Share

Mantan Dirut PTPN III Dieksekusi ke Lapas Sukamiskin

Harits Tryan Akhmad, Okezone · Kamis 18 Juni 2020 08:58 WIB
https: img.okezone.com content 2020 06 18 337 2232023 mantan-dirut-ptpn-iii-dieksekusi-ke-lapas-sukamiskin-zMWg0AfYzs.jpg Plt Juru Bicara KPK, Ali Fikri. (Foto : Okezone.com/Arie Dwi Satrio)

JAKARTA – Mantan Direktur Utama (Dirut) PT Perkebenunan Nusantara (PTPN) III (Persero), Dolly Parlagutan Pulungan, dieksekusi ke Lapas Sukamiskin, Bandung, Jawa Barat.

Pelaksana Tugas (Plt) Juru Bicara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Ali Fikri mengatakan, dijebloskannya Dolly ke Lapas Sukamiskin sesuai putusan Pengadilan Tindak Pindana Korupsi (Tipikor) Jakarta Pusat No 3/Pid.Sus-Tpk/20202/PN. JKT. Pst, pada 3 Juni 2020.

Ali mengungkapkan, putusan tersebut telah berkekuatan hukum tetap. Kemudian Dolly juga dinyatakan bersalah lantaran telah melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-sama menerima suap dari PT Fajar Mulia Transindo.

β€œAtas pelaksanaan putusan tersebut, terpidana Dolly Parlagutan Pulungan selanjutnya di bawa ke Lapas Sukamiskin Bandung untuk melaksanakan pidana badan selama 5 tahun dikurangi selama menjalani masa tahanan,” kata Ali kepada wartawan, Kamis (18/6/2029).

Mantan Direktur PTPN III (Persero) Dolly Pargalutan Pulungan saat disidang di PN Tipikor Jakarta. (Foto : Okezone/Arie Dwi Satrio)

Sebagaimana diketahui, Dolly Parlagutan Pulungan divonis 5 tahun penjara oleh Majelis Hakim Pengadilan Tipikor Jakarta. Dolly juga diganjar untuk membayar denda Rp300 juta subsidair tiga bulan kurungan.

Majelis hakim meyakini, Dolly terbukti melakukan pidana sesuai dengan dakwaan alternatif pertama. Dakwaan alternatif pertama itu yakni menerima suap dari Dirut PT Fajar Mulia Transindo, Pieko Nyotosetiadi, sebesar SGD 345 ribu atau sekira Rp3,55 miliar.

"Mengadili, menyatakan terdakwa Dolly Parlagutan Pulungan terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana korupsi," ujar Ketua Majelis Hakim, Muhammad Siradj saat membacakan amar putusan di Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat, Rabu (3/6/2020) malam.

Uang suap dari Pieko Nyotosetiadi diterima Dolly melalui Direktur Pemasaran PTPN III, I Kadek Kertha Laksana. I Kadek diduga sebagai pihak perantara yang memberikan uang suap itu.

Uang tersebut diberikan karena Dolly telah memberikan persetujuan Long Term Contract (LTC) atau kontrak jangka panjang kepada Pieko, dan advisor (penasihat) PT Citra Gemini Mulia, atas pembelian gula kristal putih yang diproduksi petani gula dan PTPN seluruh Indonesia.

Adapun, dalam menjatuhkan hukuman, Majelis Hakim mempertimbangkan hal-hal yang memberatkan dan meringankan. Untuk hal yang memberatkan, perbuatan Dolly dianggap tidak mendukung upaya pemerintah dalam upaya pemberantasan korupsi. Sedangkan hal yang meringankan, terdakwa belum pernah dihukum dan mengakui kesalahannya.

Atas perbuatannya, Majelis hakim meyakini perbuatan Dolly telah memenuhi unsur pasal 12 huruf b UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas UU 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Sementara itu, I Kadek Kertha Laksana dihukum empat tahun penjara. Kadek juga divonis denda Rp 200 juta subsider dua bulan kurungan Majelis Hakim Pengadilan Tipikor Jakarta.

Majelis hakim meyakini jika Kadek terbukti terlibat suap terkait distribusi gula di PTPN III. Kadek diyakini menjadi perantara suap dari Pieko untuk Dolly.

Baca Juga : Pengusaha Penyuap Eks Dirut PTPN III Dijebloskan ke Lapas Cipinang

Majelis hakim meyakini perbuatan Kadek itu melanggar pasal 12 huruf b UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas UU 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Baca Juga : Eks Dirut PTPN III Didakwa Terima Suap Rp3,55 Miliar

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini