Pendekatan High Level di Balik Ekstradisi Buron 17 Tahun Maria Lumowa

Arie Dwi Satrio, Okezone · Kamis 09 Juli 2020 08:52 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 09 337 2243480 pendekatan-high-level-di-balik-ekstradisi-buron-17-tahun-maria-lumowa-548gJsMB6C.jpg Buron 17 tahun Maria Lumowa diekstradisi. (Foto : Kemenkumham)

JAKARTA - Buron kasus pembobolan Bank BNI senilai Rp1,7 triliun, Maria Pauline Lumowa, diekstradisi dari Serbia ke Indonesia. Menkumham Yasonna Laoly memimpin tim delegasi yang memproses ekstradisi tersebut.

Penyerahan Maria Pauline Lumowa dari Serbia ke Indonesia dilakukan melalui mekanisme ekstradisi berdasarkan permintaan Pemerintah RI kepada Pemerintah Republik Serbia yang disampaikan melalui surat Direktur Jenderal Administrasi Hukum Umum Kementerian Hukum dan HAM Nomor AHU-AH.12.01-10 tanggal 31 Juli 2019 kepada Menteri Kehakiman Serbia yang disusul permintaan percepatan proses ekstradisi yang disampaikan melalui surat Nomor AHU-AH.12.01-22 tanggal 3 September 2019.

"Keberhasilan mengekstradisi Maria Pauline Lumowa tidak terlepas dari upaya pendekatan 'high level' kepada berbagai pihak di Serbia. Dalam kunjungan kemarin, Menkumham diterima oleh Presiden Serbia dan beberapa Menteri lainnya yang menyampaikan dukungan penuh terhadap ekstradisi Maria Pauline Lumowa," kata Yasonna dalam keterangan tertulis, Kamis (9/7/2020).

Maria Pauline Lumowa merupakan salah satu tersangka pembobolan Bank BNI melalui L/C fiktif yang terjadi pada 2003.

Maria melarikan diri ke Singapura pada September 2003, dan kemudian diketahui keberadaannya di Belanda pada 2009. Pemerintah RI pun mengejar Maria, termasuk menyampaikan permintaan ekstradisi kepada Pemerintah Kerajaan Belanda.

Maria Lumowa diekstradisi dari Serbia. (Kemenkumham)

Saat itu, Maria yang merupakan warga negara Belanda tidak berhasil diekstradisi ke Indonesia sebab Indonesia belum memiliki perjanjian bilateral dibidang ekstradisi dengan Belanda.

"Selain itu, hukum negara Belanda juga tidak mengizinkan warga negaranya diekstradisi ke negara yang belum memiliki perjanjian bilateral dibidang ekstradisi," kata Yasonna.

Upaya Pemerintah Indonesia akhirnya membuahkan hasil ketika Maria Pauline Lumowa tertangkap di Serbia.

"Setelah mengirimkan surat permintaan ekstradisi yang disusul dengan surat permintaan percepatan proses ekstradisi ditambah pendekatan “high level” yang dilakukan Duta Besar RI untuk Republik Serbia dan Montenegro M Chandra Widya Yudha," katanya.

Yasonna menyebut, pemerintah Republik Serbia mengabulkan permintaan Indonesia melalui Keputusan Menteri Kehakiman Serbia Nomor 713-01-02436/ 2019-08 tertanggal 6 April 2020.

Sebagai catatan, Maria Pauline Lumowa merupakan salah satu tersangka pelaku pembobolan kas bank BNI cabang Kebayoran Baru lewat Letter of Credit (L/C) fiktif. Pada periode Oktober 2002 hingga Juli 2003, Bank BNI mengucurkan pinjaman senilai 136 juta dolar AS dan 56 juta Euro atau sama dengan Rp 1,7 Triliun dengan kurs saat itu kepada PT Gramarindo Group yang dimiliki Maria Pauline Lumowa dan Adrian Waworuntu.

Aksi PT Gramarindo Group diduga mendapat bantuan dari 'orang dalam' karena BNI tetap menyetujui jaminan L/C dari Dubai Bank Kenya Ltd., Rosbank Switzerland, Middle East Bank Kenya Ltd., dan The Wall Street Banking Corp yang bukan merupakan bank korespondensi Bank BNI.

Pada Juni 2003, pihak BNI yang curiga dengan transaksi keuangan PT Gramarindo Group mulai melakukan penyelidikan dan mendapati perusahaan tersebut tak pernah melakukan ekspor.

Dugaan L/C fiktif ini kemudian dilaporkan ke Mabes Polri, namun Maria Pauline Lumowa sudah lebih dahulu terbang ke Singapura pada September 2003 alias sebulan sebelum ditetapkan sebagai tersangka oleh tim khusus yang dibentuk Mabes Polri. Perempuan kelahiran Paleloan, Sulawesi Utara, pada 27 Juli 1958 tersebut belakangan diketahui keberadaannya di Belanda pada 2009 dan sering bolak-balik ke Singapura.

 Baca Juga : Buron 17 Tahun hingga Diekstradisi dari Serbia, Siapa Maria Lumowa?

Pemerintah Indonesia sempat dua kali mengajukan proses ekstradisi ke Pemerintah Kerajaan Belanda, yakni pada 2010 dan 2014, karena Maria Pauline Lumowa ternyata sudah menjadi warga negara Belanda sejak 1979. Namun, kedua permintaan itu direspons dengan penolakan oleh Pemerintah Kerajaan Belanda yang malah memberikan opsi agar Maria Pauline Lumowa disidangkan di Belanda.

 Baca Juga : Buron 17 Tahun, Maria Lumowa Dijadwalkan Tiba di Tanah Air Pagi Ini

Upaya penegakan hukum lantas memasuki babak baru saat Maria Pauline Lumowa ditangkap oleh NCB Interpol Serbia di Bandara Internasional Nikola Tesla, Serbia, pada 16 Juli 2019.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini