Kronologi Singkat Ekstradisi Maria Pauline Lumowa, Yasonna Sempat Lapor Jokowi

Isty Maulidya, Okezone · Kamis 09 Juli 2020 11:50 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 09 337 2243571 kronologi-singkat-ekstradisi-maria-pauline-lumowa-yasonna-sempat-lapor-jokowi-wDo3QAQ9Xo.jpg Menkumham Yassona Laoly (tengah, pakai jas hitam) gelar konferensi pers di Bandara Soetta. Foto: Isty-Okezone

JAKARTA – Buron kasus pembobolan bank BNI, Maria Pauline Lumowa tiba di Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng, usai diekstradisi dari Serbia. Rombongan penjemputan sang buron dipimpin oleh Menteri Hukum dan HAM (Menkumham) Yasonna Laoly.

Dalam konferensi persnya di Bandara Soetta, Yasonna membeberkan kisah di balik penjemputan Maria Pauline Lumowa.

Ia mengatakan kasus pembobolan BNI itu mulai pada 2003, dan tersangka Maria lari ke Singapura dan kemudian melarikan diri lagi ke Belanda. Saat di Belanda, pemerintah berupaya melakukan ekstradisi namun terkendala peraturan.

“Karena saat itu memang belum ada perjanjian ekstradisi (Belanda-Indonesia),” ujar Yasonna pada Kamis (9/7/2020).

Kemudian akhirnya diketahui Maria Pauline Lumowa ditangkap pada 16 Juli 2019 di Serbia oleh Interpol. Pemerintah pun bergerak cepat dengan meminta izin kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk melakukan lobby high level dengan petinggi Serbia.

Baca Juga: Tiba di Bandara Soetta, Maria Pauline Lumowa Tes Covid-19

Jadi, kata Yasonna, Maria ditangkap 16 Juli 2019, kemudian dilakukan lobby high level pada 31 Juli 2019 dan awal September 2019, lalu akhirnya sang buron bisa diekstradisi dan tiba di Bandara Soetta hari ini. “Jadi saya sendiri melaporkan ke Presiden melalui Mensesneg,” tuturnya.

Sebagai catatan, Maria Pauline Lumowa merupakan salah satu tersangka pelaku pembobolan kas bank BNI cabang Kebayoran Baru lewat Letter of Credit (L/C) fiktif. Pada periode Oktober 2002 hingga Juli 2003, Bank BNI mengucurkan pinjaman senilai 136 juta dolar AS dan 56 juta Euro atau sama dengan Rp 1,7 Triliun dengan kurs saat itu kepada PT Gramarindo Group yang dimiliki Maria Pauline Lumowa dan Adrian Waworuntu.

Baca Juga: Pendekatan High Level di Balik Ekstradisi Buron 17 Tahun Maria Lumowa 

Aksi PT Gramarindo Group diduga mendapat bantuan dari 'orang dalam' karena BNI tetap menyetujui jaminan L/C dari Dubai Bank Kenya Ltd., Rosbank Switzerland, Middle East Bank Kenya Ltd., dan The Wall Street Banking Corp yang bukan merupakan bank korespondensi Bank BNI.

Pada Juni 2003, pihak BNI yang curiga dengan transaksi keuangan PT Gramarindo Group mulai melakukan penyelidikan dan mendapati perusahaan tersebut tak pernah melakukan ekspor.

Dugaan L/C fiktif ini kemudian dilaporkan ke Mabes Polri, namun Maria Pauline Lumowa sudah lebih dahulu terbang ke Singapura pada September 2003 alias sebulan sebelum ditetapkan sebagai tersangka oleh tim khusus yang dibentuk Mabes Polri.

1
2
Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini