Divonis 7 Tahun Penjara, Imam Nahrawi Berencana Banding

Arie Dwi Satrio, Okezone · Selasa 30 Juni 2020 19:08 WIB
https: img.okeinfo.net content 2020 06 30 337 2239036 divonis-7-tahun-penjara-imam-nahrawi-berencana-banding-1aY1Op2evf.jpg Imam Nahrowi (foto: Sindo)

JAKARTA - Mantan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Imam Nahrawi divonis tujuh tahun penjara oleh Majelis Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta. Nahrawi juga diganjar denda sebesar Rp400 juta subsidair tiga bulan kurungan.

Tim penasihat hukum Imam Nahrawi, Wa Ode Nur Zainab mengatakan bahwa kliennya merasa kecewa atas vonis tersebut. Kata Wa Ode, Imam Nahrawi memberi isyarat akan menempuh upaya hukum lainnya yakni banding terkait vonis hakim tersebut.

"Semalam setelah pembacaan putusan saya menyempatkan diri ke KPK ke gedung C1 dimana ada Pak Imam, beliau di sana mengikuti persidangan secara online. Pertama beliau, minta kami penasehat hukum untuk terus berjuang bersama bagaimana pun, apa yang didakwakan, dituntut dan divonis oleh majelis hakim itu tidak sesuai dengan fakta persidangan dan memberikan isyarat hukum," kata Wa Ode, Selasa (30/6/2020).

 Baca juga: Imam Nahrawi Divonis 7 Tahun Penjara

Wa Ode mengklaim bahwa fakta persidangan tidak ada saksi yang menyebut kliennya menerima uang, atau melakukan komunikasi terkait dengan proposal dana hibah Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI). Wa Ode menilai dalam pertimbangan majelis hakim tidak ada pemberian kepada kliennya.

"Jadi tidak ada fakta hukum di persidangan, hanya ada bukti petunjuk kata majelis hakim. Bukti petunjuk itu harusnya diperoleh dari fakta saksi, fakta surat misalnya. Kalau dari alat bukti 184 KUHAP itu namanya bukti petunjuk itu berada pada level terbawah. Jadi nggak mungkin kemudian orang di hukum karena petunjuk," beber Wa Ode.

 Baca juga: Hak Politik Imam Nahrawi Dicabut Selama 4 Tahun

"Pada pertimbangan hukum dalam putusan Majelis Hakim yang dibacakan kemarin, beberapa kali dinyatakan oleh Majelis Hakim bahwa tidak ada fakta yang menyebutkan ada pemberian uang ke Terdakwa (Imam Nahrawi)," sambungnya.

Kendati demikian, Wa Ode belum bisa memberikan kepastian soal upaya hukum yang akan ditempuh oleh kliennya tersebut. Dia menilai, putusan Majelis Hakim hanya berdasarkan persepsi, asumsi dan bukan berdasarkan fakta hukum.

"Tapi kan ini masih berproses selama tujuh hari. Tapi kemungkinan-kemungkinan akan ke sana (banding), karena beliau sampaikan pokoknya kita terus berjuang," tukasnya.

Sebelumnya, Majelis Hakim berpandangan bahwa, Imam Nahrawi terbukti bersalah melakukan tindak pidana praktik korupsi atas kasus dugaan suap dan gratifikasi terkait percepatan proses persetujuan dan pencairan bantuan dana hibah untuk Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI).

Selain kurungan penjara, Imam juga diwajibkan untuk membayar uang pengganti sehanyak Rp18.154.238,882. Jika tidak dibayarkan, maka harta benda milik Imam Nahrawi akan disita dan dilelang untuk menutupi uang pengganti tersebut.

Jika harta benda Imam Nahrawi belum juga cukup untuk membayar uang pengganti, maka akan dikenakan pidana penjara selama 2 tahun. Tak hanya itu, Hakim juga mencabut hak politik Imam Nahrawi selama 4 tahun usai menjalani masa pidana penjara.

(wal)

Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini