Remisi M. Nazaruddin Dinilai Bertentangan dengan UU, Menkumham Harus Dievaluasi

Puteranegara Batubara, Okezone · Kamis 18 Juni 2020 11:39 WIB
https: img.okezone.com content 2020 06 18 337 2232111 remisi-m-nazaruddin-bertentangan-dengan-uu-menkumham-harus-dievaluasi-PDeG8NoT4M.jpg M.Nazaruddin dinyatakan bebas oleh Menkumham setelah mendapat remisi (foto: Okezone)

JAKARTA - Indonesia Corruption Watch (ICW) mengecam pemberian remisi kepada terpidana kasus korupsi Muhammad Nazaruddin. Eks Bendahara Umum Partai Demokrat itu kini menghirup udara bebas lantaran mendapatkan program cuti menjelang bebas sejak tanggal 14 Juni yang lalu.

Peneliti ICW Kurnia Ramadhana mengungkapkan, pemberian remisi terhadap Nazaruddin telah bertentangan dengan peraturan perundang-undangan Pasal 34 A ayat (1) huruf a Peraturan Pemerintah Nomor 99 Tahun 2012 (PP 99/2012)

"Secara tegas menyebutkan bahwa syarat terpidana kasus korupsi untuk mendapatkan remisi diantaranya adalah bersedia bekerjasama dengan penegak hukum untuk membantu membongkar perkara tindak pidana yang dilakukannya (justice collaborator, JC). Sedangkan menurut KPK, Nazaruddin sendiri tidak pernah mendapatkan status sebagai JC," papar Kurnia kepada Okezone, Jakarta, Rabu (17/6/2020).

Dengan demikian, pemberian remisi kepada Nazaruddin ini semakin menguatkan indikasi bahwa Kemenkumham tidak berpihak pada isu pemberantasan korupsi dengan mengabaikan aspek penjeraan bagi pelaku kejahatan.

Sebab, kata Ia, berdasarkan putusan dua perkara korupsi yang menjerat Nazaruddin, seharusnya terpidana ini baru dapat menghirup udara bebas pada tahun 2024 atau setelah menjalani masa pemidanaan 13 tahun penjara. Dengan model pemberian semacam ini, maka ke depan pelaku kejahatan korupsi tidak akan pernah mendapatkan efek jera.

"Keputusan Kemenkumham untuk memberikan remisi pada Nazaruddin seakan telah mengabaikan kerja keras penegak hukum dalam membongkar praktik korupsi. Terlebih lagi, kasus Wisma Atlet yang menjerat Nazaruddin ini memiliki dampak kerugian negara yang besar, yakni mencapai Rp 54,7 miliar. Tak hanya itu, Nazaruddin juga dikenakan Pasal suap karena terbukti menerima dana sebesar Rp 4,6 miliar dari PT Duta Graha Indah. Bahkan aset yang dimilikinya sebesar Rp500 miliar pun turut dirampas karena diduga diperoleh dari praktik korupsi," papar Kurnia.

Tak hanya itu, menurut Kurnia, pada akhir tahun 2019 Ombudsman sempat menemukan ruangan yang ditempati Nazaruddin di Lapas Sukamiskin lebih luas dibanding sel terpidana lainnya.

"Tentu jika temuan ini benar, maka semestinya Kemenkumham tidak dapat memberikan penilaian berlakuan baik pada Nazaruddin sebagaimana disinggung dalam Pasal 34 ayat (2) huruf a PP 99/2012. Ditambah lagi poin berlakuan baik tersebut merupakan salah satu syarat wajib untuk mendapatkan remisi," papar Kurnia.

Oleh sebab itu, ICW menuntut agar, Menteri Hukum dan HAM segera menganulir keputusan cuti menjelang bebas atas terpidana Muhammad Nazaruddin. "Presiden Joko Widodo juga harus mengevaluasi kinerja Menteri Hukum dan HAM karena telah abai dalam mengeluarkan keputusan," tutup Kurnia.

(amr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini