Kisah Inspirasi Prajurit Tiga Zaman Gatot Soebroto Jadi Teladan Gatot Nurmantyo

Harits Tryan Akhmad, Okezone · Kamis 11 Juni 2020 09:52 WIB
https: img.okezone.com content 2020 06 11 337 2228050 kisah-inspirasi-prajurit-tiga-zaman-gatot-soebroto-jadi-teladan-gatot-nurmantyo-76Etnz1TAL.jpg Foto: Okezone

JAKARTA – Jenderal Gatot Soebroto adalah tokoh perjuangan militer Indonesia dalam merebut kemerdekaan dan juga pahlawan nasional Indonesia. Alhasil namanya pun selalu dikenang dan bahkan diabadikan sebagai salah satu nama jalan protokol utama di Jakarta.

(Baca juga: Gatot Soebroto: Perintahkan Eksekusi Amir Sjarifuddin hingga Pasang Badan untuk Soeharto)

Sosok Gatot Soebroto dikenal sebagai seorang yang pemberani, tegas, dan pantang akan kesewenang-wenangan. Jenderal Gatot juga sering disebut sebagai tentara tiga zaman.

Gatot dilahirkan di Banyumas, Jawa Tengah, sebagai putra pertama keluarga Sajid Joedojoewono pada 10 Oktober 1907. Dia tutup usia pada 11 Juni 58 tahun silam tepatnya pada 1962, secara mendadak karena serangan jantung.

Seminggu setelah ia dimakamkan di Desa Mulyoharjo, Ungaran, Yogyakarta, gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional menurut Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No.283 tanggal 18 Juni 1962 disematkan kepadanya.

Setamat pendidikan dasar di Hollandsch-Inlandsche School (HIS), Gatot Subroto tidak melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, tetapi memilih menjadi pegawai. Namun tak lama kemudian pada tahun 1923 memasuki sekolah militer het Koninklijke Nederlands(ch)-Indische Leger (KNIL) di Magelang.

Setalah lulus dari sekolah militer di Magelang, Gatot menjadi anggota KNIL (Tentara Hindia Belanda) hingga akhir kependudukan Belanda di Indonesia. Ia dikenal sebagai tentara yang solider terhadap rakyat kecil meski tengah bekerja sebagai tentara kependudukan Belanda dan Jepang.

Ia dianggap contoh seorang pemimpin yang layak diapresiasi berkat jasa-jasanya. Dengan bergabung dengan KNIL membuat Gatot Soebroto paham dan mengerti bagaimana seorang tentara harus bertindak.

ist

Kemudian pasca-Jepang menduduki Indonesia, serta merta Gatot Soeboroto pun mengikuti pendidikan Pembela Tanah Air (PETA) dan setelah lulus dari PETA ia memilih menjadi TKR (Tentara Keamanan Rakyat) setelah kemerdekaan Indonesia.

Tentara Keamanan Rakyat (TKR) merupakan adalah latar belakang dari nama Tentara Nasional Indonesia yang ada kini.

TKR yang dipimpin oleh Kolonel Sudirman di mana saat itu Gatot Soebroto menjabat sebagai Kepala Siasat dan berganti menjadi Komandan Divisi dengan pangkat Kolonel setelah prestasinya yang dianggap gemilang dalam pertempuran Ambarawa.

Pada tahun 1948 terdapat Peristiwa Madiun atau Madiun Affairs yang melibatkan pihak Partai Komunis Indonesia (PKI) dan Tentara Nasional Indonesia. Pemberontakan tersebut berada di wilayah Madiun, Jawa Timur, yang kemudian berakhir diatasi dengan baik oleh TKR di bawah pimpinan Gatot Subroto.

Saat melawan PKI, Gatot Subroto melancarkan operasi militer agar dapat memulihkan keamanan. Di sebelah barat, Gatot yang diangkat menjadi Gubernur Militer Wilayah II (Semarang-Surakarta) tanggal 15 September 1948, serta pasukan dari Divisi Siliwangi, sedangkan dari timur diserang oleh pasukan dari Divisi I, di bawah pimpinan Kolonel Soengkono, yang diangkat menjadi Gubernur Militer Jawa Timur, tanggal 19 September 1948, serta pasukan Mobil Brigade Besar (MBB) Jawa Timur, di bawah pimpinan M. Yasin.

Perjalanan karier militernya, Gatot pernah menduduki posisi strategis di militer yakni Wakil Kepala Staff Angkatan Darat (1953), kemudian sebagai Gubernur Militer Daerah Surakarata dan sekitarnya (1945-1950), lalu Panglima Corps. Polisi Militer (1945-1950), Panglima divisi II (1945-1950), Komandan Batalyon, dan Komandan Kompi, Sumpyuh, Banyumas.

Sosok Gatot Soebroto sendiri mempunyai hubungan dekat dengan Panglima Besar Jendral Soedirman. Soedirman menganggap Gatot sebagai kakak, walaupun pangkat Gatot lebih rendah.

Setelah Perjanjian Roem-Royen ditandatangani, pemerintah Republik Indonesia pun kembali ke Yogyakarta. Namun jenderal Soedirman masih bergerilya memimon anak buahnya ke Yogya, dan hanya Gatot Soebroto lah yang berhasil melemahkan pendirian Panglima Besar itu. Hingga akhirnya pada pada tanggal 10 Juli 1949 Jenderal Soedirman kembali ke Yogya.

Selain dikenang sebagai tokoh perjuangan militer Indonesia dalam merebut kemerdekaan dan juga pahlawan nasional Indonesia, sosok Gatot Soebroto menginsipirasi masyarakat Indonesia.

Bahkan Mantan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo, disebut-sebut terinspirasi dari nama Jendral Gatot Soebroto. Ya rupanya ayah Gatot Nurmantyo sangat mengidolakan Jenderal Gatot Soebroto, pejuang kemerdekaan dan salah satu komandan legendaris di tubuh TNI AD.

Karena itu sang ayah memberi nama Gatot Nurmantyo. Harapan dan doa ayahnya, Gatot Nurmantyo bisa seperti Jenderal Gatot Soebroto. Hal itu ditulis dalam Buku Gelora Jenderal Gatot Nurmantyo memimpin TNI, terbitan Pusat Penerangan TNI tahun 2016.

Ia adalah penggagas perlunya sebuah akademi militer gabungan (Angkatan Darat, Angkatan Udara, Angkatan Laut) untuk membina para perwira muda. Gagasan tersebut diwujudkan dengan pembentukan Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia pada tahun 1965.

(fmi)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini