Ada Klaster Covid-19 di Secapa TNI AD dan Ponpes Gontor, Ini Kata Pakar Epidemiologi

Avirista Midaada, Okezone · Sabtu 11 Juli 2020 05:30 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 11 337 2244675 ada-klaster-covid-19-di-secapa-tni-ad-dan-ponpes-gontor-ini-kata-pakar-epidemiologi-3i6qPRC34T.jpg Ilustrasi (Foto: Ist)

SURABAYA – Pakar Epidemiologi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya dr. Windhu Purnomo menyayangkan masih adanya aktivitas pendidikan di pondok pesantren dan asrama di tengah masa pandemi Covid-19 saat ini. Hal ini membuat rawan adanya klaster penyebaran baru corona, seperti yang terjadi Sekolah Calon Perwira (Secapa) TNI AD di Bandung dan Ponpes Modern Gontor 2 Ponorogo.

Menurutnya, kedua pengurus institusi dan pemerintah daerah setempat tak bisa belajar dari kasus penyebaran corona di klaster Ponpes Temboro, Magetan. Padahal, di saat yang sama kedua wilayah tersebut baik Bandung dan Ponorogo, tidak berada di zona hijau atau kuning corona.

“Semua yang pendidikan seperti itu di asramakan sangat berisiko tinggi, itu belum waktunya di masa pandemi, ketika zona masih ada yang merah, tidak boleh sebetulnya membuka ponpes dan membuka pendidikan, apalagi tinggal di situ,” ujar Windhu saat dihubungi okezone, Jumat (10/7/2020).

“Yang belajar terus pulang saja, tidak boleh dibuka dulu, apalagi kemudian yang belajar kemudian mondok dan berasrama di situ, makin berbahaya. Contohnya Secapa itu, contoh bagus buat pelajaran, kalau sebelumnya di Jatim ada Ponpes Temboro, saat ini Ponpes Gontor itu tidak dijadikan pelajaran,” tambahnya.

Baca Juga:  Gugus Tugas: Kasus Covid-19 Meningkat karena Pemeriksaan Kian Banyak 

Oleh karena itu, pengajar di Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Unair ini meminta untuk sekolah, pondok pesantren, dan pendidikan yang berbasis asrama tidak dibuka terlebih dahulu sampai benar – benar berada di zona dengan risiko rendah penyebaran corona.

Namun, bila memang zona sudah menjadi kuning dengan penularan rendah, sekolah berasrama maupun pondok pesantren boleh dibuka dengan memperhatikan persyaratan domisili asal santri maupun siswanya. “Sekolah atau pondok bisa memetakan dari mana saja siswanya-santrinya, kita petakan dulu. Kan punya data santri domisilinya darimana masing – masing, kemudian di lihat domisilinya itu berada di zona apa, bisa kita lihat zona dengan risikonya,” tuturnya.

Kalau siswa maupun santri itu berasal dari zona hijau atau kuning Windhu mentolerir apa pembukaan tersebut, namun bila berasal dari zona oranye apalagi merah, maka ia memprediksi akan lebih mudah penyebar bila ada satu orang saja yang positif Covid-19.

“Lihat peta domisili santrinya, darimana mereka, ya kan mereka dari seluruh nusantra paling tidak jawa, atau Jatim-lah, di Jatim ini kan mayoritas merah dan oranye, ada kuning cuma lima daerah, hijau kemarin ada sekarang sudah enggak, masih ada yang sebagian di merah dan oranye, ya tentu tidak membukalah,” paparnya.

“Peta risiko itu harus kita punyai, sebelum kita membuka sesuatu dan sebagainya, jangan seperti sekarang Secapa (Sekolah Calon Perwira) itu muridnya darimana saja, kalau misalkan satu saja dari merah ya bisa menulari semuanya, jadi prinsipnya itu, bisa dicegah institusi dan pemda, bisa dikontrol,” pungkasnya.

Baca Juga: Achmad Yurianto Berterima Kasih Dijuluki Pembawa Berita Kematian 

(Ari)

Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini