Jejak Ustadz Hilmi di Partai Dakwah

Puteranegara Batubara, Okezone · Selasa 30 Juni 2020 18:57 WIB
https: img.okeinfo.net content 2020 06 30 337 2239029 jejak-ustadz-hilmi-di-partai-dakwah-T3I7Ala5IG.jpg foto: Okezone

JAKARTA - Berita duka datang dari keluarga besar Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Pasalnya, Hilmi Aminuddin yang merupakan pendiri partai tersebut meninggal dunia, pada hari ini.

Hilmi Aminuddin meninggal dunia di Rumah Sakit Santosa Central, Bandung, Jawa Barat. Rencananya, Ia akan dimakamkan di pemakaman keluarga di Lembang, Jawa Barat.

Dikutip berbagai sumber, Ustadz Hilmi juga merupakan pendiri gerakan dakwah atau yang diera 1980-1990-an dikenal dengan sebutan harakah tarbiyah.

Dia adalah putra Danu Muhammad Hasan, satu dari tiga tokoh penting Darul Islam atau Tentara Islam Indonesia pimpinan Kartosoewirjo.

Pada usia enam tahun, Hilmi memulai pendidikannya dengan mendaftar di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur. Selulusnya dari sana, dia berkelana ke sejumlah pesantren di Jawa.

Kemudian, di tahun 1973, Hilmi memutuskan untuk berangkat ke Arab Saudi dan belajar di Fakultas Syariah Universitas Islam di Madinah. Selama enam tahun menuntut ilmu di universitas tersebut, Hilmi kerap berkumpul dengan Yusuf Supendi yang juga merupakan tokoh perintis PKS. Kala itu Yusuf sedang berkuliah di Universitas Imam Muhammad Ibnu Saud, Riyadh.

Selanjutnya, Hilmi pulang ke Indonesia setelah lulus kuliah pad tahun 1978. Sesampainya di Indonesia, Ia memulai kariernya dengan berdakwah.

Namun karena Hilmi tidak memiliki Pondok Pesantren seperti kebanyakan ulama di Indonesia saat itu, Hilmi pun berdakwah dari masjid ke masjid, atau dari satu kelompok pengajian ke kelompok pengajian lainnya.

Pada tahun 1998, Hilmi bersama beberapa rekannya mendirikan Partai Keadilan dan pada tahun 2002, partai tersebut berganti nama menjadi Partai Keadilan Sejahtera agar bisa ikut pemilihan umum dua tahun berikutnya.

Karena baru didirikan dan hanya mendapatkan 7 kursi di parlemen, atau 1,5 persen maka peranan PKS saat itu belum begitu kelihatan dan lebih fokus ke dalam partai.

Pada tahun 2005, Hilmi ditunjuk menggantikan Rahmat Abdullah yang meninggal dunia untuk menjadi Musyawarah Majelis Syuro I yang merupakan lembaga tertinggi di PKS. Saat itu, Hilmi Aminuddin terpilih melalui mekanisme voting tertutup dengan mendapatkan 29 suara dari 50 anggota Majelis Syuro.

Dia mengungguli tiga calon lainnya yakni Salim Segaf Al Jufri (12 suara), Surahman Hidayat (8 suara) dan Abdul Hasib Hasan(1 suara).

Pada tahun 2010, Hilmi Aminuddin kembali terpilih menjadi ketua Majelis Syuro dalam Pemilihan Raya (Pemira) Majelis Syuro PKS. Mekanisme Pemira untuk memilih angota majelis syuro yang baru ini selayaknya pemilu. Jumlah anggota MS yang dipilih ada 99 orang.

Dalam pemira ini, PKS telah membentuk panitia prapemira yang akan menyeleksi sekitar 1.000 anggota ahli PKS menjadi 195 calon nama. Penyeleksian tersebut berdasarkan syarat yang telah ditetapkan oleh AD/ART. Dari 195 nama ini akan dipilih 65 nama terbanyak.

Setelah diambil sumpahnya, mereka yang terpilih ini akan menunjuk 32 nama sebagai anggota ahli majelis syuro. Sedangkan dua anggota lainnya adalah anggota tetap majelis syuro yaitu Hilmi Aminuddin dan Salim Segaf Al Jufri.

Kini, sosok Ustadz Hilmi telah tiada. Selamat jalan, semua jasa dan kenanganmu akan selalu disimpan sepanjang masa.

1
2
Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini