LPSK Investigasi Kasus Pemerkosaan Anak di 'Rumah Aman'

Arie Dwi Satrio, Okezone · Kamis 09 Juli 2020 07:00 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 09 337 2243455 lpsk-investigasi-kasus-pemerkosaan-anak-di-rumah-aman-ombWCC1mXE.jpg ilustrasi

JAKARTA - Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) menerjunkan tim untuk melakukan investigasi kasus dugaan pemerkosaan terhadap anak dibawah umur di Safe House atau Rumah Aman daerah Lampung Timur. LPSK menerjunkan tim karena korban diduga diperkosa di Rumah Aman.

"Iya tim LPSK sudah berada di Lampung. Saya sendiri akan menyusul. Pengelolahan Rumah Aman tidak mudah, harus ada standar bangunan dan petugas khususnya yang terlatih," kata Wakil Ketua LPSK, Edwin Partogi Pasaribu saat dikonfirmasi, Kamis (9/7/2020).

Sekadar informasi, NV (14) salah seorang anak perempuan korban kekerasan seksual diduga diperkosa oleh oknum Aparatur Sipil Negara (ASN) yang bekerja di Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Lampung Timur. NV disebut-sebut diperkosa di Rumah Aman saat proses pendampingan pemulihan psikologi sebagai korban pemerkosaan.

Ketua LPSK, Hasto Atmojo Suroyo menyatakan bahwa pihaknya sudah menerima permohonan perlindungan untuk korban melalui Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Bandar Lampung sebagai pihak yang ditunjuk oleh keluarga sebagai kuasa hukum. Oleh karenanya, LPSK langsung menerjunkan tim untuk melakukan investigasi.

Hasto menjelaskan, tujuan penerjunan tim salah satunya juga untuk melakukan koordinasi dengan beberapa pihak, sekaligus bertemu langsung dengan korban serta keluarganya untuk menawarkan perlindungan. Perlindungan ini, kata Hasto, diberikan agar korban maupun saksi bisa kembali pulih secara psikologis, medis serta mendapatkan jaminan keamanan.

"Kami juga akan berkoordinasi Polda Lampung yang menangani kasus ini guna memastikan korban memperoleh perlindungan selama masa pemeriksaan," ujar Hasto terpisah.

Hasto mengaku geram sekaligus terkejut saat pertama kali mendengar ada anak dibawah umur yang diperkosa di Rumah Aman. Terlebih, setelah mengetahui bahwa yang melakukan pemerkosaan adalah oknum yang bekerja di Rumah Aman. Ia pun meminta agar ada penguatan serta pembenahan sistem standar operasional prosedur di Rumah Aman.

"Sebenarnya lembaga yang diberi kewenangan untuk mengelola rumah aman menurut UU Perlindungan Saksi dan Korban adalah LPSK," kata Hasto.

Baca Juga : Peristiwa 9 Juli : Hari Pencoblosan Pilpres 2014

Baca Juga : Buron 17 Tahun hingga Diekstradisi dari Serbia, Siapa Maria Lumowa?

Selain itu, menurut Hasto, perlu ada klasifikasi khusus bagi proses pengelola rumah aman. Sehingga, kedepannya tidak ada lagi oknum petugas cabul yang seharusnya menjadi benteng terakhir penjaga korban pemerkosaan atau tindak pidana lainnya.

"Dalam hal perekrutran misalnya, perlu dipastikan personil yang ditempatkan di rumah aman sudah menjalani pelatihan penanganan korban kekerasan seksual terkait cara berkomunikasi, memahami regulasi, etika serta memiliki rasa empati terhadap korban, namun yang tidak kalah penting adalah profesionalitas yang tinggi," pungkasnya.

(aky)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini