Hasil Pemantauan KPAI pada 'Apel Ganyang Komunis': 20% Pesertanya Anak-Anak

Muhamad Rizky, Okezone · Minggu 05 Juli 2020 17:07 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 05 337 2241518 hasil-pemantauan-kpai-pada-apel-ganyang-komunis-20-pesertanya-anak-anak-eYKSb3vqVo.jpg Para orangtua masih membawa anaknya ikut aksi massa (Foto : KPAI)

JAKARTA - Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) melakukan pemantauan terkait kegiatan 'Apel Siaga Ganyang Komunis yang dilakukan elemen ormas islam di dua lokasi yakni di Jakarta dan Tangerang pada Minggu (5/7/2020).

Komisioner KPAI bidang Hak Sipil dan Partisipasi Anak, Jasra Putra mengatakan dari hasil pantauan dilapangan apel tersebut melibatkan anak-anak.

"Dari ribuan peserta yang hadir pada aksi massa di dua lokasi, 15 sampai 20 persen peserta apel akbar adalah anak-anak. Artinya sudah kesekian kali anak-anak terlibat aksi tanpa sanksi yang tegas," kata Jasra melalui keterangan resminya yang diterima.

Orangtua masih membawa anaknya ikut demonstrasi (Foto : KPAI)

Jasra menuturkan, dari pantauan dilapangan terlihat mulai dari bayi, anak, hingga remaja terlibat dalam aksi tersebut. "KPAI menyayangkan keberadaan panitia, orator dan tokoh acara yang berada dalam keteduhan panggung dan anak anak dalam terik panas," ungkapnya.

Di sisi lain, kata Jasra, situasi PSBB DKI Jakarta yang harusnya dapat berjaga jarak juga tidak bisa dipatuhi peserta aksi. Hal itu mustahil dilakukan karena jumlah massa yang padat.

"Artinya kepatuhan protokol kesehatan sangat minim. Padahal data anak yang positif Covid 19 per 16 Juni 2020 telah mencapai 3.155 anak dengan rincian anak umur 0 sampai dengan 5 tahun 888 anak dan 6 sampai dengan 17 tahun 2.267 anak," bebernya.

Baca Juga : Jatim 552 Positif Corona & 154 Sembuh, Jakarta 257 Kasus dengan 286 Kesembuhan

Baca Juga : 10 Provinsi Kasus Corona Tertinggi 5 Juli, Jawa Timur Tembus 552 Positif Covid-19

Selain itu, pemandangan dilapangan juga memperlihatkan ada orang tua yang bermasker dan tidak. Begitupun balita ada yang bermasker dan tidak. Salah satu orang tua peserta aksi juga menganggap anaknya tidak akan tertular Covid-19 karena sudah memakai masker dan membawa hand sanitizer.

Kemudian dalam aksi massa tersebut tambah Jasra, ujaran perkataan-perkataan keras juga terlontar bahkan mengarah kepada kebencian sesama yang tentu memberi dampak buruk kepada perkembangan jiwa anak-anak ke depan.

"Apalagi kalau terus tumbuh subur di komunitasnya atau aksi aksi berikutnya. Tanpa penjelasan dan pendampingan. Seperti kata menghalalkan sembelih orang, sembelih komunis, menjadi kata terbanyak yang disampaikan pada aksi tersebut. Sehingga paparan kekerasan dalam bentuk verbal tak terhindarkan di telan anak mentah mentah," jelasnya.

Ada juga anak anak kecil yang tetap bermain di tengah aksi tersebut, karena itu kebutuhan seusianya. Jadi mereka sama sekali tidak terfokus ke aksi siang itu.

Jasra menambahkan, pada aksi persaudaraan alumni 212 sebelumnya anak anak juga merokok dan berbagi hisapan rokok dengan anak-anak disekitarnya. Kejadian yang sama dalam aksi saat ini anak-anak juga merokok dan berbagi hisapan.

"Tentu KPAI sangat menyayangkan Persaudaraan Alumni 212 masih terus membiarkan anak anak terlibat dalam aksi mereka. Seraya berharap para penegak aturan perlindungan anak dapat memberi sanksi tegas, agar dampak resiko, ancaman jiwa masa depan anak anak Indonesia dapat di selamatkan sejak dini," ungkapnya.

"KPAI meminta anak anak tidak terus menerus diikutkan aksi massa, unjuk rasa dan kampanye politik, karena pengalaman buruk yang seharusnya tidak boleh diulang bangsa ini," tutup Jasra.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini