Bareskrim Sita Aset Pembobol Bank Maria Pauline Lumowa Rp132 Miliar

Muhamad Rizky, Okezone · Sabtu 11 Juli 2020 07:30 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 11 337 2244701 bareskrim-sita-aset-pembobol-bank-maria-pauline-lumowa-rp132-miliar-tWn8o3x8ES.jpg Penangkapan Maria Pauline Lumowa (Foto: Ist)

JAKARTA - Bareskrim Polri menyita aset milik tersangka kasus pembobolan kas bank BNI lewat Letter of Credit (L/C) fiktif, Maria Pauline Lumowa senilai Rp132 miliar. 

Kabareskrim Polri Komjen Listyo Sigit Prabowo mengungkapkan, penyitaan tersebut dari hasil tracing aset milik Maria yang sudah dilakukan jajaran kepolisian.

"Dari hasil penyitaan dan tracing aset baik dalam bentuk barang bergerak maupun tidak bergerak dan uang yang disita dan dilelang senilai Rp132 miliar," kata Sigit di Mabes Polri, Jakarta, Jumat (10/7/2020).

Baca Juga: Maria Lumowa Pembobol Bank Rp1,7 Triliun Ditahan di Rutan Bareskrim

Dari sana, kata Sigit polisi nantinya akan menelusuri sisa dana yang telah di bawa oleh Maria tersebut. Namun, pihaknya masih harus melakukan pemeriksaan secara mendalam terhadap tersangka sehingga mengetahui keberadaan aset tersebut.

"Kita harus melaksanakan pemeriksaan lebih mendalam pada MPL, baru dari situ diketahui di mana disembunyikan aset dan pihak lain terkait yang masih belum sempat ditersangkakan," jelasnya.

Perkara Maria bermula pada periode Oktober 2002 hingga Juli 2003, saat Bank BNI mengucurkan pinjaman senilai 136 juta dolar AS dan 56 juta Euro atau setara Rp1,7 triliun dengan kurs saat itu, kepada PT Gramarindo Group yang dimiliki Maria Pauline Lumowa dan Adrian Waworuntu.

Aksi PT Gramarindo Group diduga mendapat bantuan dari 'orang dalam' karena BNI tetap menyetujui jaminan L/C dari Dubai Bank Kenya Ltd., Rosbank Switzerland, Middle East Bank Kenya Ltd., dan The Wall Street Banking Corp yang bukan merupakan bank korespondensi Bank BNI.

Pada Juni 2003, pihak BNI yang curiga dengan transaksi keuangan PT Gramarindo Group mulai melakukan penyelidikan dan mendapati perusahaan tersebut tak pernah melakukan ekspor. Dugaan L/C fiktif ini kemudian dilaporkan ke Mabes Polri.

Namun, Maria Pauline Lumowa ternyata sudah lebih dahulu terbang ke Singapura pada September 2003 atau sebulan sebelum ditetapkan sebagai tersangka oleh tim khusus yang dibentuk Mabes Polri. Perempuan kelahiran Paleloan, Sulawesi Utara, pada 27 Juli 1958 kemudian diketahui keberadaannya di Belanda pada 2009 dan sering bolak-balik ke Singapura.

Baca Juga: Menkumham : Salah Satu Negara Eropa Berupaya Cegah Ekstradisi Maria Lumowa

Terbaru, Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menkumham), Yasonna H Laoly, ikut ke Serbia untuk menjemput Maria Pauline Lumowa. Yasonna dan delegasi Indonesia termasuk Bareskrim Polri mulai bertandang ke Beograd, Serbia, sejak Sabtu, 4 Juli 2020.

Lewat proses ekstradisi, Yasonna dan jajarannya membawa Maria Lumowa ke Indonesia, meskipun kerap mendapat hambatan dalam upaya ekstradisi.

Atas perbuatannya, Maria Lumowa dijerat Pasal 2 Ayat (1) UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Tindak Pidana Korupsi dengan ancaman pidana seumur hidup. Dan Pasal 3 Ayat (1) UU Nomor 25 Tahun 2003 tentang TPPU.

(Ari)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini