Pramono Edhie Wibowo: Janggal Jadi Ipar SBY hingga Peristiwa Cebongan

Fahmi Firdaus , Okezone · Minggu 14 Juni 2020 05:26 WIB
https: img.okezone.com content 2020 06 14 337 2229682 pramono-edhie-wibowo-janggal-jadi-ipar-sby-hingga-peristiwa-cebongan-AK42XuPFqj.jpg Foto: Okezone

JAKARTA - Mantan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI (Purn) Pramono Edhie Wibowo tutup usia. Adik kandung Ani Yudhoyono ini menghembuskan nafas terakhir, di Rumah Sakit Cimacan, Cipanas, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat karena serangan jantung. Rencananya, hari ini Minggu (14/6) jenazah akan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta Selatan.

Jenderal bintang empat yang banyak menghabiskan karirnya di Kopassus ini mempunyai segudang prestasi. Salah satu yang menonjol adalah modernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista) TNI AD. Okezone pun kembali merangkum kembali perjalanan putra Sarwo Edhie Wibowo tersebut dari beragam sumber.

Penunjukan Pramono Edhie Wibowo sebagai Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD), oleh Presiden Susilo Bambang Yudoyono (SBY) sempat menjadi pemberitaan hangat di media kala itu. Lantaran dia adalah adik kandung Ibu Negara Ani Yudoyono. Beragam komentar pun menghampiri mantan Danjen Kopassus tersebut.

(Baca juga: TNI AD Semakin Garang di Tangan Jenderal Pramono Edhie)

Pramono Edhie pun menjawab tudingan nepotisme tersebut dengan santai namun tegas.

"Kalau saudara, memang saya adiknya Ibu Ani sejak lahir. Salahnya kan begitu, sebelum Pak SBY menikah dengan Ibu Ani. Setelah Pak SBY menikah dengan Ibu Ani, memang saya adik iparnya. Tapi kalau nepotisme, saya serahkan penilaian kepada atasan saya, Panglima TNI, KSAD Pak George Toisutta, jadi itu ada mekanismenya sendiri," ucapnya di Istana Negara, Jalan Veteran, Jakarta Pusat, Kamis, 3 Juni 2011 silam.

Dia mengaku hal tersebut tidak menjadi beban. Karena sebagai seorang prajurit, dirinya dituntut untuk bekerja secara profesional. "Oh, jangan menjadikan itu beban. Jadi harus lebih baik lagi," tandasnya.

Peristiwa Lapas Cebongan

Penyerangan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Cebongan, Sleman, DIY, pada Sabtu 23 Maret 2013, membuat gempar. Dalam peristiwa tersebut, empat orang tahanan tewas ditembak. Keempatnya adalah Yohanes Juan Manbait, Gamaliel Yermiyanto Rohi Riwu, Adrianus Candra Galaja, dan Hendrik Benyamin Sahetapy Engel. Mereka ditahan terkait kasus pengeroyokan terhadap Serka Heru Santoso di Hugo's Cafe, Yogyakarta.

Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Pramono Edhie Wibowo pun mengumumkan, 11 Prajurit Komando Pasukan Khusus (Kopassus) yang terlibat penyerangan Lembaga Pemasyarakatan (LP) kelas IIB Cebongan Sleman, Yogyakarta.

Pengadilan Militer II-11 Yogyakarta juga telah menjatuhkan vonis kepada terdakwa kasus penyerangan Lembaga Pemasyarakatan Kelas II B Cebongan.

Diantaranya, Serda Ucok Tigor Simbolon yang divonis 11 tahun penjara dan hukuman tambahan, yaitu dipecat serta membayar biaya persidangan. Rekan Ucok, Serda Sugeng Sumaryanto dikenai kurungan delapan tahun dan hukuman tambahan, yaitu dipecat dan dikenai biaya persidangan. Untuk Koptu Kodik dikenai enam tahun penjara, serta dipecat dan dikenai biaya persidangan.

(fmi)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini