KPK Buka Peluang Tindaklanjuti Dugaan Gratifikasi Bowo Sidik dari M Nasir

Arie Dwi Satrio, Okezone · Sabtu 11 Juli 2020 05:42 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 11 337 2244686 kpk-buka-peluang-tindaklanjuti-dugaan-gratifikasi-bowo-sidik-dari-m-nasir-qrUgJLFyFY.jpg Plt Juru Bicara KPK Ali Fikri (Foto: Okezone)

JAKARTA - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membuka peluang menindaklanjuti dugaan gratifikasi yang diterima mantan Politikus Golkar, Bowo Sidik Pangarso dari sejumlah pihak. Salah satu gratifikasi yang diterima Bowo Sidik Pangarso diduga berasal dari Politikus Demokrat, M Nasir.

Plt Juru Bicara KPK, Ali Fikri mengamini bahwa pihaknya masih menyelidiki dugaan penerimaan gratifikasi Bowo Sidik Pangarso. Kata Ali, pihaknya bakal menindaklanjuti gratifikasi Bowo Sidik dari sejumlah pihak termasuk M Nasir, sepanjang ditemukan bukti-bukti yang cukup.

"Jika nantinya ditemukan bukti-bukti dan fakta yang memperkuat keterangan Bowo SP tersebut tentu KPK akan menindaklanjutinya,” kata Ali, saat dikonfirmasi, Jumat (10/7/2020).

Baca Juga: Usut Suap Distribusi Pupuk, KPK Panggil Politikus Demokrat Muhammad Nasir 

Ali mengakui bahwa Bowo Sidik Pangarso pernah membeberkan penerimaan gratifikasi dari sejumlah pihak termasuk M Nasir di persidangan. Namun, pengakuan Bowo itu belum ditemukan bukti yang kuat. Sehingga, tim harus melengkapi bukti-bukti untuk memperkuat pengakuan Bowo Sidik Pangarso.

"Berdasarkan fakta persidangan, JPU menilai keterangan Bowo SP berdiri sendiri tanpa didukung alat bukti lain, sehingga berlaku asas satu saksi bukanlah saksi,” terangnya.

Sekadar informasi, KPK pernah memeriksa M Nasir dalam kasus gratifikasi Bowo Pangarso. Bahkan, KPK sebelumnya juga sempat menggeledah ruang kerja Nasir di Gedung Nusantara I, Kompleks Parlemen, Jakarta, pada 4 Mei 2019, lalu.

Nasir merupakan adik dari mantan Bendahara Umum Partai Demokrat, Muhammad Nazaruddin yang pernah tersangkut kasus korupsi. Penggeledahan terhadap ruang kerja M Nasir sendiri diduga berkaitan dengan pemberian gratifikasi untuk Bowo Sidik Pangarso terkait pengurusan Dana Alokasi Khusus (DAK).

Bowo Sidik Pangarso sendiri pernah buka-bukaan soal penerimaan uang gratifikasi dari sejumlah pihak terkait kedudukannya saat menjabat sebagai anggota Komisi VI DPR Fraksi Golkar.

Baca Juga: KPK Panggil Direktur PT Humpuss Transportasi Kimia sebagai Tersangka 

Bowo menyinggung nama mantan Direktur Utama PT PLN (Persero) Sofyan Basir, mantan Ketum Golkar Setya Novanto, Bupati Minahasa Selatan Christiana Eugenia Tetty Paruntu, utusan menteri, hingga politikus Demokrat Muhammad Nasir. Bowo mengatakan, total uang Rp8 miliar yang diterimanya berasal dari beberapa sumber. Salah satunya dari M Nasir yang juga duduk sebagai anggota DPR saat itu, terkait dengan Dana Alokasi Khusus (DAK) Kabupaten Meranti.

Bowo mengaku menerima 250 ribu dolar Singapura atau bila dirupiahkan saat kurs saat itu sebesar Rp2,5 miliar. Bowo mengaku bahwa penerimaan uang itu saat mengemban tugas sebagai anggota Badan Anggaran.

(Ari)

Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini