Pembobol Bank BNI Rp 1,7 Triliun Maria Pauline Lumowa Dibawa ke Bareskrim Polri

Isty Maulidya, Okezone · Kamis 09 Juli 2020 11:37 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 09 337 2243566 pembobol-bank-bni-rp-1-7-triliun-maria-pauline-lumowa-dibawa-ke-bareskrim-polri-XDuwjvno6z.jpg foto: Okezone

JAKARTA - Tersangka pembobolan Bank BNI senilai 136 juta dolar AS dan 56 juta Euro atau sama dengan Rp 1,7 Triliun, Maria Pauline Lumowa telah tiba di Tanah Air. Buron 17 tahun Mabes Polri ini juga telah menjalani rapid test di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten.

Menkumham Yasonna Laoly mengatakan, setelah tiba di Tanah Air, Maria Pauline Lumowa langsung dibawa ke Bareskrim Mabes Polri untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.

“ Kami akan bawa ke Bareskrim Mabes Polri,” ujar Yasonna saat jumpa awak media di Bandara Soetta, Kamis (9/7/2020).

Maria Pauline Lumowa merupakan salah satu tersangka pelaku pembobolan kas bank BNI cabang Kebayoran Baru lewat Letter of Credit (L/C) fiktif. Pada periode Oktober 2002 hingga Juli 2003, Bank BNI mengucurkan pinjaman senilai 136 juta dolar AS dan 56 juta Euro atau sama dengan Rp 1,7 Triliun dengan kurs saat itu kepada PT Gramarindo Group yang dimiliki Maria Pauline Lumowa dan Adrian Waworuntu.

Aksi PT Gramarindo Group diduga mendapat bantuan dari 'orang dalam' karena BNI tetap menyetujui jaminan L/C dari Dubai Bank Kenya Ltd., Rosbank Switzerland, Middle East Bank Kenya Ltd., dan The Wall Street Banking Corp yang bukan merupakan bank korespondensi Bank BNI.

Pada Juni 2003, pihak BNI yang curiga dengan transaksi keuangan PT Gramarindo Group mulai melakukan penyelidikan dan mendapati perusahaan tersebut tak pernah melakukan ekspor.

Dugaan L/C fiktif ini kemudian dilaporkan ke Mabes Polri, namun Maria Pauline Lumowa sudah lebih dahulu terbang ke Singapura pada September 2003 alias sebulan sebelum ditetapkan sebagai tersangka oleh tim khusus yang dibentuk Mabes Polri.

Perempuan kelahiran Paleloan, Sulawesi Utara, pada 27 Juli 1958 tersebut belakangan diketahui keberadaannya di Belanda pada 2009 dan sering bolak-balik ke Singapura.

Pemerintah Indonesia sempat dua kali mengajukan proses ekstradisi ke Pemerintah Kerajaan Belanda, yakni pada 2010 dan 2014, karena Maria Pauline Lumowa ternyata sudah menjadi warga negara Belanda sejak 1979.

Namun, kedua permintaan itu direspons dengan penolakan oleh Pemerintah Kerajaan Belanda yang malah memberikan opsi agar Maria Pauline Lumowa disidangkan di Belanda.

Upaya penegakan hukum lantas memasuki babak baru saat Maria Pauline Lumowa ditangkap oleh NCB Interpol Serbia di Bandara Internasional Nikola Tesla, Serbia, pada 16 Juli 2019.

1
2
Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini