Wasiat Jenderal Hoegeng dan Upeti Bandar Judi

Harits Tryan Akhmad, Okezone · Rabu 01 Juli 2020 12:40 WIB
https: img.okeinfo.net content 2020 07 01 337 2239378 wasiat-jenderal-hoegeng-dan-upeti-bandar-judi-61swaxvvHV.jpg Jenderal Hoegeng (foto: ist)

JAKARTA - Jenderal Polisi (Purn) Hoegeng Imam Santoso, sosok anggota Polri yang dikenal dengan sikap kejujuran dan keteladanannya. Alhasil ia pun masih jadi panutan buat tiap-tiap insan dari Korps Bhayangkara.

(Baca juga: Cerita Brimob Cantik Digembleng Pasukan Elite Pemburu Osama bin Laden)

Sosok Hoegeng seperti oase di tengah kerinduan publik terhadap penegak hukum yang jujur, bersih, bersahaja dan berkomitmen tinggi terhadap sumpahnya. Pria kelahiran Pekalongan, Jawa Tengah, 14 Oktober 1921 itu, memiliki dedikasi tinggi terhadap amanat yang diembannya selama menjabat.

Sejak kecil Hoegeng sudah ditanamkam sifat jujur oleh orang tuanya. Sang ayah pun menyampaikan amanat kepadanya agar tidak melakukan perbuatan yang mencemarkan namanya. Amanat sang ayah inilah yang kemudian menjadikan sosok Hoegeng memiliki teladan bersih dan jujur, serta menginspirasi banyak orang.

(Baca juga: Kala Jenderal Hoegeng Dirayu Pengusaha Cantik)

Melansir berbagai sumber, Hoegeng muda juga mengikuti pendidikan polisi di Sekolah Tinggi Polisi Negara (SPN) Mertoyudan yang berdiri di Magelang, Jawa Tengah pada 17 Juni 1946 dan lulus dari sekolah kepolisian tahun 1952.

Hoegeng ditempatkan sebagai polisi di wilayah Jawa Timur. Beberapa tahun setelahnya, Hoegeng dipindahtugaskan ke Sumatera Utara sebagai Kepala Direktorat Reskrim. Saat itu Sumatera Utara terkenal sebagai daerah penyelundupan barang-barang ilegal dan perjudian.

Ketika tiba di Pelabuhan Belawan, Hoegeng didekati oleh seorang utusan bandar judi yang menyampaikan "selamat datang" sambil memberitahukan bahwa sudah ada mobil dan rumah yang dihadiahkan untuknya. Namun ia menolak secara halus dan memilih tinggal di hotel sampai rumah dinasnya tersedia.

Selang dua bulan, Hoegeng kembali menolak barang-barang mewah pemberian bandar judi yang dikirim ke rumah dinasnya. Setelah di Medan, Hoegeng pun ditugaskan ke Jakarta sebagai Kepala Jawatan Imigrasi.

Saat tahun 1965, atas usulan Sultan Hamengkubuwono IX, Hoegeng diangkat menjadi Menteri Iuran Negara kabinet 100 Menteri era Bung Karno. Kala itu Kepala Negara dikabarkan menyukai sifat Hoegeng yang jujur dan tidak neko-neko.

Hingga akhirnya pada 5 Mei 1968, Hoegeng diangkat menjadi Kepala Kepolisian Negara (tahun 1969, namanya kemudian berubah menjadi Kapolri), menggantikan Soetjipto Joedodihardjo.

Saat menjabat sebagai Kapolri, pengusaha cantik keturunan Makassar-Tionghoa yang terlibat kasus penyelundupan. Wanita itu meminta Hoegeng agar tak melanjutkan kasusnya ke pengadilan dengan imbalan suap. Ia lantas menolak mentah-mentah seluruh hadiah yang ditawarkan si wanita.

Hoegeng mengakhiri masa jabatannya sebagai Kapolri pada tanggal 2 Oktober 1971 dan digantikan oleh Drs. Mohamad Hasan.

Sosok Hoegeng yang jujur dan bersih selama mengabdi kepada negara, bahkan sampai dibuat anekdot oleh Presiden RI keempat, KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Bahwa hanya ada tiga polisi di Indonesia yang tidak bisa disuap, patung polisi, polisi tidur, dan Hoegeng.

Hoegeng wafat pada 14 Juli 2004 di usinya ke-82 tahun. Hoegeng tutup usia di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, setelah terserang penyakit stroke dan jantung.

Sesuai wasiatnya, Hoegeng yang tak mau dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta kemudian akhirnya dikebumikan di Pemakaman Umum Giri Tama, Bogor.

1
3
Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini