Kementerian Diminta Prioritaskan Karya Anak Bangsa dalam Penggunaan Aplikasi

Puteranegara Batubara, Okezone · Selasa 30 Juni 2020 14:49 WIB
https: img.okeinfo.net content 2020 06 30 337 2238836 kemendibud-diminta-prioritaskan-karya-anak-bangsa-dalam-penggunaan-aplikasi-ASfrJj0fLY.jpg Foto: Reuters

JAKARTA –Kementerian diminta untuk memprioritaskan karya anak bangsa atau dalam negeri dalam penggunaan aplikasi yang berbasis internet untuk memberikan informasi-informasi edukatif, berupa pendidikan, sejarah, ataupun budaya kepada masyarakat. "Kementerian, Lembaga, atau Perusahaan di Indonesia seharusnya turut berperan serta dalam mendukung penggunaan karya anak bangsa berupa aplikasi yang bisa mengakses informasi di internet. Kalau bisa diberi bantuan dana untuk riset dan pengembangan aplikasi itu," kata Pengamat Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) Ronny saat dikonfirmasi Okezone, Jakarta, Selasa (30/6/2020).

Ronny menyebut, karya anak bangsa dalam membuat aplikasi juga tidak kalah dengan perusahaan asing ternama, semisal Google. Sebab itu, harus ada bentuk dukungan dari kementerian dan lembaga dalam memanfaatkan potensi dalam negeri.

"Saya memandang positif jika banyak anak bangsa yang bisa menghasilkan karya katakanlah sekelas Google atau mungkin melebihinya, artinya Sumber Daya Manusia kita di Indonesia tidak kalah kalau soal kemampuan pemrograman menghasilkan berbagai aplikasi," papar Ronny.

Salah satu keuntungan dalam memakai produk dalam negeri, kata Ronny, jika banyak anak bangsa yang bisa menghasilkan karya berupa aplikasi untu mengakses informasi maka bisa mengendalikan aksea informasi.

Pasalnya, informasi yang bisa diakses oleh masyarakat dapat disaring atau difilter. Lalu, apabila ada konten yang dilarang, bisa segera dapat diblok aksesnya, misalnya, informasi ujaran kebencian berdasarkan SARA, pornografi, perjudian, dan sebagainya.

"Sehingga aplikasi karya anak bangsa yang bisa mengakses informasi di internet itu membantu pemerintah untuk mencegah akses informasi yang dilarang, sebagaimana dimaksudkan dalam UU No. 19 tahu 2016 perubahan UU No. 11 Tahun 2008 ttg Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)," tutur Ronny.

Selain itu, menurut Ronny, karya anak bangsa yang membuat aplikasi untuk membantu masyarakat dalam mengakses informasi di Internet dapat bermanfaat terutama bagi pebisnis, peneliti, dan kepentingan lain.

"Karena dengan adanya informasi yang bisa diperoleh maka bisa membantu para pebisnis dalam membuat keputusan bisnis, bisa membantu pengumpulan data para peneliti, dan kepentingan lainnya," ucap Ronny.

Di sisi lain, Ronny mengingatkan, dalam aplikasi tetap harus memperhatikan soal mengakses informasi apapun di Internet, harus sesuai dan tunduk dengan payung hukum yang berlaku.

"Di Indonesia, kita sudah punya UU ITE (Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik), jika sebuah aplikasi dirancang dengan maksud melakukan perbuatan dilarang dalam UU ITE tersebut, maka si pembuat aplikasi itu dapat dikenai ancaman pidana cukup berat sebagaimana dimaksudkan dalam Pasal 34 UU No. 19 tahun 2016 perubahan UU No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)," tutup Ronny.

Sebelumnya, Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemendikbud menggandeng asing dalam hal ini Google untuk melaksanakan program Google Arts Project yang dilakukan oleh Museum Nasional Indonesia.

Kemendikbud juga menggandeng Netflix untuk menyajikan film dokumenter selama pelaksanaan belajar dari rumah. Hal ini menjadi perhatian media massa dan juga masyarakat.

(fmi)

Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini