Waspada, Kemenkes Temukan 68.000 Kasus DBD

SINDO, · Selasa 23 Juni 2020 19:29 WIB
https: img.okezone.com content 2020 06 23 337 2235174 waspada-kemenkes-temukan-68-000-kasus-dbd-kvHSbQ9Vj0.jpg Ilustrasi. Foto: Istimewa

JAKARTA – Virus corona (Covid-19) bukan satu-satunya penyakit yang mesti diwaspadai saat ini, sebab DBD juga mengintai masyarakat. Oleh karena itu setiap warga sebaiknya menaruh perhatian guna menghindari penyakit tersebut.

Sebagai gambaran situasi terkini, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) telah menemukan 68.000 kasus DBD hingga 22 Juni 2020.

“Sampai saat ini masih menemukan kasus antara 100 sampai dengan 500 kasus per hari. Total sudah ada 68.000 kasus DBD di seluruh Indonesia,” kata ujar Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Kemenkes, dr. Siti Nadia Tarmizi sebagaimana dikutip dari Koran Sindo.

Dia mengatakan, angka kematian yang disebabkan oleh DBD mencapai 346 kasus. “Jawa Barat (Jabar), Jawa Tengah, dan Jawa Timur merupakan daerah dengan kasus kematian yang tinggi,” ungkapnya.

Dari catatan Kemenkes ada 10 provinsi dengan sebaran kasus DBD tertinggi di Tanah Air. Yakni Jawa Barat 10.594 kasus, Bali 8.930 kasus, NTT 5.432 kasus, Jawa Timur 5.104 kasus, Lampung 4.983 kasus, NTB 3.796 kasus, DKI Jakarta 3.628 kasus, Jawa Tengah 2.846 kasus, Riau 2.143 kasus, dan Sulawesi Selatan 2.100 kasus.

Nadia mengatakan di tengah pandemi Covid-19 saat ini, ada tantangan untuk pengendalian DBD. Pertama karena kegiatan jumantik atau juru pemantau jentik menjadi tidak optimal karena ada kebijakan social distancing. Kedua, kebijakan untuk beraktivitas di rumah membuat bangunan-bangunan salah satunya hotel yang kurang dihuni sehingga banyak sarang nyamuk.

“Kita melaksanakan kebijakan kerja dan belajar dari rumah otomatis selama tiga bulan yang lalu gedung-gedung banyak sekali yang ditinggal. Termasuk mushola dan tempat-tempat ibadah,” paparnya.

Baca Juga: 57 Warga Bangli Terjangkit DBD 

Nadia mengatakan, karena masyarakat banyak berada di rumah, adalah penting untuk melakukan pemberantasan sarang nyamuk di rumah secara mandiri. “Kalau kita lihat di hotel terutama di Bali itu kasus DBD untuk kabupaten/kota adalah 3 terbesar dan NTB juga 3 terbesar," katanya. Hal itu diduga karena sudah terlalu lama aktivitas wisata berhenti.

Dia mengatakan pencegahan penularan DBD paling sederhana dilakukan dengan pemberantasan sarang nyamuk yakni Menutup, Menguras, dan Mendaur ulang barang-barang yang sudah tidak digunakan di rumah.

Ahli Infeksi dan Pediatri Tropik Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, dr. Mulya Rahma Karyanti mengingatkan tujuh tanda bahaya demam berdarah dengue (DBD) di tengah pandemi Covid-19.

Meskipun DBD dan Covid-19 penyebarannya sama-sama berasal dari virus. Namun, Karyanti mengatakan virus DBD ditularkan oleh nyamuk Aedes Aegypti yang disertai dengan keluhan yang berbeda. “Untuk kasus DBD perjalannya memang satu minggu penyebabnya virusnya,” katanya .

Baca Juga: Kasus DBD di Kota Tasikmalaya Meningkat, 11 Orang Meninggal 

Masyarakat harus cermat dan mengetahui bahwa gejala DBD dan Covid-19 berbeda. “Tidak seperti Covid yang lebih ke sistem pernapasan atas. DBD lebih mengarah ke demam dan perdarahan kulit. Juga mimisan, gusi berdarah atau memar itu harus diwaspadai,” tegasnya.

Selain itu, DBD biasanya keluhannya demam tinggi mendadak kadang disertai dengan muka merah dan nyeri kepala, nyeri di belakang mata, muntah-muntah dan bisa disertai dengan perdarahan. “Itu yang tidak ada pada Covid. Perdarahan spontan, mimisan, gusi berdarah atau timbul bintik-bintik merah di kulit,” kata Karyanti.

Karyanti mengatakan ada tujuh tanda penting untuk mengetahui tingkat paling bahaya dari DBD. Di hari ketiga timbul seperti sakit perut, atau perut terasa nyeri, lemas, perdarahan spontan, ada pembesaran hati, ada penumpukan cairan, dan dari pemeriksaan laboratorium biasanya ada peningkatan hematokrit.

“Trombosit yang turun di bawah 100 ribu berarti sudah dalam fase bahaya,” jelasnya. Pada hari ketiga berpotensi terjadi kebocoran dari pembuluh darah.

Kebocoran pembuluh darah ini mengakibatkan aliran darah ke otak berkurang. Sehingga, pasien DBD akan lemas dan tidur terus seharian. Asupan makanan, minuman pun menjadi sulit sehingga penderita mengalami dehidrasi dan tidak buang air kecil lebih dari 46 jam.

“Itu tanda-tanda bahaya yang harus diwaspadai. Jika ada keluarga yang ada timbul gejala sepeti itu segera bawa ke rumah sakit,” jelas Karyanti.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini