PBB Soroti Potensi Krisis Pangan Imbas Covid-19, Ini yang Dilakukan Pemerintah

Taufik Budi, Okezone · Senin 06 Juli 2020 21:18 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 06 337 2242165 pbb-soroti-potensi-krisis-pangan-imbas-covid-19-ini-yang-dilakukan-pemerintah-cWkgGSTQiQ.jpg ilustrasi

DEMAK - Organisasi Pangan Dunia atau FAO dari perserikatan bangsa-bangsa (PBB) sudah mewanti-wanti akan adanya potensi krisis pangan akibat Pandemi Covid-19. Imbauan itu langsung ditanggapi oleh pemerintah.

Kementerian Koperasi dan UMKM, Teten Masduki meminta infrastuktur pangan ditingkatkan untuk mengantisipasi adanya potensi krisis pangan di Indonesia. Ia pun meminta adanya relaksasi pembayaran koperasi.

Teten Masduki menyatakan, ke depan Indonesia perlu memperkuat koperasi pangan agar bisa tumbuh kekuatan ekonomi baru. "Perkuatan koperasi pangan sebagai bagian dari infrastruktur ketahanan pangan nasional," tandas Menkop.

Dalam jangka panjang, lanjut Teten, Indonesia harus menyiapkan koperasi pangan yang kuat, melalui pembiayaan yang lebih murah dan ramah serta persyaratan yang tidak berbelit-belit.

Baca Juga: Masih Ada Kasus Positif Covid-19 Belum Teridentifikasi di Tengah Masyarakat

"Sektor pangan yang bisa dikembangkan koperasi adalah yang memiliki keunggulan dan Indonesia masih mengimpor. Misalnya, jagung dan padi. Kedua komoditas ini dinilai belum dimaksimalkan, dikarenakan masih impor," ungkap Teten saat melakukan kunjungan kerja ke Demak beberapa waktu yang lalu.

Dalam kunjungan tersebut, Menkop didampingi Wakil Bupati Demak Joko Sutanto, Deputi Pengembangan SDM KemenkopUKM Arif Rahman Hakim, dan Direktur Utama LPDB-KUMKM Supomo.

Sementara itu, salah seorang petani bawang merah di Demak bernama Mardiyah mengaku, membutuhkan modal pembiayaan pertanian dengan bunga kecil. Untuk itu, dirinya memilih untuk bergabung dengan koperasi di KSP KUD Mintorogo.

ilustrasi

"Saya mohon pemerintah membantu kami agar bisa membiayai pertanian kami. Mohon bisa dengan bunga kecil, lebih kecil dari bank," kata Mardiyah.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur KSP KUD Mintorogo Supriyadi mengatakan, dampak dari krisis global akibat Covid-19 mengakibatkan kemampuan mengangsur anggota dari Maret 2020 hingga saat ini terus melemah.

“Kurang lebih 280 anggota yakni 10 persen dari total anggota koperasi mengalami dampak signifikan. Mereka tidak melakukan pembayaran angsuran, dikarenakan banyaknya usaha yang tutup akibat pemberlakuan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan berkurangnya jumlah pembeli saat pandemi,” papar Supriyadi seraya menyebutkan, jumlah anggota koperasi per Desember 2019 lebih dari 36 ribu orang dengan 17 kantor cabang.

Segmen terbesar yang paling terdampak adalah pertanian dan perdagangan. Sebanyak 28 persen anggota yang mengalami efek paling dominan adalah petani bawang merah dan 28 persen lainnya adalah pedagang UMKM.

“Biaya benih yang dibeli petani bawang merah mengalami kenaikan harga, kendati demikian produksi tetap berjalan. Ketika petugas kami turun langsung ke lapangan, banyak petani yang tidak begitu mengerti penyebab kenaikan harga benih tersebut, namun analisa dari kami, efek PSBB membuat petani harus membeli benih dari luar wilayah Demak dengan kualitas yang lebih unggul,” tutur Supriyadi.

Supriyadi melanjutkan, dengan tidak berlakunya lagi PSBB di beberapa daerah, diharapkan benih bawang yang dibutuhkan petani bisa didapatkan dengan mudah dan harga yang lebih murah.

Selain itu, ada pula anggota yang merupakan karyawan swasta atau pabrik mengalami kondisi dirumahkan. Biasanya anggota tersebut rutin menabung setiap bulannya, namun kini kondisi berbalik menjadi kegiatan menarik simpanan.

Terutama bulan lalu menjelang hari raya Idul Fitri dan persiapan masuk anak sekolah, banyak anggota yang menarik simpanannya dalam jumlah yang cukup besar.

“Pembinaan dan komunikasi dengan anggota menjadi jalan keluar yang selalu kami utamakan. Namun, upaya terbaik tetap dilakukan yakni menyiapkan dana likuiditas utamanya saat anggota bermaksud menarik simpanan selama tiga bulan terakhir. Apabila benar-benar ada anggota yang membutuhkan simpanannya, maka kami harus berikan,” tambah Supriyadi.

Selain mengedepankan kebutuhan anggota, KSP KUD Mintorogo juga telah merancang beberapa skenario baru terutama saat kondisi pandemi Covid-19.

Mulai dari Mei hingga Juni 2020 lalu, tim lapangan telah menganalisa kondisi usaha masing-masing anggota. Mana strategi dan langkah terbaik yang harus diambil demi menyelamatkan usaha mereka.

Pada Juli ini sudah mulai diterapkan skenario atau konsep baru tersebut. Sambil beradaptasi dengan new normal atau kebiasaan baru, beberapa usaha atau toko-toko anggota sudah mulai dibuka.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini