG3fO9bLl.jpg Foto: Kemenkumham

JAKARTA - Tersangka kasus dugaan pembobolan Bank BNI sebesar Rp1,7 triliun lewat Letter of Credit (L/C), Maria Pauline Lumowa menolak diperiksa oleh jajaran kepolisian. Maria Lumowa menolak diperiksa karena dirinya belum menemukan penasehat hukum atau pengacara yang tepat.

Namun, permintaan Maria Lumowa belum terpenuhi. Sebab, Kedubes Belanda belum menyediakan penasehat hukum untuk Maria. Polisi menghentikan sementera penyidikan terhadap Maria Lumowa hingga terpenuhinya hak untuk mendapatkan penasehat hukum.

"Pada intinya tersangka meminta pendampingan dari penasihat hukum yang akan disediakan oleh Kedubes Belanda, tetapi karena belum ada jadi penyidikan dihentikan hingga tersangka mendapat bantuan hukum, kami hormati hak tersangka," Karo Penmas Divisi Humas Polri, Brigjen Awi Setyono di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Senin (13/7/2020).

Hingga saat ini, Polri masih menunggu balasan surat dari Kedubes Belanda untuk dapat mendampingi proses hukum warganya tersebut. Kendati demikian, kata Awi, pihaknya masih akan tetap melakukan tracing atas aset Maria.

"Kami masih menunggu jawaban resmi dari surat yang telah kami kirimkan. Itu (meminta bantuan) teknis ya. Kami pastikan akan menelusuri digunakan untuk apa saja uang Rp1,7 triliun itu," ujarnya

Sekadar informasi, Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menkumham), Yasonna H Laoly, turun langsung ke Serbia untuk menjemput Maria Pauline Lumowa. Yasonna dan delegasi Indonesia termasuk Bareskrim Polri mulai bertandang ke Beograd, Serbia, sejak, Sabtu, 4 Juli 2020.

Lewat proses ekstradisi, Yasonna dan jajarannya berhasil membawa Maria Lumowa ke Indonesia. Meskipun, Yasonna dan delegasi Indonesia kerap mendapat hambatan dalam upaya ekstradisi Maria Lumowa.

Maria Pauline Lumowa merupakan Bos PT Gramarindo Mega Indonesia yang lahir di Paleloan, Sulawesi Utara, 27 Juli 1958. Ia ditetapkan sebagai salah satu tersangka kasus pembobolan kas bank BNI cabang Kebayoran Baru lewat Letter of Credit (L/C) fiktif. Namun, ia melarikan diri ke luar Indonesia pada 17 tahun yang lalu.

Maria Pauline Lumowa masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) atau buronan aparat penegak hukum Indonesia. Maria Lumowa dikabarkan terbang ke Singapura pada September 2003 atau sebulan sebelum ditetapkan sebagai tersangka oleh tim khusus yang dibentuk Mabes Polri.

Perkara Maria bermula pada periode Oktober 2002 hingga Juli 2003, dimana Bank BNI mengucurkan pinjaman senilai 136 juta dolar AS dan 56 juta Euro atau setara Rp 1,7 Triliun dengan kurs saat itu, kepada PT Gramarindo Group yang dimiliki Maria Pauline Lumowa dan Adrian Waworuntu.

Aksi PT Gramarindo Group diduga mendapat bantuan dari 'orang dalam' karena BNI tetap menyetujui jaminan L/C dari Dubai Bank Kenya Ltd., Rosbank Switzerland, Middle East Bank Kenya Ltd., dan The Wall Street Banking Corp yang bukan merupakan bank korespondensi Bank BNI.

Pada Juni 2003, pihak BNI yang curiga dengan transaksi keuangan PT Gramarindo Group mulai melakukan penyelidikan dan mendapati perusahaan tersebut tak pernah melakukan ekspor. Dugaan L/C fiktif ini kemudian dilaporkan ke Mabes Polri.

Namun Maria Pauline Lumowa ternyata sudah lebih dahulu terbang ke Singapura pada September 2003 atau sebulan sebelum ditetapkan sebagai tersangka oleh tim khusus yang dibentuk Mabes Polri. Perempuan kelahiran Paleloan, Sulawesi Utara, pada 27 Juli 1958 tersebut belakangan diketahui keberadaannya di Belanda pada 2009 dan sering bolak-balik ke Singapura.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini