Kala Jenderal Hoegeng Dirayu Pengusaha Cantik

Harits Tryan Akhmad, Okezone · Rabu 01 Juli 2020 11:10 WIB
https: img.okeinfo.net content 2020 07 01 337 2239322 kala-jenderal-hoegeng-dirayu-pengusaha-cantik-OhsmWCNyxX.jpg Jenderal Hoegeng (foto: ist)

JAKARTA - Setiap 1 Juli menjadi hari yang sangat istimewa bagi institusi Kepolisian Negara Republik Indonesia. Sebab setiap tahunnya ditanggal ini diperingati sebagai Hari Bhayangkara.

Tak lengkap rasanya jika memperingati hari jadi Korps Bhayangkara ini tanpa mengenang sosok polisi pejuang macam Jenderal Hoegeng Imam Santoso.

Ya, sosok Hoegeng masih jadi panutan insan dari Korps Bhayangkara hingga masyarakat. Ia dikenal dengan integritasnya dalam memberantas korupsi yang merajalela pada masa itu.

Hoegeng lahir di Pekalongan, Jawa Tengah, 14 Oktober 1921. Ayah Hoegeng adalah seorang Jaksa dan pernah menjabat sebagai kepala kejaksaan di Pekalongan.

Ayahnya sering berpesan kepada Hoegeng, "yang penting dalam kehidupan manusia adalah kehormatan. Jangan merusak nama baik dengan perbuatan yang mencemarkan". Amanat sang ayah inilah yang kemudian menjadikan sosok Hoegeng memiliki teladan bersih dan jujur, serta menginspirasi banyak orang.

Hoegeng muda juga mengukuti pendidikan polisi di Sekolah Tinggi Polisi Negara (SPN) Mertoyudan yang berdiri di Magelang, Jawa Tengah pada 17 Juni 1946.

Aktivitas pendidikan Hoegeng di SPN harus terusik dengan pecahnya Agresi Militer Belanda 1 pada 21 Juli 1947, yang dimana segenap siswa diharuskan melapor ke kepolisian setempat lewat perintah Kapolri Raden Said Soekanto.

Dari perintah itu pula, Hoegeng akhirnya bergabung ke Kepolisian Sektor Pekalongan, lantaran pada saat itu sedianya Hoegeng tengah menjalani libur kuliah dari SPN di Pekalongan.

Sebagaimana dikutip dari buku ‘Hoegeng: Oase Menyejukkan di Tengah Perilaku Koruptif Para Pemimpin Bangsa’, Hoegeng sempat diciduk Polisi Nederlands-Indie Civil Administratie (NICA) di Pekalongan.

Tapi Hoegeng tak mendapat siksaan atau apapun, justru diperlakukan istimewa. Perlakuan istimewa itu tak lepas dari campur tangan seorang perwira Polisi NICA, De Bretonniere, teman sekolah Hoegeng semasa di Rechtskundige Hooge School (RHS).

Saat bertemu, Bretonniere berusaha membujuk Hoegeng agar bergabung ke pihak Belanda. Namun secara tegas dia bersikap “Saya putra Indonesia, mustahil bagi saya bersikap lain!,” tegas Hoegeng.

Hoegeng tetap ditahan dan baru dilepas tiga pekan kemudian, ketika perjanjian gencatan senjata terjadi. Hoegeng sedianya ingin kembali ke Yogyakarta, lantaran SPN dipindah ke sana. Tapi perjalannya harus lebih dulu memutar ke Jakarta dengan kereta api.

Di Jakarta itulah ia bertemu pembimbingnya, Soemarto Soekardjo yang kala itu sudah menjabat Wakapolri. Hoegeng diminta membantunya, walaupun harus izin lebih dulu Kapolri R.S. Soekanto, lantaran statusnya yang masih siswa SPN. Tapi izin akhirnya diberikan kepada Hoegeng dan segera ditugaskan mengawasi kondisi para pejuang yang jadi tahanan Belanda, sekaligus sebagai perwira penghubung.

Sebagai perwira penghubung itulah, Hoegeng bisa bertemu sejumlah petinggi militer, sebagai “jembatan” antara Kepolisian dengan tentara, di antaranya Pangilma Besar Jendral Soedirman, Letjen Oerip Soemohardjo, KSAU Komodor Soerjadi Soerjadarma dan KSAL Komodor M. Nazir.

Oleh pimpinan Polri, Hoegeng dipercayakan tugas mengumpulkan data informasi dan intelijen yang diperlukan TNI, di bawah koordinasi Soekarno Djojonegoro.

Terdapat cara unik dalam menjalankan tugasnya, Hoegeng kerap menyamar sebagai pelayan di sebuah restoran. Bahkan pengalamannya menyamar jadi pelayan ini, ternyata masih membekas dan dilakukan ketika sudah menjabat Kapolri, dalam rangka sidak ke berbagai tempat.

Rayuan Pengusaha Cantik

Usai revolusi, karier Hoegeng kian melesat. Masa jabatannya sebagai Kapolri kelima selalu jadi teladan buat segenap perwira polisi. Contohnya kala itu Hoegeng pernah dirayu oleh seorang pengusaha cantik keturunan Makassar-Tionghoa yang terlibat kasus penyelundupan.

Wanita itu meminta Hoegeng agar tak melanjutkan kasusnya ke pengadilan dengan imbalan suap. Hoegeng yang tak punya waktu berkomitmen dengan suap menyuap, lantas menolak mentah-mentah seluruh hadiah yang ditawarkan si wanita.

Hoegeng sempat terheran lantaran ada beberapa koleganya di kepolisian dan kejaksaan yang memintanya untuk melepaskan wanita tersebut. Belakangan Hoegeng mendapat kabar, wanita itu tidak segan-segan tidur dengan pejabat demi memuluskan aksi penyelundupannya.

Meski begitu catatan hidupnya diselingi keterlibatan kontroversi Petisi 50, petisi yang berisikan protes penggunaan Pancasila terhadap lawan-lawan politik oleh Presiden Soeharto.

Setelah pensiun sebagai Kapolri, Hoegeng masuk dimasukkan daftar hitam sebagai figur yang berlawanan terhadap Soeharto. Hoegeng bahkan dilarang hadir dalam HUT Polri yang diperingati setiap 1 Juli.

Namun demikian sosok Hoegeng yang jujur dan bersih selama mengabdi kepada negara masih terekam di masyarakat. Bahkan sampai dibuat anekdot oleh Presiden RI keempat, KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Bahwa hanya ada tiga polisi di Indonesia yang tidak bisa disuap, patung polisi, polisi tidur, dan Hoegeng.

Hoegeng akhirnya tinggal nama pada 14 Juli 2004. Hoegeng tutup usia di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, setelah terserang penyakit stroke dan jantung.

Sesuai wasiatnya, Hoegeng yang tak mau dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta kemudian akhirnya dikebumikan di Pemakaman Umum Giri Tama, Bogor.

1
3
Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini